take it easy, so life will be

Menyadari bahwa saat ini saya hanya ingin membuat hidup saya terasa lebih fun, maka sayalah yang harus membuatnya seperti itu. It's no kidding, you are what you want, you are what you say, you are what you eat, and you are what you be.
Showing posts with label life about. Show all posts
Showing posts with label life about. Show all posts

26 April 2011

manusia mengubah... manusia

sebelumnya, bisa kroscek balik ke postingan gw sebelum ini.

Cuma pengen nampilin foto bersama panitia BINGKAI JAKARTA yang gw ketuai :) what an experience. I hope they feel the same goodness as I felt it.

Percayakah kalian, kalau gw bilang... manusia bisa mengubah manusia lainnya?

Suatu waktu di bus transjakarta gw membiarkan seorang mbak yang kesulitan memegang gantungan, untuk duduk lebih dulu di kursi kosong.
Suatu waktu, gw membukakan pintu untuk orang-orang yang tangannya penuh karena barang-barang.
Dan... suatu waktu suatu waktu lainnya yang lebih baik disimpan saja, hehe.

Dan yang hampir selalu terpikir di benak gw ketika melakukan hal tersebut ialah, ingatan masa lalu di mana seorang sahabat gw, yang telah duduk di bus transjakarta yang penuh, kemudian mempersilahkan duduk seorang ibu dengan anak yang tampak repot satu keluarga.

Peristiwa itu udah lama banget, mungkin sahabat gw juga tidak mengingatnya, dan mungkin sahabat gw juga nggak tau, kalau saat itu, tindakannya membuat gw tertegun, dan terenyuh.

Berbuat kebaikan tidak harus berupa perbuatan yang besar skalanya, seperti menyumbangkan dana atau membangun yayasan, berbuat kebaikan bisa langsung dari hal-hal kecil di sekitar kita, menjadi tabungan amal baik...

... dan harapan gw menjadi tabungan sikap juga, berharap gw yang saat ini akan membawa gw di masa mendatang sebagai pribadi yang baik sikapnya.

Tanpa disadari, sahabat gw mengubah gw, tanpa tindakannya, mungkin pintu-pintu akan tetap tertutup untuk mereka yang kesulitan membukanya, dan kursi-kursi bus transjakarta akan penuh bagi mereka yang kerepotan mengurus anak.

Gw akan selalu teringat kejadian itu tiap kali gw membukakan pintu, atau memberikan tempat duduk, atau hal-hal kecil lainnya, gw akan mengingat sahabat gw itu. Hahaha...

"manusia mengubah manusia"

Memang akan terasa lebih membanggakan bila pada dasarnya kita adalah orang baik sejak semula, bukan karena orang lain, tapi menepis harga diri dan mau berubah karena orang lain juga menunjukkan esensi dari diri kita.

Ah... lagi-lagi gw berkata sok ideal.

Kalau saja semua bisa berpikir prinsip "manusia mengubah manusia" mungkin nggak perlu lagi ada harga diri, mungkin yang ada adalah harapan bagi kita untuk bisa menjadi manusia yang juga bisa mengubah manusia lainnya, hehehe...

it's happy to know that you can inspire others, isn't it?

Level kehidupan

Barusan kepikiran di benak gw, bahwa mungkin dalam hidup ini, berada di tengah-tengah masyarakat ini, mungkin ada yang dinamakan dengan level kehidupan.

Yang gw maksud di sini, bukan level atas pendapatan, atau pendidikan semata, melainkan level kondisi secara keseluruhan, nilai kesiapan sebuah kelompok masyarakat yang bisa dilihat kadarnya dan menentukan level dari masyarakat itu sendiri.

Dengan kata lain, tingkat kematangan suatu kelompok masyarakat.

Gw nggak berniat melakukan pidato mengenai topik ini, cuma mendadak bertanya-tanya secara retorik, berandai-andai, membayangkan, berimajinasi, bahwa terdapat level kehidupan dalam masyarakat.

Pemikiran ini mendadak muncul cuma karena gw kepikiran bagaimana negeri ini, negeri gw yang tercinta ini, kalau dibandingkan dengan negara lain, banyak sekali hal-hal yang perlu dievaluasi, dan banyak sekali hal-hal yang tertinggal.

Contoh gampangnya:
Bandingkan masyarakat Indonesia saat ditimpa musibah bencana alam, dan masyarakat Jepang saat ditimpa musibah bencana alam.

Contoh lebih gampang lagi:
Bandingkan panggung konser musik di Indonesia dengan panggung konser musik di luar negeri. *dari daya tampung, sama kecanggihan alat serta lampu-lampu dan efek-efeknya aja udah beda kasta banget.*kenapa konser? karena baru2 ini gw bersama teman-teman sedang mengeluhkan musisi-musisi yang nggak bisa konser di Indonesia karena keterbatasan performa panggung yang nggak bisa memadai kebutuhan musisinya.

Sampai gw bertanya-tanya, kapan ya... Indonesia bisa jadi kayak begitu? Kapan, ya, Indonesia bisa naik derajat untuk hal-hal itu? Kapan, ya? Dan seterusnya gw bertanya-tanya: Kapan, ya?

Lalu gw bertanya-tanya lagi... "mungkin nggak, ya?"

Dan ketika pertanyaan retorik tersebut muncul, yang terpikirkan hanya pernyataan retorik berikutnya: "Mungkin memang akan berbeda terus levelnya, mungkin memang harus ada perbedaan level antara negara-negara dan masyarakat-masyarakat satu sama lain, mungkin memang ada level kehidupan"

*sigh

Kotak telepon ini cuma pajangan shooting di Kota Tua suatu hari.
Feels so fake for me...

Kita kehilangan orisinalitas, semua yang sekarang tampak sebagai hal-hal yang fantastis terasa dipaksakan demi mengejar level negeri lain. Padahal untuk meningkatkan level bukan berarti mengikuti cara masyarakat lain mencapai level mereka, tapi mencari potensi masyarakat sendiri dan melatihnya, mengembangkannya, sehingga kita berada di level yang sama dengan keunikan tersendiri.

Ke mana budaya asli kita? Mau dikemanakan segala hal yang telah mendarah daging tersebut?

