take it easy, so life will be
13 March 2010
hypnotized
23 August 2009
Unique!
* * *
01 July 2009
Memutar Sekrup
'Memutar sekrup'
Mungkin itu salah satu istilah dari sedikit sekali hal yang bisa gw dapet dalam novel "Norwegian Wood" karya Haruki Murakami.
Setelah sekian lama menghabiskan waktu untuk membaca novel ini, akhirnya gw menamatkannya juga. Duh, maaf banget buat sepupu gw yang bukunya jadi terpinjam lamaaaaa banget sama gue. Ehehe, kayaknya dari gw jaman SMA kelas 3 lalu, deh.
Awal penasaran dengan novel ini adalah sekitar 3 tahun lalu, gw bersama Tammi pergi ke perpustakaan Japan Foundation, dan menemukan novel tersebut. Saat itu, di perpus JF memiliki novel Norwegian Wood versi English.

Segera aja si Tammi bilang : "Haruki Murakami bagus, Fik. Baca, deh, ini. Bagus"
(intinya si Tammi merekomendasikan novel yang menurutnya bagus ini)
Okeh, dengan segera novel tersebut menjadi salah satu buruan gw. Gw nggak mungkin baca bahasa Inggrisnya, belum kuat, ntar bisa2 gw salah kaprah sama bahasa Inggrisnya. Selang 1-2 tahun, barulah gw menemukan novel ini dalam terbitan Indonesia di kamar seorang sepupu gw di Bandung.

Di atas itu cover versi Indonesianya, terbitan KPG. Nanya sepupu gw "Bagus nggak, mbak?"
Katanya "Bagus"
Okeh. Makin penasaran baca.
Berbulan2, hampir setahun lebih, gw menyempatkan diri membaca, nyari waktu, dan sampai akhirnya tamat, all I can get from this novel is... what a prevert novel.
Yuc.
Terserah orang mau bilang apa, emang, sih, hampir tiap novel luar itu pasti ada bagian 'dewasa'nya, yaah... sama kayak film-lah. Tapi nggak se-GILA novel ini! Hah, bahkan menurut gw Sidney Sheldon masih mending menuliskan adegan 'adult'nya. Tapi ini...? Ai aiih...
"Aku tidak memutar sekrup hari ini..." -Toru Watanabe, Norwegian Wood-
Istilah 'memutar sekrup' gw interpretasikan sebagai kondisi di mana kita melakukan aktivitas yang berguna, at least... menurut sudut pandang kita. Kayak gw, yang selama liburan (yah, ada semester pendek, sih. Tapi cuma 2x seminggu, sisanya nganggur parah) kalo kerjaannya cuma tidur, makan, nonton TV, menurut gw saat itu gw sedang nggak memutar sekrup. Tapi, dengan kuliah, blogging, ngetik, masak, beres2 rumah, itu sudah bentuk memutar sekrup ala gw.
Hah... dan akhir2 ini gw merasa harus selalu memutar sekrup. Seperti ada rasa bersalah kalau nggak melakukan apa-apa sama sekali. Rasa bersalah sama diri sendiri, sama body-mind-soul gw, ahahaha.
Membaca novel ini, melihat tokoh2nya yang punya pemikiran 'tidak biasa' (kalau nggak mau dibilang abnormal), gw merasa bahwa di dunia ini, adaa aja orang-orang yang memang tenggelam dalam pemikiran mereka sendiri. Mereka memandang dunia dengan sinis, lebih memilih menciptakan dunia dalam pikiran sendiri, kemudian menganaktirikan kenyataan.
Well, I didn't say that it's bad thing. Gw sendiri merasa memiliki momen2 di mana gw hanya lebih memilih untuk tenggelam ke dunia sendiri, tapi gw tidak menganaktirikan kenyataan. Yah, setidaknya sejauh yang gw rasa, sih, begitu.
I think reality is something great, in good or bad way. Gw cukup mengingat bahwa banyak hal menyenangkan yang gw alami, dan itu nyata. Kenyataan tersebut cukup untuk membuat gw berpikir lebih optimis terhadap kehidupan. Yah, sejauh yang gw rasa. Hehe :p
Walopun begitu, memang tidak bisa ditolak juga keberadaan 'dunia milik sendiri' tersebut. Mereka hanya butuh ruang, mereka tidak menginginkan untuk didengarkan, diperhatikan, hanya butuh disadari keberadaannya, dan diakui bahwa mereka ada, tapi tidak untuk menyingkirkan kenyataan.
Oke, gw mulai nggak tahu what excactly I'm going to, let's just stop it.
