take it easy, so life will be

Menyadari bahwa saat ini saya hanya ingin membuat hidup saya terasa lebih fun, maka sayalah yang harus membuatnya seperti itu. It's no kidding, you are what you want, you are what you say, you are what you eat, and you are what you be.
Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

08 January 2011

right at the moment



Akhir-akhir ini merasa kelam.

Sekeras apapun gw berusaha membuat hidup gw lebih baik, ternyata memang awan kelabu itu akan terus hadir di sekeliling gw.

Bukannya mau pesimis, tapi ini bukan lagi sekadar hidup dengan optimis atau pesimis, bukan lagi sekedar dua hal itu. Ini tentang hidup yang sebenarnya, yang nyata, dan cuaca akhir-akhir ini makin mendukung jeleknya suasana hati gw.

Walaupun begitu gw tetap berusaha mempertahankan sinar dalam diri gw. I know, it's heavy dark cloud around myself, but that doesn't have to make me like one, too. Di tengah suasana kelam, kita harus bisa mempertahankan sinar diri kita, mungkin gw melantur, tapi maksud gw di sini ialah semangat.

Semangat untuk tetap bertahan di tengah situasi ini, sekeras apapun, sesulit apapun, sesakit apapun, sesedih apapun, kita tidak boleh mematikan sinar kita, kita tidak boleh memadamkan semangat kita. Karena kalau sinar semangat itu hilang, maka semuanya akan menjadi benar-benar kelabu, tanpa sumber cahaya lagi.

Oke, memang terdengar seperti lanturan, tapi  gw yakin ini masih suatu yang relevan. Saat ini gw benar-benar butuh mengeluarkan apa yang gw rasakan, suasana kelam yang mencekam gw akhir-akhir ini. Mereka datang secara diam-diam, bahkan di saat gw merasa semuanya akan baik-baik saja, gw merasa bahwa semua tidak akan sebegitu baik.

Tidak bisa lagi berpikir optimis, tidak juga pesimis, saat ini semuanya terasa samar, tak terbaca, dan membuatnya makin menakutkan. That's the truth of real life is. Parah ya, kenyataan dari yang paling nyata akan hidup yang sebenarnya.

Beberapa postingan dulu, gw bisa menuliskan hal-hal yang menyenangkan dalam hidup, yang harus diakui juga gw alami, dan mungkin orang lain juga alami. Namun saat ini gw mengalami bagian dari hidup yang buruk, bukan tidak menyenangkan sama sekali, namun terasa sangat buruk. Awful, if I can say.

Dan mungkin beberapa orang lain juga sempat, atau sedang mengalaminya.

Gw harap, walaupun di tengah kondisi seperti ini, gw tetap bisa mempertahankan sinar semangat gw, dan tidak akan memadamkannya.

Karena gw pernah merasakan hal-hal yang menyenangkan dalam hidup, gw tidak boleh tenggelam dalam situasi kelabu ini seakan hal-hal menyenangkan itu tidak bisa diraih kembali.

Pasti bisa, dan itu bukan optimisme, itu bukan pemikiran, it's not thoughts, it's faith, itu keyakinan. Keyakinan yang kadang menakutkan, namun tanpa itu, sinar semangat ini tidak akan bertahan.

Have faith, Fika, have faith.

19 August 2010

again for my best time

Usia duapuluh sudah saatnya mengetahui apa yang paling berarti bagi dirimu, mengetahui apa yang kamu inginkan, apa yang kamu sukai, dan apa yang akan kamu upayakan untuk itu semua. by fiEkHa

dan inilah adegan-adegannya:



hm? apa ini terbungkus kertas putih?





*ngubek ngubek buka buka
eeeh?!!! *shocked





sketchbook! ini sketchbook! kyaa!!





ada tulisannya: "Happy birthday kaak!!! mama & uzie"
oooooo... *senang :'-)



*adegan ini ialah dengan dramatisasi :)

tapi kebahagiaanku bukanlah drama, it's for real :)))) thank you for the gift! I LOVE IT, best mom and sis eva!

saatnya aku menjalani level duaku :)

24 July 2010

Akselerasi

Tersebutlah sebuah percakapan kehidupan seseorang di suatu tempat nun jauh entah di mana.

Ibu: Nanti untuk warisan mama buat kamu, kamu mau pilih apa? Rumah atau apartemen? Harus tau mau apa, ya, jangan sampai nanti rebutan sama adek kamu
Anak: ...
Ibu: ... Mama yakin, aku udah bisa ambil keputusan di usia segini?
Anak: ... aku belum tau, lho, apakah nanti aku bisa berubah kebutuhan, sekarang bisa jadi beda sama nanti, kan?
Ibu: Ya... ambil resiko sama pilihan yang harus kamu ambil sekarang. 
Anak: ...
Anak: ... cepet banget, sih... aku ngerasa kayak hidupku dipercepat banget... kayak diakselerasi... 
Ibu: Memang begitu hidup kamu sekarang, Nak. Akselerasi.