19 April 2011

Tensai des(u)

"Membayar hutang itu bukan soal bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak mau" (Katsuyuki Natsuki - Genius Family Company)

Baru-baru ini gw membaca komik keluaran level comics yang judulnya Genius Family Company atau kalau judul Jepang aslinya : Tensai Family Company. Tensai = Jenius.

Sebenernya baca buku ini bukan baru-baru ini, sih, sempet beberapa bulan lalu nggak sengaja pinjem taunya udah langsung nomor 2. hahaha... ternyata menarik. Buat kalian yang tau Tomoko Ninomiya alias author dari komik Nodame Cantabile, maka komik yang satu ini bakalan nggak asing buat kalian.

Gw nggak berniat membandingkan dengan Nodame Cantabile, yang pasti komik ini jenius dan kocak abis khas gayanya si Tomoko Ninomiya sebagai author yang menurut gw pinter banget membangun karakter yang unik.

Intinya, ceritanya mengambil tema semacam bisnis dan tokoh-tokoh yang unik dan jenius dalam arti tersendiri (perlu membaca langsung untuk menyelami).

Sesuai kutipan yang mengawali postingan ini, menyadari betapa galaunya gw akhir-akhir ini, gw merasa bodoh sendiri. Jawaban yang seharusnya tampak di depan mata menjadi blur akibat otak yang udah terlalu lelah (atau malas?) berpikir.

Malas, lelah, semuanya keluhan.

Yah, sama seperti hutang yang pasti bisa dibayar asalkan kita mau, masalah ini pun, masalah apapun, pasti akan bisa teratasi asal kita mau.

Mau berpikir.

Seperti kata seorang kawan gw yang semalam menemani gw jaga piket di ruang Fisipers, bahwa "Kemampuan berpikir adalah berkah yang paling hebat, the most great gift that ever given to us, oleh Tuhan pencipta kita"

Oke, tampaknya gw bener-bener harus membelikan satu-dua kue untuk kawan gw itu. He's really waking me up. Dan gw mau berterima kasih, alias nggak mau punya utang budi, hehehe, jadi akan segera gw balas kebaikan (yang kawan gw nggak sadari) atas kata-katanya yang cukup mengetuk kembali otak gw untuk berpikir.

Ciao!
*pictures will soon uploaded

06 April 2011

I'm proudly say: I am back!

Belum lama ini, gw membuat sebuah photo album baru di facebook gw, dan albumnya berjudul

"it feels like a soul that is returned back"

Yeah, dan isi dari album tersebut bukanlah foto, melainkan gambar-gambar yang membuat gw merasakan hal yang menjadi judul dari album gambar facebook tersebut.


Yep, benar, gambar-gambar itu mayoritas adalah snapshots dari anime-anime yang gw ikuti baru-baru ini.

I have to say, beberapa tahun terakhir ini memang gw telah sedikit menjauh dari dunia tersebut, bukannya ingin, tapi terpaksa menjauh, dan mau tak mau menjauh dengan sendirinya, akibat kesibukan, akibat kewajiban, dan akibat dari hidup gw yang berubah sekitar 6 tahun silam.

6 tahuns silam, adalah tahun di mana ayahanda kami tercinta meninggalkan kami di dunia. Ya, itu adalah sebuah perubahan besar, yang sedikit demi sedikit pastinya mempengaruhi perubahan pada situasi gw sekarang. Sedikit demi sedikit tapi pasti.

Namanya sebuah mimpi, kita akan terus dan terus dan terus memimpikannya, ia telah menetap di pikiran dan hati kita, dan tak akan pernah hilang meskipun keberadaannya kian tertutup-tutupi oleh kenyataan-kenyataan yang memenuhi pikiran dan hati kita.

Namanya sebuah mimpi, sebuah cita-cita, bagi gw sangatlah berharga, dan tiada arti apabila gw tidak mencapainya, atau berusaha untuk mencapainya, bahkan sampai meninggalkannya dalam sudut kecil di pikiran dan hati.

Selama beberapa tahun terakhir, gw merasa kehilangan diri gw. Bukan diri gw secara keseluruhan, gw yang sekarang tetap adalah diri gw, tapi diri gw yang hilang, adalah paruh besar diri gw yang sangat penting, sangat besar.

Paruh besar diri gw yang berani bermimpi, dan merasakan sensasi dari mimpi tersebut, sensasi dari pikiran yang terus menerus memikirkan 'aku akan melakukan apa ya, untuk mencapainya?', sensasi yang membuat angin kencang yang berhembus akhir-akhir ini terasa sangat mendebarkan, seakan menyemangati semangat berkobar-kobar untuk meraih mimpi. Sensasi yang membuat kita menikmati malam, seakan tiada hari dan jam yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kita akan waktu untuk bermimpi dan terus berupaya untuk mencapainya.

Dan sekarang, gw bisa mengatakan, dia telah kembali.

Bagian penting dari diri gw, yang perasaan saat kehilangannya sungguh tidak menyenangkan, gw berusaha segala cara agar bagian diri gw yang satu itu bisa kembali lagi. Saat itu, gw hanya bisa mengingat betapa menyenangkannya bagian diri gw yang satu itu, namun tak kuasa untuk bisa meraihnya kembali.

Namun sekarang, seperti judul album dalam facebook page gw, "it feels like a soul that is returned back".

I am back.

It's a new me! a new life!

with a part of my old me, but yes, it's a new me, a new life, a new start.

Semoga tidak terlambat, mengingat sudah berapa tahun gw lalui kehilangan hal tersebut hingga kini gw memilikinya kembali. Gw harus segera membayar waktu yang telah hilang untuk peran yang tak kunjung dimainkan oleh diri gw yang satu itu.

I am back!

My proximity

Pagi ini saat kuliah (propaganda) Media Buying yang pernah gw jelaskan di postingan lalu-lalu, gw mencetuskan sebuah pertanyaan kepada dosen kami, si kakak alumnus yang cuma beda usia 5 tahun dari kami itu:

"Kak, kalau kita mau campaign kita diliput sama media berita gimana caranya, ya?" (ini karena baru2 ini kampanye sosial Earth Hour menjadi berita di berbagai stasiun TV di Asia.