Oh, browsing2 soal Norwegian Wood, ternyata sudah ada versi layar lebarnya! Daaan... pemeran tokoh utamanya adalah : Kenichi Matsuyama.

23 May 2009
Unique!
* * *
To : Mel Fuller melissa.fuller@thenyjournal.com
From : Nadine Wilcock nadine.wilcock@thenyjournal.com
Subject : Buku
Hei, Mel. Ke mana kau pagi ini? Sudah kubilang kabari aku bila kau tidak masuk kerja, George pasti akan mengomel-ngomel lagi menanyakanmu padaku. Ngomong-ngomong, aku mengirimimu sebuah buku novel, kuharap sudah bisa kau cek di depan pintu apartemenmu sekarang. Menurutku buku itu bagus mengingat apa yang sudah kau alami bersama the guy next door-mu. Oh, ya, salam untuknya, ya. Tony juga menanyakan kabarnya dan menantikan kita berempat bisa makan malam bersama lagi.
Nad
P.S.: Buku itu judulnya ‘The Guy Next Door’, ditulis oleh Meggin Cabot. Kau tahu novel2nya termasuk laris, kan?
* * *
To : Nadine Wilcock nadine.wilcock@thenyjournal.com
From : Mel Fuller melissa.fuller@thenyjournal.com
Subject : Buku
Hai, Nad. Maaf aku lupa mengabarimu bahwa hari ini aku harus pergi menemani John ke suatu tempat, mengurusi... kau tahulah, our special day is waiting. Saking merasa senangnya aku lupa dengan kantor, katakan pada George bahwa semua tulisanku sudah selesai dan akan ku-email attachmentnya padanya segera sore ini.
Aku sudah mengambil buku tersebut. Itu sangat menarik! Tebal juga, ya, tapi aku yakin akan dapat menyelesaikannya dalam semalam. Terima kasih untuk hadiah kecil ini. I think I’m gonna love it :-)
John mengirim salam balik. Well, yeah, kau tahu Tony bisa saja langsung mengirimi e-mail ke John mengingat sudah seberapa dekat mereka.
Can’t wait for our dinner, kali ini kalian berdua saja yang mempersiapkannya.
Mel :-)
* * *
Mom! Kau tidak akan percaya ini! Aku baru saja ke toko buku dan melihat satu buku yang bagus! Judulnya Life on The Refrigerator Door. Bukankah itu terdengar seperti kita berdua? Aku sudah membelinya, kuletakkan di meja makan, kau bisa membacanya duluan.
Aku mau mampir ke tempat Gina dan akan pulang jam 9
xox
C
* * *
Pagi Claire, tidurmu nyenyak ? Buku itu bagus sekali. Membacanya cukup cepat, aku sudah selesai semalam, sekarang kau bisa membacanya. Hari ini aku pergi lagi ke rumah sakit. Ada kalkun yang tinggal kau panaskan untuk makan malam, tidak usah menungguku, sepertinya hari ini akan pulang malam lagi.
Love,
Mom
* * *
Bukan aneh gw menuliskan resensi kedua buku tersebut di atas dengan cara begitu, karena memang begitulah cara penyampaian cerita di kedua buku tersebut di atas.
Benar-benar cara yang unik untuk menceritakan cerita dalam novel. Dalam The Guy Next Door, dari awal sampai akhir halaman hanya akan ditemukan e-mail2 antar para tokohnya, dan dari sanalah kita akan mendapatkan gambaran cerita secara keseluruhan.
Buku yg ditulis Meg Cabot tersebut memang salah satunya ingin menunjukkan penggunaan e-mail dan internet dewasa ini. Well, she proved it. Sekarang kita semua nyaris nggak bisa lepas dari facebook, blog, dan sarana lain untuk berkomunikasi. Bahkan koneksi internet tersebut sekarang bisa diakses melalui handphone, yang sebelumnya juga booming dengan fitur SMS-ya (mungkin kita bisa membuat novel berdasarkan SMS-SMS :D), sekarang ditambah akses internetnya, mungkin memang internetlah yang paling berperan akhir-akhir ini.
Menurut gw, penggunaan e-mail2 sebaga penggambaran cerita di The Guy Next Door itu menjadikan kisah romance di novel ini lebih romantis. Karena sebuah e-mail pribadi benar-benar menggambarkan bagaimana karakter seseorang, dan itu sangaaat lucu plus romantis untuk novel ini.