Akselerasi.

Based on that conversation, satu kata yang akhirnya gw peroleh untuk mewakili kehidupan gw selama beberapa tahun terakhir. Ibarat alur yang dipercepat beberapa tahun, gw belum mencapai kursi 20 tahun gw dan... I already got much on my shoulder.


Akselerasi.


I didn't say I hate it, it's just... the unconditional situation I noticed.

Nothing I can tell more but conversations, manusia selalu berdialog, seringnya adalah hal-hal yang kadang menyentil cara pikir dan cara pandang seseorang, tak terkecuali gw sendiri.

Fakta.

Ibu: Untuk beberapa orang seperti orang yang tidak mampu atau anak yatim piatu, hidup mereka berjalan dalam kondisi akselerasi, Nak. Bapak kamu juga dulu itu begitu, mama juga, sama si anak kecil tadi (adalah seorang anak, Ayahnya baru aja meninggal dunia, dan ibu/kakaknya sedang diopname, sehingga sehari2 anak itu tidak sekolah dan dititipin sama keluarga pemilik toko di sebelah) juga....
Ibu: ... kamu juga, Nak. Udah saatnya kamu bantu ibu dalam memikirkan kelangsungan hidup kita. Berkontribusi ikut memikirkan semuanya... bantu ibu

Gue pun hanya bisa diam, dan berpikir.


Akselerasi adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hidup yang gw jalani saat ini.

09 December 2009

Cerita dari Banjarmasin

Ada satu kejadian mengesalkan dan amat-sangat-vital dalam perjalanan kemarin...



...yaitu ketika dengan mendadaknya DIGICAM GUE MATI/RUSAK. Bahkan saat kita baru saja menunggu KEBERANGKATAN DI BANDARA Soekarno-Hatta. Jadi, ceritanya kita lagi foto-foto menghabiskan waktu, lalu tiba-tiba dengn indahnya: zzzz. Matilah itu digicam, dengan kondisi LENSA MASIH MENJOROK KELUAR.

Man... kena nasib apa gw... gimana caranya gw jalan-jalan TANPA MEMOTRET!??!?!

Eits, bukan berarti tanpa soluuusi, nih. Karena gw dari awal udah menyiapkan SLR analog gw, hanya saja BELUM ADA FILM-nya., ternyata tante gw juga membawa digicamnya, hanya saja BELUM ADA BATERAI-nya.

What kind of traveller we are? Huh? Bisa-bisanya nggak prepare kayak begindang.

Okeh, dimulailah perjalanan dengan Merpati Airlines (dapet makan siang, loh! Mantab) menuju Banjarmasin. Setibanya di bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, pemandangan pulau Kalimantan menggantikan pemandangan sehari-hari gw di pulau Jawa. Itu, ya, luaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaassss banget, langitnya kelihataaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan banget, wuah! Pokoknya gw landing di bandara-nan-kecil-namun-lapangannya-luas itu dengan mengumpat-umpat karena NGGAK ADA KAMERA untuk memotret pemandangan tersebut. Hiks...

Baiklah, setidaknya kita harus berusaha untuk mencari film dan baterai. Masih ada 3 malam di Banjarmasin, semoga waktu mau bertoleransi sampai kita siap dengan perangkat memotret. Ternyata oh ternyata... setiba di Banjarmasin, kita yang langsung diantar ke sebuah daerah bernama RANTAU, dan sepanjang perjalanan itu yang namanya FUJIFILM... jarang sekali ada.

Ternyata kami datang ke tempat yang cukup terpencil sodara-sodara. Jarak dari kota Banjarmasin ke daerah Rantau itu sekitar 2,5 jam, dan selama beberapa hari sanak sepupu kami mengantarkan bolak-balik Rantau-Banjar, wuah... nggak kebayang, deh, gimana lelahnya menyetir mobil selama itu, mana hari udah gelap pula.

Rantau, adalah kampung halaman nenek gw. Di sana ada sepupu nenek gw, dan rumahnya adalah yang kita singgahi untuk menginap. Selama dua hari di sana kita ditawarin makanan banyaaaaaaaaaak banget, dan karena tidak enak menolak maka makanlah kita itu semua. Mulai dari cemilan, kue-kue khas Banjar, buah kesturi (this one is interesting ), sampai makanan berat. Alhasil? Gw diare 2 harian gara-gara isi perut gw yang kelewat campur-aduk. Penyakit perjalanan gw paling utama: diare akibat makan tak teratur.