Pada intinya, kakak itu menjawab bahwa ada 5 unsur yang menjadikan sesuatu menjadi memiliki nilai 'berita' atau 'news value'. Ini beliau dapatkan di kuliahnya dahulu di program studi Humas. Bahwa, setidaknya ada 2-3 hal yang harus ada dari 5 unsur di bawah ini:

1. Proximity (kedekatan). Seseorang akan lebih tertarik dengan berita yang dekat dengan kita, contoh: tsunami di Aceh yang terjadi di Indonesia tentu dekat dengan semua warga Indonesia sehingga ia menjadi berita penting bagi warga Indonesia, itu adalah nilai proxmitiy-nya.

2. Magnitude (besar). Sesuai namanya, hal tersebut haruslah hal yang BESAR sehingga bisa menjadi berita yang BESAR, contoh lagi-lagi kasus tsunami di Aceh dahulu, itu adalah kejadian yang besar sekali.

3. Prominent (terkenal). Yah, ini bisa diupayakan dengan melibatkan orang-orang yang terkenal atau sesuatu yang terkenal sehingga ia menarik untuk menjadi berita.

4. Actuality (aktual). Yaitu berita tersebut benar-benar baru, baru terjadi, sehingga masih hangat-hangatnya untuk diulas.

5. Kakak dosen lupa, tapi intinya berkaitan dengan 'magic number'. Contoh, mengungkapkan kampanye aksi 1000 sepeda akan menarik perhatian media massa, karena angka '1000' termasuk magic number yang menjadikannya news valuable.

Begitulah!

Tapi sebenarnya bukan itu yang hendak gw bahas di sini, bermula dari rasa penasaran soal media massa, mendengar jawaban tersebut, yang langsung terbersit di otak gw adalah... mendadak, sebuah berita dari kejadian menggemparkan beberapa saat lalu: bencana alam dan nuklir di Jepang.

Ya, gw ingat, itu hari Jum'at, 11 Maret 2011, pukul 2 siang gw bersiap-siap menuju tempat murid les privat gw, ketika mendadak mau ngecek Twitter dan berhamburan informasi mengenai Jepang dan tsunami, dan sebagainya. Dengan segera gw menyalakan TV untuk mendengar berita yang berlangsung, dan menonton bagaimana rumah-rumah dan gedung-gedung di kota-kota besar di sana, tersapu air, tontonan akan pusaran air di laut, dan sebagainya.

Gw shock, terpaku, rasanya nggak mau berangkat ngajar les, mau nonton berita saja, update sama situasi di sana... tapi mau tak mau tanggung jawab mengajar harus dijalankan, dan dengan perasaan tidak sabar gw menanti sore untuk pulang kembali ke rumah dan mengikuti berita kembali.

Hingga jam 3 pagi dini hari, TV gw setel di CNN yang menampilkan Live report langsung dari NHK di Jepang, di sana sudah jam 4 dini hari, menanti matahari terbit untuk kelanjutan nasib umat manusia di lokasi bencana. Gw nggak sanggup masuk kamar dan tidur, mata gw terpaku sama CNN live report itu, terus... terus... tidak mau beranjak.

Jepang, adalah sebuah negara yang sangat gw cintai sejak gw duduk di bangku SMP, bukan gw tidak bangga dengan negara sendiri, tapi gw mengagumi budaya, alam, orang-orang, pemikiran, gaya hidup, prinsip hidup, yang berada di negeri Sakura tersebut, ibarat seorang idola, seorang role model, sebuah negara yang telah menginspirasi gw untuk mengejar mimpi gw.

Saking sayangnya gw dengan negeri tersebut, gw merasa sudah menjadi bagiannya pula, memiliki hati yang gw bagi ke sana (selain kepada negeri gw sendiri ^^), dan nyokap pun sampe ngomong:
"kalau reinkarnasi itu ada, kamu mungkin reinkarnasi dari orang Jepang, ya" hahaha... 

Ia adalah negara tujuan gw.

tujuan.

tujuan dalam arti hidup, dan inspirasi.

Lalu terjadilah bencana tersebut, ibarat news value yang disebutkan kakak dosen gw, ia memiliki nilai 'proximity' yang sangat besar bagi gw. Kedekatan yang amat sangat, hingga gw nggak sanggup meninggalkan live report sampai dini hari. Hingga gw gelisah seharian menanti berita-berita, gw menjadi salah satu dari yang pertama menonton rekaman-rekaman warga Jepang yang mengalami gempa di sana... proximity gw...

Melihat fakta akan gw yang mengagumi negeri tersebut, dan fakta akan situasi yang terjadi di sana saat ini, orang-orang di sekitar gw pun mengungkapkan banyak hal ke gw.

Seorang teman gw pun bertanya-tanya:
"Lo yakin masih mau ke sana dengan nuklir yang udah mengkontaminasi di sana?"

Kemudian sang adik gw mendadak berkata:
"Yah, nggak jadi, deh, kamu, mau ke Jepang"

Tak lupa nyokap pun berpendapat
"Nggak! nanti anak kamu gimana kalau kamu mengkonsumsi apapun di Jepang, perut kamu juga jadi kena efek, kan?"

Damn.

Damn, damn, damn.

Why? Why it has to be happen? Kenapa itu harus terjadi di negeri tujuan gw?

Should I ? or shouldn't I ?

The thing is, I am feeling really upset now... feeling down, somehow like in the lowest point.

Gw yakin bahwa gw masih MAU ke sana, ia masih menjadi negeri tujuan gw in the first place. Tapi... haruskah gw mengindahkan masukan-masukan dari orang-orang sekitar gw?

Nggak ada yang bisa gw lakukan, selain tetap menjalani apa yang sudah gw tetapkan sejak dahulu, yang bahkan sempat tertunda beberapa tahun karena perubahan besar dalam hidup gw (akan dijelaskan di postingan selanjutnya).

Dan gw cuma bisa berharap... berdoa... semoga Tuhan berpihak dengan gw... dan menjadikan alam semesta mengizinkan gw untuk bisa selamat mencapai tujuan gw. Dan selamat untuk melanjutkan hidup, selamat mencapai semua cita-cita gw, termasuk salah satunya untuk bisa berada di negeri tujuan gw tersebut.

Negeri dengan nilai proximity yang tinggi untuk gw.