Kalau di buku Life on The Refrigerator Door, seorang anak gadis selalu berkomunikasi dengan ibunya via pesan2 di kulkas. Dan itulah isi seluruh buku ini: pesan-pesan di kulkas, antara Claire dan ibunya. Okay, ternyata makin kemari, orang2 makin sangat sibuk untuk menyempatkan diri bertemu bahkan terhadap anaknya sendiri, sampai2 kulkaslah yang menjadi penghubung diantaranya. Tapi dari pesan-pesan kulkas di dalam buku ini, kita juga mendapatkan gambaran cerita secara keseluruhan, sebuah cerita sederhana mengenai hubungan ibu dan anak yang hampir jarang bertemu, sampai akhirnya mereka menyempatkan diri mereka untuk lebih sering bersama-sama (dan itu tentunya digambarkan melalui pesan2 kulkas mereka).
Bagi gw, kedua buku ini menampilkan cara menulis sebuah novel yang sangat unik. Dan tidak hanya unik, tapi juga ada makna tersirat di dalamnya. Ketergesa2an kita di jaman ini sepertinya memang akan membawa kita ke era di mana we let the screen tells everything. Setidaknya, memang ada hal-hal yang lebih mudah untuk dituliskan dibanding diucapkan secara langsung.
Eniwei, it’s also not impossible if there will be the time we used to communicate like in Wall-E animation. I said it’s creepy, but nothing impossible, man… nothing impossible.
20 June 2008
40 Days in Europe by Maulana M. Syuhada

Dari judulnya aja kita mungkin udah bisa menduga apa cerita dari novel ini. Dan jujur, sejak pertama kali ngelyat buku ini di Gramed dan baca judulnya, gw langsung penasaran bin tertarik banget. Ternyata dan ternyata... pas di Bandung kemaren, pakde gw punya bukunya! Dan pas2an dia nyuruh gw baca itu! wuehehe...
40 Days in Europe bener-bener menceritakan kisah perjalanan 40 hari di Eropa. Dalam rangka apa? Dalam rangka grup musik angklung dari SMA 3 Bandung yang bernama KPA 3 mnegikuti kompetisi dan konser-konser serta festival-festival di sana.
Wow! Baca buku ini bener-bener bikin gw pengeeen banget pergi ke Eropa. Usaha mereka untuk merancang perjalanan ini membutuhkan waktu satu tahun. Penulis sendiri, Maulana M. Syuhada, adalah salah seorang kenalan dekat mereka yang kuliah di Jerman dan menjadi koordinator utama dalam perjalanan mereka, karena network-nya yang luas di beberapa kedutaan Indonesia di Eropa dan beberapa kenalan di Eropa.
Berbagai kendala datang di tengah perjalanan, seperti ketika koper besar berisi peralatan angklung yang belum sampai di bandara sementara mereka sudah mau tampil, atau kendala sound system yang tidak memadai di panggung outdoor sementara suara angklung mudah sekali terbawa angin, dan yang paling besar adalah kendala dana, di mana tiba-tiba perusahaan yang menjadi sponsor terbesar mereka membatalkan kontraknya secara mendadak, menjadikan mereka semua harus tetap berusaha menggalang dana di setiap negara yang mereka kunjungi.
Tapi di sela-sela itu semua, penampilan mereka sangat diakui oleh masyarakat setempat, masyarakat dunia luar, dan menyenangkan sekali bisa turut berpartisipasi di acara yang melibatkan negara-negara di dunia dan menciptkan teman.
Mungkin satu-satunya kelemahan buku ini bagi gw adalah halaman-halaman yang berisikan e-mail2 penulis dengan salah satu kenalannya membicarakan rencana mereka. The problem is they’re written in English, mungkin nggak pa-pa sekalian ngasah bahasa Inggris juga, tapi... gw memilih untuk melewatkan beberapa halaman tersebut.
Lainnya? Baca!
P.S. Rekaman dokumentasi performance mereka bisa dicari di YouTube.
MOMO by Michael Ende
Kisah ajaib mengenai gerombolan pencuri waktu dan seorang anak kecil,
yang mengembalikan waktu yang hilang dicuri kepada umat manusia.
Sebuah roman dongeng.
Satu lagi buku fiksi yang baru gw baca. Judulnya MOMO.
Iya, bener, ini roman dongeng. Dongeng kalo mau dibilang begitu. dongeng tentang seorang gadis cilik bernama Momo.
Momo tidak punya orang tua, saudara, atau siapa pun. Ia tinggal di reruntuhan amfiteater tua bersama keluarga gelandangan lainnya. Hmm... kisah ini berlangsung di sebuah kota di daerah Eropa yang tidak disebutkan namanya. Anggap saja sebuah kota khayalan yang tidak mengenal waktu, melainkan hanya masa kini yang abadi.