Rantau itu benar-benar sebuah desa. Jauuuh, hanya ramai oleh penghuninya. Cakep, lho! Di sana langitnya bener-benar kelihatan luaaas dan besaaar, dan biruuuu sekali. Lalu begitu jam 10 pagi ke atas, matahari mulai terasa sangat silauuuu (saking luasnya dunia di sana), I can barely open my eyes, sakit banget, deh mata gw (mata sensitif, nih). Baru ingat di Kalimantan itu udah mendekat ke garis ekuator/khatulistiwa, jelas aja terik parah kayak begini.

Cuma seterik-teriknya matahari di sana, menurut gw udaranya masih termasuk dingin dan adem (tidak sepanas dan seberdebu Jakarta), mungkin karena musim hujan? Soalnya setelah 2 hari di Rantau (tanggal 26 dan 27 saat idul Adha) kemudian kami diantar ke Banjarmasin, pusat kota, dan itu cukup mendung-mendung sehingga ketika akhirnya di sana kami memperoleh ROLL FILM dan BATERAI ALKALINE, hasilnya kurang memuaskan akibat cahaya yang tidak seterang ketika ada di Rantau.

Ugh... sebalnya hati ini mengingat nggak ada foto-foto ketika kita di Rantau. Padahal itu menurut gw termasuk penting secara itulah kampung halaman nenek gw.

Tapi, alhamdulillah di 2 hari yang tersisa (lebih tepatnya 1 seperlima hari, karena di hari terakhir kita pulang naik pesawat jam 7) dapet foto-fotolah. Kita pergi ke pasar apung yang terkenal di iklan RCTI oke dahulu kala jaman kita masih kecil. It’s quite interesting mendapati segala aktivitas warga sekitar sungai Barito tersebut berkisar di atas perahu. Bahkan pagi itu, ada perahu yang udah kayak kedai, orang-orang pada sarapan di sana, kayak kita di sini sarapan nasi uduk pake kursi dan meja. Lalu ada juga pom bensin (dengan logo dan warna khas pertamina, sumpah, deh!) di atas air, mereka menjual bahan bakar kapal, karena rata-rata kendaraan warga daerah tersebut ialah perahu.

Sedikit menakutkan...tapi gw melihat ada kuburan di atas air. Hiiiy...! apa itu Cuma abang-abang yang jualan makam, yah? Aih... kagak berani ngambil fotonya.











sarapan di perahu :D



Sayangnya, sungai tersebut udah berwarna kecoklatan. Yang ada selama di perahu-yang-harus-diduduki-dengan-seimbang-kanan-kirinya itu gw nggak berani, deh, yang namanya MENYENTUH AIR, masih mending pantai ANCOL, deh!

Sayang sekali yang kedua, adalah cuaca pagi itu yang mendung-mendung sehingga gw nggak bisa mendapatkan hasil foto yang bagus dari SLR analog gw. :(

Serunya, kami mengakhiri perjalanan di perahu tersebut dengan mampir ke PULAU KEMBANG. Itu adalah pulau kecil yang dijadikan taman nasional mini untuk MONYET. Yap, monyet, sodara-sodara, sebanyak SATU PULAU. Baru aja perahu menepi dan datanglah itu meloncat-loncat ke dalam perahu berusaha meraih apapun yang bisa mereka makan, sementara orang-orang di dalam perahu semua menjerit-jerit ngeri. Hahaha...

Memberanikan diri untuk turun ke pulau, mengitarinya memandangi monyet-monyet yang ribut dengan suara ‘ngiiiik...ngiiik...!!!’-nya; ada yang berantem; ada yang anteng; ada yang lagi gendong anak; ada monyet yang GEDE banget kayak BABON itu bulunya astaganaga!

Tetap tidak ada foto untuk wisata pulau kembang ini. Karena gw nggak berani mengambil resiko kamera gw kenapa-kenapa (diembat monyet misalnya), minimal takut abis kalau itu kamera nyemplung ke air gara-gara dikagetin monyet. Soalnya, kacamata pun disuruh copot (kata petugasnya pernah ada yang diambil sama monyetnya), gimana pula gw bisa memotret dengan SLR gw??? I’m blind with those lens :D

Selesailah perjalanan kami di pagi itu di sungai Barito nan luas dan cokelat. Sisa-sisa hari kami di Kalimantan dihabiskan dengan tidur siang, nonton TV, hahahaha. Tak lupa belanja oleh-oleh dan pergi ke pasar untuk beli buah KESTURI as a gift for my friends in Jakarta.