22 March 2011

Lagi-lagi saya hiatus tanpa disadari

Yah, kebiasaan buruk gw yang satu ini: menunda-nunda blogging karena mood yang berubah sangat cepat, melebihi kecepatan pikiran sgw. hahahaha *akhirnya ada juga yang membalap kecepatan pikiran gw

Oh, ya... mungkin gw perlu mereview beberapa hal yang terjadi selama gw hilang dari rumah yang satu ini:

1. Semester DEWA: semester 4 dan 5
Sesuai dengan namanya, yah, gw akhirnya telah melalui kedua semester tersebut. Benar-benar dua semester paling parah yang pernah gw rasakan, 8 mata kuliah semuanya memberikan tugas take home sebagai ujian dan for your information, dibandingkan dengan ujian seat-in yang cuma belajar H-1, kemudian datang di hari-H ujian, dan berjuang selama 2 jam, ujian take home benar-benar menguras tenaga dan WAKTU. Rasanya tiap hari adalah hari mengerjakan tugas hingga deadline mendekat, plus yang seperti ini bukan cuma 1 matakuliah melainkan 8 matakuliah, ya... berasa 24 jam itu masih kurang.

Yang paling para ialah, pola tidur gw jadi berubah drastis, begadang hingga dini hari menjadikan ketika semuanya telah kembali normal, namun tidak dengan pola tidur gw. Agak-agak insomnia di malam hari, bikin bete juga mengingat besoknya harus kuliah.

Untunglah, sekarang gw udah semester 6 di mana gw bisa mengambil kredit SKS cuma 18 (karena udah ditumpuk di awal-awal, fyuh). Dan semuanya terasa santai, plus... hampir sebagian kuliah gw dimulai pada jam 11 siang. Hahaha *tertawa bangga

2. Family
Masalah keluarga, pastinya ada, ada hal yang terjadi baru-baru ini, namun gw nggak bisa menceritakannya di sini. Karena blog gw yang satu ini udah di-follow sama anggota keluarga besar, hehe, sementara keluarga kecil kami bersikeras untuk menjaganya dulu hingga saat yang tepat untuk diceritakan.
Intinya, ini adalah perubahan besar bagi keluarga kami, sebuah perpisahan yang berat, namun perlu dilakukan apabila kami ingin tetap bertahan, survive. Dan terbukti, saat ini sedikit demi sedikit permasalahan keuangan kami mulai membaik.

Gw pun mulai memiliki tambahan pendapatan, dari kerja paruh waktu sebagai guru les privat, dan dari beasiswa yang baru saja gw dapatkan akhir akhir ini :)
Yap! Akhirnya, setelah bersemester2 gw mengajukan sekian banyak lamaran beasiswa yang ditolak, akhirnya yang satu ini gw mendapatkannya!

Benar-benar, di saat kesusahan, rasanya semua kesusahan datang bersamaan. Namun, di saat kebahagiaan datang, rasanya semua berkah juga datang bersamaan. Gw harus mulai rajin-rajin bersyukur lagi nih, mulai mengaji lagi (sejak sibuk kuliah dan organisasi, jadi tidak ada waktu sama sekali).

3. Cita-cita
Seperti yang pernah gw post di beberapa postingan sebelum ini, ada indikasi bahwa gw sudah menetapkan hati gw untuk hal yang satu ini. Yap, I will chase what been my dream for so long, no more delaying, no more detour.

Ini adalah kalimat yang pernah gw wejangkan untuk seorang kawan, dan sekarang saatnya untuk gw menelan sendiri kalimat tersebut:

"Listen to others is easy. Listen to yourself is challenge"

Yeah, mengikuti kata hati sendiri itu memang tidak mudah, terutama karena kita dihadapkan dengan sejuta ketidakpastian, ketidakyakinan, dan hal-hal yang mematahkan semangat lainnya. Kita bertanya-tanya 'benarkah pilihan yang kuambil ini?' dan satu-satunya orang yang bisa kita minta jawabannya (selain Tuhan) hanyalah diri kita sendiri, dan tidak mudah untuk bertahan dengan kata hati kita.

Intinya, memang banyak hal yang terjadi pada gw, keluarga gw, dan juga beberapa sahabat gw, dalam beberapa bulan terakhir ini. Hal-hal tak terduga, bahkan seringkali tak diharapkan, tak menyenangkan.

Mengutip dari serial TV CASTLE, "bagaimana kalau ini tidak berjalan dengan baik? Well, bagaimana kalau berjalan dengan baik?"

"Itulah harga dari kehidupan..."

06 February 2011

random thought


Hanya mau mengatakan, bahwa dari semua jenis perpisahan yang ada di dunia ini, kematian ialah jenis perpisahan yang paling menyedihkan, serta menyakitkan.

11 January 2011

B: to inspire at least one person

Pasti banyak, atau tak jarang yang bilang You are what you eat, yeah bahkan gw juga menuliskannya di blog gw ini, walaupun sebenarnya ada perbedaan makna (menurut gw) antara perumpamaan You are what you want to be dengan You are what you eat.

Briefly, You are what you want to be mengarah kepada bagaimana kita membentuk diri kita. Sementara, You are what you eat mengarah kepada seperti apa diri kita dilihat dari apa yang kita makan. Make sense? Okay, singkatnya begitu aja.

Lalu, gw juga berpikir, if they can said you are what you eat, maka bisa juga dikatakan, you are what you read, you are what you listen to, dan mungkin… you are what you’re watching to.

Yes, I’m talking about something we watch, gw membicarakan mengenai sesuatu yang kita tonton, entah itu di televisi, atau film.

Pasti sering, dong, kalau nonton film kita merasakan berbagai macam hal, senang, sedih, marah, bagaimana kita begitu terbawa perasaan dengan para tokohnya, itu menunjukkan bahwa ada sebersit di pikiran kita bahwa kita merasakan hal yang sama seperti si tokohnya, atau lebih-lebih, kita merasa ada sebagian dari diri kita yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh di tontonan tersebut.

Apapun, bisa dari tokoh, bisa dari cerita. Dan sebagai sesama penikmat ‘tontonan’ (seperti serial TV dan film), nyokap gw dan adek gw memiliki pemahaman yang sama mengenai hal ini. Kita adalah apa yang kita tonton, atau apa yang kita tonton itu menunjukkan seperti apa diri kita, atau setidaknya seperti apa diri kita yang kita rasakan bahwa itu adalah diri kita.