Kisahnya sendiri tentang bagaimana usaha Momo untuk melawan para tuan kelabu, yang tanpa disadari penduduk kota tersebut, telah mencuri dan menyimpan waktu-waktu milik penduduk kota tersebut. Sehingga orang-orang dewasa tidak punya lagi waktu yang cukup berharga untuk digunakan sekadar memperhatikan hal lain selain apa yang sedang mereka kerjakan untuk hidup. Orang-orang menjadi lebih tergesa-gesa, menjadi lebih terburu-buru, dan tidak ada waktu untuk bermain-main, mengobrol, dan memikirkan orang lain.
Sebuah dongeng yang indah, yang menurut gw, mungkin menggambarkan perumpamaan tentang kehidupan manusia yang kian maju, namun makin kehilangan waktu untuk sekadar duduk-duduk dan menikmati secangkir teh, menenangkan diri sejenak, menikmati angin sejenak.
Kagetnya gw, ternyata buku ini selesai ditulis pada tahun 1972. Pengarangnya sendiri, seorang Jerman yang kemudian pindah ke Itali dan menyelesaikan Momo di sana, Michael Ende, sudah meninggal di tahun 1995.
Ini buku yang menarik. Sekali membaca akan langsung terikat untuk melanjutkannya sampai selesai. Gw minjem dari sepupu gw waktu di Bandung kemarin, dan gw mendahulukan membaca buku ini daripada Twilight. Hehe... kayaknya trilogi Twilight masih jadi waiting list gw ;P, katanya bagus, yak?
A Thousand Splendid Suns by Khaled Hosseini
Yang akan gw posting di sini, adalah karya berikutnya dari Khaled Hosseini yang baru saja gw baca: A Thousand Splendid Suns.
“Siapa pun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang berpendar di atas atap, ataupun seribu mentari surga yang bersembunyi di balik dinding” – Puisi dari Saib-e-Tabrizi –
Itulah kutipan pusi yang memberikan gambaran tentang Kabul, ibukota Afghanistan. Ya, setting cerita dalam buku ini adalah di Afghanistan, negara yang tidak pernah habis dari sengketa dan perang di dalamnya.
Gambaran akan kenyataan akan kehidupan sebenarnya di Afghanistan disampaikan melalui kisah 2 orang gadis Afghan, Mariam dan Laila, yang masing-masing memiliki kisah hidup yang berbeda-beda, namun kemudian takdir mempertemukan mereka di tengah-tengah perang sebagai dua orang istri dari pedagang sepatu.
Banyak hal-hal yang mengagetkan gw diungkapkan dalam cerita ini. Bayangkan saja, seorang pria berumur 60 tahun memiliki istri berumur 33 tahun, ketika menemukan seorang gadis berumur 14 tahun yang bertahan hidup di reruntuhan perang setelah serangan roket yang menewaskan kedua orang tuanya, logikanya? Gw berpikir mungkin gadis itu akan diangkat anak oleh mereka mengingat mereka belum punya anak, tapi yang terjadi bukanlah seperti itu namun sang suami menginginkan sang gadis menjadi istri keduanya.
Hahaha... itu salah satu point of interest yang bikin kepala gw cukup panas, tapi ternyata kenyataannya memang seperti itu. Dan kenyataan-kenyataan lainnya tentang bagaimana hukum Islam ditegakkan di sana.
Konflik kedua tokohnya diungkapkan benar-benar sampai ke akarnya yang paling dalam. Melihat bagaimana perjuangan keduanya mencapai kebahagiaan yang mereka cari, yang mereka inginkan. Well, gw nggak menyebutnya sebuah penderitaan, karena sebenarnya hidup adalah pilihan, dan kita tidak bisa mengeluh atas pilihan kita.
Buku ini bagus. Membuka mata.
Betapa... ternyata di dunia ini masih terdapat kebodohan. Yaitu yang membawa kemunduran bagi bangsanya.
Betapa... manusia adalah makhluk yang bisa lebih mengerikan dan menakutkan dari hewan buas.
Betapa... jauhnya keseharian di luar sana dengan keseharian kita di sini. Keseharian mereka yang berdampingan dengan perang.
Kalau melihat langit dan tanah tempat kita berpijak, gw teringat, bahwa di bumi ini, sebelum kita bisa berpijak dengan tenang di sini, sebelumnya pernah terjadi perang antar-manusia, pernah terjadi pertumpahan darah, pernah terjadi perbudakan manusia. Baik itu di Eropa, Amerika, Asia maupun Indonesia.
Bumi sudah berumur milyaran tahun. Bumi kita makin tua. Masih sanggupkah ia bertahan? Masih sanggupkah kita menjaganya?