Jadi, ya... selama di Banjarmasin itu makanan yang kami konsumsi lebih beda dari biasanya. Di sana hampir semua adalah olahan ikan-ikanan, jarang ada ayam atau daging. Ada, tuh, namanya Gabus bumbu habang; habang berarti merah; merah dari cabe; tapi itu hanyalah cabe kering yang udah dibuang bijinya; alhasil menjadi bumbu yang tidak pedas dan rasanya aneh :p kayaknya untuk satu jenis masakan ini aja lidah gw nggak cocok; kurang spicy, hehe. Alhamdulillah, karena masih perayaan idul Adha, di Banjarmasin kami mendapatkan daging sapi dan kambing, dan di hari itu gw makan nasi pakai rendang sapi; makanan paling normal selama gw ada di sana. Hehe.

09 November 2009

Living at dorm house




Sudah hampir genap 2 minggu gw nge-kos. Sebenarnya kalau ditanya “Gimana rasanya nge-kos?” maka jawaban gw “Hm...nggak ngerasa apa-apa, eveything it’s just the same”.

Bukannya sombong, nyeleneh, meremehkan atau apa... faktanya adalah gw udah tenggelam dan kelabakan sama kesibukan yang gw ambil di kampus akhir-akhir ini. Gw sedang membelok jauuuh dari jalan hidup yang sebenarnya udah gw pilih. Man... gw tenggelaam! Help! Gw kayak orang gila yang melakukan multi-tasking lebih dari 3 kegiatan dalam sehari! Itu termasuk kuliah tentunya yang akhir-akhir ini sedang banjirrrrr tugasss.... mamam tuh!

Yang ada? Pulang kosan udah malam, seperti biasa kalau pulang ke rumah, Cuma jadi tempat untuk beristirahat dan tidur; kalau di rumah sih masih bisa nonton TV; di kosan hiburan kami hanyalah radio Jak dan Trax; tapi itu nggak masalah, udah capek pula mana sempet nonton.

Hmm... yang beda mungkin ini: lebih banyak waktu luang ketika hidup di kosan. Punya rumah yang jauh dengan perjalanan satu jam memang bikin kita kehilangan banyak waktu. Itulah yang paling gw butuhkan saat ini: waktu; untuk gw pakai mengerjakan hal2 di luar kesibukan kuliah&kampus gw, contohnya: gambar komik, nulis cerpen, blogging, edit foto, dll.

Yah... kegiatan2 kayak gitu emang jadi bisa dikerjakan banget kalau di kosan, tapi yang namanya TUGAS KULIAH, hah! Jangan tanya, deh: KALAH SAMA GODAAN UNTUK TIDUR. Ngantuknya paraaaaah banget kalau udah bawa pulang tugas kuliah ke kosan, gw itu tipe yang nggak otaknya nggak bisa kerja keras malam2, lebih fresh saat pagi... hahaha, jadilah itu ngerjain tugas pagi2 melulu.

Overall, living at dorm house is not bad for me and my sister. It’s already be a part of our life, nothing to complain or everything, because it’s our plan to live here for a while.

25 September 2009

daun mangkok





Kembali bernostalgia...

Waktu kecil dulu, gw dan adek gw suka menggunakan daun mangkok ini buat main masak-masakan (karena bentuknya yang kayak mangkok) :-)

Daun mangkok ini dulu banyak tumbuh di halaman rumah bude kita, dan dulu kita emang sering main ke sana. Dan kasihanilah itu pohon, daun-daunnya dicabutin sama dua cewek kecil yang lagi menikmati boomingnya main masak-masakan. Haha.

Beberapa tahun kemudian, gw baru tahu kalau daun ini salah satu daun2an yang bisa dipakai untuk masakan nusantara (masakan Indonesia).

Beneran, yah?

Sampai sekarang pun, di halaman rumah bude gw itu masih ada pohon daun mangkok ini. Hanya saja lebih utuh dibanding beberapa tahun lalu. :-D

29 June 2009

Kenapa laut...

Belum lama ini, gw pergi ke pantai Anyer dalam rangka acara tahunan FISIPERS dalam rangka rapat kerja. Setelah beberapa minggu persiapan oleh panitia penyelenggara yaitu dari anggota baru, berangkatlah 25 orang (banyak yang berhalangan hadir) pada Selasa, 16 Juni 2009 lalu!