Ada satu serial televisi yang sedang memikat gw akhir-akhir ini, gw ungkap langsung saja, itu adalah Ugly Betty, biar lebih spesifik, Ugly Betty season 4. Yap, Ugly Betty yang itu, yang tentang si Betty buruk rupa namun berotak dan berkepribadian cemerlang, dan menantikan saat di mana ia tidak lagi menjadi buruk rupa, melainkan si cantik yang berotak dan berkepribadian cemerlang, plus akan menjadi sukses.

Begitu melihat bagaimana gw menyukai serial ini, nyokap gw langsung ngomong “Kamu kenapa? Kamu merasa ugly, dear?” dan dilanjutkan dengan “Kamu jangan merasa ugly, ya, nggak boleh itu” dan diikuti dengan gw yang memutar mata dan mendesah bete.


Pertama, gw baru menggandrungi Ugly Betty ini di penghujung season 3 dan utamanya di season 4, di mana Betty sudah bertransformasi jadi cantik, jadi tidak ada alasan bahwa gw menontonnya karena gw merasa ugly. Damn. Kedua, Ugly Betty memang menawarkan cerita yang bagus sejak season 1, di mana per episode seakan ada sesuatu yang hendak disampaikan (sebagaimana serial TV Amerika pada umumnya), dan memang menyenangkan mengikuti cerita cinta Betty si buruk rupa karena bikin penasaran akan seperti apa cowok2nya, haha, tapi season 1-3 gw masih jarang nonton, sementara season 4? Whoa.. I’m dying to watch all episodes.

The thing is, season 4 mulai menceritakan tentang Betty sendiri. Ia memulai karir di majalah fashion ternama dengan harapan itu bisa menjadi batu loncatan baginya ke dunia penulisan di mana dia ingin menulis hal-hal yang inspiratif, namun bukan fashion.

Tapi di tengah jalan, 3 tahun bekerja di sana membuatnya menjadi semakin menikmati bekerja di sana, bagaimana tidak? Karirnya meningkat, dari mulanya asisten pribadi hingga sekarang sudah menjadi editor, she’s getting closer to the top, ia menjadi seorang editor majalah sesuai impiannya, masalahnya adalah, fashion bukanlah majalah yang ingin dia jalankan, itu bukanlah impiannya.

Dan ketika ia akhirnya menyadari lagi bahwa itu bukanlah impiannya, walaupun hidupnya sudah menjadi lebih baik dengan pekerjaannya sekarang, walaupun ia mulai bisa menikmati bekerja di fashion magazine, ia memutuskan untuk menolak tawaran terbesar sebagai kolumnis fashion majalah Inggris.



“Tapi, aku takut, bagaimana kalau semuanya tidak berjalan lancar? Mungkin jalan mimpi yang kupilih ini memang benar, tapi setidaknya jalan pekerjaannku sekarang adalah jalan untuk hidup”
–Betty Suarez to Gio, episode 18 season 4 "London's Calling"–


Mungkin itulah yang gw rasakan, gw tahu bahwa selama ini impian gw ada di industri kreatif, lebih spesifiknya di animasi, dan memilih periklanan sebagai program studi gw di bawah jurusan ilmu komunikasi sempat menggoda gw, dunia yang menarik, sama-sama sebuah bidang di industri kreatif, namun dalam genre yang berbeda, lagipula di Indonesia lapangan pekerjaan bidang ini lebih pasti (sudah ada banyak), dibandingkan lapangan pekerjaan di animasi. Gw tahu bahwa gw butuh memikirkan soal penghidupan juga, apalagi dengan kondisi keluarga yang seperti ini.

Tapi gw tahu, ketika akhirnya gw menjalankan periklanan yang menarik ini, ia tidak akan bisa memperoleh sepenuhnya kecintaan gw karena gw nggak bisa meninggalkan animasi. Pada awalnya gw berharap bahwa periklanan bisa menjadi batu loncatan gw karena saat itu gw dalam posisi tidak bisa memilih bidang animasi secara langsung.

Tapi sekarang, gw tahu waktu gw nggak sebanyak itu, tidak seperti film-film atau tv serial yang bisa dibuat berbagai seasons, gw harus membuat keputusan gw sekarang. Kalau Betty menyadarinya setelah 3 tahun bekerja, gw yang telah menyadarinya saat ini, saat menonton episode di mana Betty menyadarinya, seharusnya bisa melakukan tindakan dengan lebih cepat.

Amanda : Tapi, Christina, aku tidak menyangka kau akan sesukses ini sejak kau memutuskan untuk keluar dari MODE
Christina : Aku akui, awalnya aku takut, aku merasa seperti kehilangan pegangan. Tapi aku sadar, bahwa ini justru merupakan sebuah kesempatan bagiku untuk melawan rasa takut itu
(beberapa hari kemudian)
Amanda : Aku akan berhenti bekerja di MODE, aku akan menjadi stylist!
-Ugly Betty, episode 18 season 4 "London's Calling"-

Menonton Ugly Betty season 4 tiap Selasa malam merupakan momentum penting bagi gw, dan pada akhirnya gw bisa memutuskan suatu hal: Gw akan berusaha berani untuk fokus sama mimpi gw yang satu itu.

Selama ini, setiap keputusan yang gw ambil selalu gw pertimbangkan bersama nyokap gw karena sejak bokap gw meninggal, semua harus penuh pertimbangan, terutama mengenai bagaimana gw akan membantu keluarga kita. Dan inilah gw, harus menjadi seperti ini, sementara adek gw bisa tetap keras kepala untuk fokus sama mimpinya (baca blog dia www.uzieziezie.blogspot.com) dan gw melihat tunas pohon yang mulai tumbuh dari bibit yang dijaga dengan baik-baik.

Selama ini, ketika dihadapkan akan dua jalan: jalan tol yang lurus, cepat sampai, namun harus membayar, atau jalan raya yang banyak pemberhentian, lampu merah, belokan, namun tidak perlu bayar tol, gw memilih jalan yang kedua…

…padahal keduanya sama-sama mengeluarkan biaya yang mahal, bayar tol atau biaya bensin akibat panjangnya perjalanan itu sama-sama biaya. Untuk itu, ada satu hal penting yang perlu dipertimbangkan di sini: waktu.

Gw harap ini semua nggak terlambat untuk gw, I feel like I want to cry hoping it’s not too late for this.


Betty : (melihat ke arah kakak, ayah, keponakan) Selama ini, kukira aku harus terus merawat mereka, kukira mereka tidak akan baik-baik saja kalau aku tidak ada, tapi… mereka baik-baik saja, akhirnya semuanya kini baik-baik saja.
Daniel : Bukankah menyenangkan kalau melihat seluruh hal di dunia ini baik-baik saja?
-Ugly Betty, episode 19 season 4 "The Past Present Future"-

Next thing to do, menonton episode terakhir Ugly Betty Selasa depan! Whooo…!! Tidak boleh terlewatkan!!! Betty akhirnya mendapatkan tawaran pekerjaan yang diinginkannya, dan itu di London!

So, it’s a happy ending (I wish), dan gw harap gw juga bisa mendapatkan happy ending.


N.b. Judul postingan ini ialah nama blog Betty dalam serialnya ;D dan prototype-nya bisa dilihat di sini

08 January 2011

right at the moment



Akhir-akhir ini merasa kelam.

Sekeras apapun gw berusaha membuat hidup gw lebih baik, ternyata memang awan kelabu itu akan terus hadir di sekeliling gw.

Bukannya mau pesimis, tapi ini bukan lagi sekadar hidup dengan optimis atau pesimis, bukan lagi sekedar dua hal itu. Ini tentang hidup yang sebenarnya, yang nyata, dan cuaca akhir-akhir ini makin mendukung jeleknya suasana hati gw.

Walaupun begitu gw tetap berusaha mempertahankan sinar dalam diri gw. I know, it's heavy dark cloud around myself, but that doesn't have to make me like one, too. Di tengah suasana kelam, kita harus bisa mempertahankan sinar diri kita, mungkin gw melantur, tapi maksud gw di sini ialah semangat.

Semangat untuk tetap bertahan di tengah situasi ini, sekeras apapun, sesulit apapun, sesakit apapun, sesedih apapun, kita tidak boleh mematikan sinar kita, kita tidak boleh memadamkan semangat kita. Karena kalau sinar semangat itu hilang, maka semuanya akan menjadi benar-benar kelabu, tanpa sumber cahaya lagi.

Oke, memang terdengar seperti lanturan, tapi  gw yakin ini masih suatu yang relevan. Saat ini gw benar-benar butuh mengeluarkan apa yang gw rasakan, suasana kelam yang mencekam gw akhir-akhir ini. Mereka datang secara diam-diam, bahkan di saat gw merasa semuanya akan baik-baik saja, gw merasa bahwa semua tidak akan sebegitu baik.

Tidak bisa lagi berpikir optimis, tidak juga pesimis, saat ini semuanya terasa samar, tak terbaca, dan membuatnya makin menakutkan. That's the truth of real life is. Parah ya, kenyataan dari yang paling nyata akan hidup yang sebenarnya.

Beberapa postingan dulu, gw bisa menuliskan hal-hal yang menyenangkan dalam hidup, yang harus diakui juga gw alami, dan mungkin orang lain juga alami. Namun saat ini gw mengalami bagian dari hidup yang buruk, bukan tidak menyenangkan sama sekali, namun terasa sangat buruk. Awful, if I can say.

Dan mungkin beberapa orang lain juga sempat, atau sedang mengalaminya.

Gw harap, walaupun di tengah kondisi seperti ini, gw tetap bisa mempertahankan sinar semangat gw, dan tidak akan memadamkannya.

Karena gw pernah merasakan hal-hal yang menyenangkan dalam hidup, gw tidak boleh tenggelam dalam situasi kelabu ini seakan hal-hal menyenangkan itu tidak bisa diraih kembali.

Pasti bisa, dan itu bukan optimisme, itu bukan pemikiran, it's not thoughts, it's faith, itu keyakinan. Keyakinan yang kadang menakutkan, namun tanpa itu, sinar semangat ini tidak akan bertahan.

Have faith, Fika, have faith.

26 October 2010

life of men (?)

Sometimes, quality time with your best friend needs more effort to be planned, because you both know how busy you are, and you need to take the mind off of all the daily businesses, to let the time goes well.

But, sometimes, some quality times with your best friend just happen so sudden. It can be in the middle of lunch talk, studying, or even in one hour car-ride in the city. The talk just start and all the stories came out.

Okay, I have to admit that I sometimes have this-not-so-good statement came out of my mouth, but damn it's true. When we talk about future, working, dream, and building a family, sometimes it brings you to question like "Are you gonna be a working mother?" then I'll answer "Yes, I'd love to have a profession as... blah3x... but then, it'll be lovely if I can stay with the kids, so maybe it's good to have profession that can be done at home...."

and this is the not-so-good part of the answer:

"... beside, I'll have my husband to work, too, right? So my job doesn't have to be as hard as his job"

See?

I know it's not a good statement to hear, especially for you, guys. But, believe me, despite of that statement is a little bit true, I feel guilty enough already.

Don't blame me, I'm living in a world of women. I mean, since my Dad passed away when I was 14 year old, my family members only me, my sister, and my mother, world of women. Then I have my female friends, they who also had effort in career and work and other ambition. Sometimes, I feel tired to do all the things like that, you know, work too hard. So, even if I have a big dream to have a great job in future when I got married and build family, sometimes I imagine it will be soooo exhausting. And that's where the statement comes from.

Yeah, I've been exhausted for quiet long time, since my world turn to a world of women. I'm not a feminist, I really love the idea that women created with many privileges to be taken carefully, to be loved, etc. That's why, being a so-hardworking-girl right now make me (or us, maybe) soooo want to have a peaceful life in the future.

But

yes, there's a but.

Today, in the middle of so-sudden quality time talking with one of my best friend, he told me the situation he through right now. How his family suddenly get in the middle of financial problem now, and all the best effort he done to help out his parents, and most of all is because that he's the only son in the family. So, he thinks that he has more responsibility of taking care his family.

Well, that makes me re-think, that it's so... not easy, so hard, to be a man, I mean, with all the compulsions for taking more responsibilities, etc.

So, next time, every time I'm about to speak my mind, I will not just thinking about myself, my life, but I also remember my friends, their life.

Next time, if we talk about the same topic about the future family, job, and husband, I will remember every guy I ever met in my life, my guy friends, and especially, my Dad. Yeah. I will remember that.

Such a mess English for a complex post like this one.


best-quality-time-friends-ever

28 September 2010

my future

I watched HIGH SCHOOL MUSICAL 3 for the 2nd time, yeah. First time is at the movie theater but this one I watched it on DVD.

Well, I have no word except that watching this kind of movie really bringing up the 'labil' moment in myself, pffhh...

For a quick review, I'm gonna put the most memorable lines (for me) in this movie.


Troy: Feel like your future is laid in front of you?
Chad: What is your point?
Troy: I don't know. I just want my future to be my future.

Chad: Do you see what happens when you do a show?  You're, like, five people.
Troy: Yeah, but what so bad about that? We used to came here as kids, we'd be ten people. We'd be spies, superheroes, rock stars..... We were whatever we wanted to be, whenever we wanted to be it. It was us.
Chad: Yeah, we're, like, eight years old.


Chad: For the record, I was a better superhero than you were.


My stand point: I agree with Troy :) who said we cannot be anything we want? And when I say 'any'thing that can also mean 'many'things.

Why not if I am interested to animation, drawing, writing, photography, and advertising? I also love travelling, I'd like to see the world, meet people, learning their cultures and languages, and I want also to be great mother and wife in the future.

I want to, and I can, be ten people or more.

Now, I am starting my 3rd year in university, been 1 year get involved and interested in advertising world, 2 years to get really into communication study, 4 years of dreaming to go around the world, 5 years of doing photography, 7 years since my first interest to be animator, 7 and half years since my first writing hobby.....and the numbers is increasing as the years go by.

One more certain thing, a whole life... I am being myself: interested to many things.

I'd like to be ten people, or more.

15 September 2010

Otherwise

My world of otherwise.


Dalam kehidupannya, orang-orang melakukan sesuatu, kemudian mengetahui... atau menemukan... atau menyadari... apa hal yang mereka sukai, yang mereka kuasai, yang mereka minati, yang mereka senangi. Lalu mereka pun maju selangkah demi selangkah di bidang tersebut.

Otherwise... sebaliknya.

Dalam kehidupan gw, gw melakukan sesuatu, kemudian mengetahui dan menyadari... hal-hal yang tidak kuminati, tidak kusukai, tidak kusenangi, tidak mampu kukuasai atau kukerjakan. Maka aku pun mundur ssesaat, berpikir kembali sebelum maju melangkah.

13 September 2010

eat this, Fika!

KERJAKAN, KEMUDIAN PERBAIKI SAMBIL JALAN.

Instead of waiting for perfection, run with what you've got, and fix it as you go.




Jadilah kritikus diri sendiri yang paling kejam. (be the meanest to critic yourself)
 
When things go wrong it's tempting to shift the blame. Don't

Terimalah tanggung jawab. Orang akan menghargainya, dan Anda akan mengetahui kemampuan Anda.

12 September 2010

and I was crying like a baby :'(



"Now Woody... he's been my pal for... as long as I can remember. He's brave, like a cowboy should be. And kind, and smart. But the thing that makes Woody special... is he'll never give up on you, ever! He'll be there for you not matter what."

24 August 2010

bukan muluk-muluk 3

Banyak yang bertanya kepada saya,

"Fik, memangnya lo nggak berencana untuk lanjut kuliah S2...?"

Oh, oke, percaya atau tidak, memang tidak pernah terpikirkan oleh saya mengenai S2 hingga pertanyaan itu terlontar.

Dan biasanya saya akan menjawab "Err... nggak sih, emang kenapa?"

Haha, jawaban yang sangat tiris, tapi saat itu memang saya sangat mantap bahwa saya tidak memprioritaskan kuliah S2 dalam hidup saya, karena saya merasa muak untuk menghabiskan waktu belajar belajar belajar sementara for real, in real life, so many things to see, to learn (out of the class ya), to spend, etc... jadi memang saat itu saya sangat sinis jika ditanyakan mengenai kuliah S2.

Saya sendiri tidak berencana mengambil skripsi di akhir kuliah saya, bayangkan semua orang yang mendengar lalu kaget dan berkata pertanyaan yang sama,

"Memangnya lo nggak berencana untuk kuliah lanjut ke S2...?"

Okah,, maafkan saya yang punya pemikiran berbeda, tapi ini adalah hidup saya, bagi saya belajar itu tidak mengenal tempat dan waktu, juga gelar (saya tahu saya memikirkan kuliah, tapi tidak terlalu memikirkan gelar, lulus dengan baik dan mendapat banyak ilmu untuk banyak berkarya adalah tujuan saya)

Setelah beberapa lamanya, rasa sinis saya pun berkurang, dan pikiran mulai terbuka lagi. Tapi bukan berarti saya akan PASTI lanjut ke S2.. hanya saja...

JIKA memang kesempatan itu ada (hey, kuliah tidaklah murah), mari saya berandai-andai... andaikata saya mendapatkan kesempatan untuk lanjut kuliah S2, ada kriteria-kriteria sbb

1. Beasiswa
2. Di luar negeri
3. Studi-nya berkaitan dengan  ART

Saya tahu apa yang saya suka, saya minati, saya ingin konsentrasikan. Dan jika memang kesempatan itu ada, maka berikanlah saya: SVA a.k.a School of Visual Arts yang ada di New York, United States.

Sodara-sodara, inilah hal paling muluk-muluk yang pernah saya pikirkan, namun bukannya tidak mungkin. hehe

Jadi, jika ada yang bertanya lagi,

"Memang lo nggak berencana untuk kuliah lanjut ke S2...? Bukannya harus skripsi ya?"

maka saya akan jawab,

"Hm, sejauh ini gw nggak memikirkan S2, tapi bila kesempatan itu memang benar-benar datang, maksud gw dalam bentuk beasiswa S2 ke luar negeri, pastilah gw akan ambil studi tentang art, masihkah gw butuh skripsi ilmiah?"

"Hoo, elo memang beda, sih, ya, Fik" (akhirnya terlontar juga kalimat itu dari mereka)

"Yah, termasuk... bagi gw, kuliah S1 itu adalah untuk memenuhi kebutuhan di dunia kerja, sementara kuliah S2 itu untuk memenuhi kebutuhan bagi batin maunya kita belajar apa"

agree? you don't have to :)

Senayan City 6 Feb'09

bukan muluk-muluk 2

Saat ini, saya punya tempat kerja impian. Sekali lagi, jangan samakan arti kata 'impian' dengan sekadar 'impian'. Bagi saya, bukanlah muluk-muluk sebuah impian.

Mungkin akan lebih tepat (dan realistis) kalau saya menyebutnya 'target' kerja. Well, I don't really feel comfort with that, but that's fine.

Tempat kerja 1
Setelah lulus, sebagai mahasiswa periklanan, saya harap saya bisa bekerja di agensi periklanan multinasional yang ada di Jakarta. Dan hati saya jatuh pada pilihan:

LB a.k.a Leo-Burnett




and the reason is simple, only because of his principal of advertising (if we want to call it like that). Firstly I read this at one of my lecture at campus.


yeah? okay, my plan is I HAVE to got internship there at my last term of study, and wish I also can continue to work and taste the full experience to work in advertising agency, there.


Tempat kerja 2
Ini bukanlah cadangan, ini bukanlah alternatif, melainkan tahap selanjutnya yang ingin saya raih dalam dunia kerja.

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata


Saya sangat ingin menjadi bagian dari agent of change negeri ini, dan saya sangat mencintai negeri ini dengan kekayaan budaya dan keindahan alamnya. Saya harap, dengan segala ilmu (termasuk ilmu periklanan yang saya punya) saya bisa berkontribusi dalam sektor pariwisata Indonesia.

Hm, berarti dalam langkah saya di dunia kerja nanti, saya harus mempersiapkan diri untuk ikut ujian CPNS, ya..

Gedung Sapta Pesona
saya selalu meliriknya tiap kali melewatinya
berdoa :3


Tempat kerja 3

Inilah cita-cita terbesar saya, sejak saya duduk di bangku SMP :3 (keinginan 2 tempat kerja sebelumnya  muncul di saat kuliah). Saya sangat ingin menjadi animator dalam hidup saya, mendirikan sebuah studio animasi, mempekerjakan banyak animator berbakat dari Indonesia, menciptakan animasi dengan cerita-cerita yang inspiratif, dan membawa nama animasi Indonesia ke kancah dunia.

Inilah mimpi saya yang paling muluk-muluk, namun sekali lagi saya katakan, 'mimpi' bukan sekadar mimpi belaka. Mimpi ini adalah satu hal yang selalu terpatri dalam benak saya, sejak pertama kali ia lahir di hati dan pikiran saya yang masih SMP.


Semua tulisan ini bukan berarti saya tidak sedang berusaha, hanya saja saya memang dihadapkan dengan jalan yang tidak lurus, tapi saya tahu di ujung jalan tersebut adalah tujuan-tujuan saya yang pasti.

Saya hanya ingin menyampaikannya, agar saya sendiri tidak pernah melupakannya, karena mimpi yang kita tulis, sejauh ini dipercaya sebagai sesuatu yang akan tercapai (amin).

bukan muluk-muluk 1


I always have dreams.

Aku selalu punya mimpi. Dan, please, walaupun itu adalah kata 'mimpi' janganlah memaknainya sebagai sekedar 'mimpi' belaka.

Karena mimpiku bukan muluk-muluk.

I always wanted to be:

A. Animator

I'm a Walt Disney wanna be, adore Hayao Miyazaki, loves Japanese animes. Ask me about my favorite studios: Ghibli, MadHouse, Pixar, Walt Disney (of course), Sunrise.


B. Writer
either a novelist, or a journalist

Jostein Gaarder always be my favorite writer, I feel I have a similar thoughts with JK Rowling, I love novels, books are amazing, arrr... *lapar dan haus buku


C. Comicus/illustrator/painter/artist

I LOVE CLAMP works, Usami Maki's, Chika Umino (Honey & Clover is her masterpiece), and I ever wished to enter college studying art, paintinf all the time, etc. But, hey, now, I'm and advertising student, errr.

D. Photographer


I joined the team in high school, joined the team at campus, photo hunting instead (or along with) hanging out the mall or anywhere.


E. Traveller
world is waiting for me *lol


get ready with your camera, and shared the magnificent planet with others.

you know what my favorite quote ALL THE TIME?

"IF YOU CAN DREAM IT YOU CAN DO IT" -Walt Disney-

well, mister (or master), you really change me a lot with yourself, your saying, and your works :)

23 August 2010

another flicks


Being in a relationship is never like in the movies, you know where there’s a big, dramatic good-bye speech, and somebody’s looking out of the back window of the cab as the music swells? At least, that’s not the way it was for me. No, in real life the very end is more like a fizzle. (Grayson Ellis – Episode 12 “Scare Easy”)



Yeah, beberapa saat lalu gw sempet posting soal tv serials yang lagi gw ikutin banget :) ternyata dari semuanya memang belum lengkap tanpa yang satu ini, harus gw akui bahwa serial ini must see, funny, and quiet sweetly twist your heart and mind.

It's Cougar Town, all!

cougar town family

Sesuai dengan kutipan di atas, alur cerita Cougar Town memang lebih casual dan natural, kisah cinta yang tidak dibuat-buat namun tetap menyentuh, dengan kemasan yang sederhana, sedikit twisted, dan funny tentunya. Always make me waiting for another 20 minutes episode every week :)

The main character is Jules Cobb played by amazing Courtney Cox. She's really bringing the character good! Baru aja cerai sama suami, punya anak hampir kuliah, takut sendiri sehingga berburu pasangan hingga yang masih daun muda.

The good things about this serial is the relationship between all the characters, bagaimana hubungan mantan suami-istri yang berjalan biasa-biasa saja, tetap bisa bersama-sama, the idea of family, the idea of life, motherhood, etc.

okay, enough with the talk I'm just gonna put my favorite quotes here, especially at thanksgiving moment :)


Jules preparing the speech for thanksgiving

For me, it’s really about family, and I’m not talking about just the blood, because it’s bigger than that. Family is about all the people that you choose to let into your life. Family is about support and working through things, eventhough you can care so much, you can scream and fight just as easily as you can make love....... Anyway I’m just really thankful that you’re all part of my life, I am, I love you guys. Let’s eat. (Jules Cobb – Episode 9 “Here Comes the Girl”)


welcome to the family :)