Berangkat sekitar jam 2 siang, sampai di lokasi sekitar jam 5 sore. Setelah berbenah langsung pergi ke pantai yang jaraknya deket banget dari villa tempat kita menginap. Dan langsung aja dengan semangat menggebu-gebu gw berteriak:

"GUE SAMPE LAUUUUUTT...!!! WOO-HOOOO!!!!!"

Tampak norak tapi memang begitulah bagaimana gw bersemangat. Gw udah menantikan hari ini sejak lama, hari di mana gw melihat laut yang oke banget, dan begitu dekatnya. Ahh... dasar anak daratan, jarang melihat laut, beginilah jadinya.

Salah satu niat utama gw adalah chasing a blue for my best friend's birthday gift. Yap, selama 3 hari 2 malam di sana, gw mencari momen yang tepat untuk gw bisa menangkap view laut dan langit yang bertumpuk biru. Gw nggak tahu kenapa, sejak menyadari ultah orang ini sudah dekat, hadiah inilah yang terpikirkan oleh gw.



Judul dari postingan kali ini adalah 'Kenapa laut...'. Kalimat tersebut adalah kalimat yang terbersit di benak gw saat gw menikmati laut di Anyer kemarin. Karena entah kenapa... melihat pantai dan laut, gw jadi teringat dengan almarhum Ayah gw.

Kenapa laut... mengingatkan gw dengan Bapak, ya?

Soalnya gw keinget, dulu waktu gw masih SD, pernah kita sekeluarga ke laut. Dan Bapak adalah orang yang kalau pergi berlibur ke suatu tempat, beliau pasti akan melanglang buana ketimbang mendekam di kamar hotel. And his partner in crime-nya adalah... gw.

Waktu ke laut dulu, gw inget beliau ngajak gw (sama adek gw tentunya) untuk melihat laut di malam hari, saat sedang pasang2nya, hal yang juga gw lakukan di pantai Anyer kemarin.

Dalam kondisi yang seperti liburan saat ke Anyer kemarin, bener-bener mengingatkan sama moment2 liburan sekeluarga, di mana seringkali bokap gw ngajak jalan keluar, lihat2 sekitar di tempat yang asing dan baru tersebut.

26 June 2009

people in these movies

Baru-baru ini gw nontonin Bride Wars sama 27 dresses. Dua2nya gw suka daaan... dua2nya menceritakan tokoh2 yang near to my real life.

Singkat-singkat aja, mari langsung aja...

people #1 Bride Wars

Story about Emma and Liv friendship.

I saw me and a friend of mine here :)

Okeh, maksudnya bukan mirip di wajah maupun perilaku tokoh2nya. Tapi, the relationship between them, their friendship, it reminds me with my long-lasting friendship with her. Dan film ini membuat gw berpikir, mungkin kalo kita berada dalam posisi mereka, kita memiliki keinginan yang sama yaitu... menjadikan one of us the bride's maid.



"I want you to be my bride's maid", "Yes, me too"


Adegan yang paling menyentuh dari film ini adalah scene ketika Liv dan Emma akan memasuki pintu masuk yang berbeda di The Plaza. Saat pernikahan mereka, mereka ingin didampingi satu sama lain, it's just a simple wish. Tapi apa daya, akhirnya mereka harus masuk ke pertengkaran yang sangat mereka sesali.

Waktu tatapan mereka bertemu di pantulan pintu masuk yang terbuat dari cermin, itu adalah saat di mana mereka sadar, bahwa mereka itu sebenarnya saling membutuhkan. Apalagi dengan persahabatan mereka yang sudah sangat lama seperti itu.



people #2 27 Dresses

Story about wedding (again), dan yang menjadi point of interest gw di sini adalah hubungan kakak-adik antara Jane dan Tess.


"I always jealous with you"


Dua saudara yang tidak bisa melihat kelebihannya masing-masing dan merasa bahwa saudaranya jauh 'lebih-lebih' darinya. Oke, gw dan adek gw merasakan yang sama juga. Dan kadang-kadang kita mengungkapkannya satu sama lain, membuat kita heran sendiri.

Yeah right, I'm jealous with my sister... she's so creative like her hands are gifted with talent to create cute stuffs.

And... guess what? My sister once said that she jealous to me when I got so many awards in high school, and when I got in so easily to college (well, not with easy high school life).

Sometimes she jealous to me because I'm having so many friends.

But, in other hand I jealous to her for having good friends.

Hahaha....

swim baby swim

Hari ini gw dan adek gw berencana untuk berenang. Yah... itung2 olahraga-lah... daripada kita berdua membusuk nggak jelas di rumah (semester pendek gw cuma kuliah senin & rabu, adek gw lagi liburan pasca UN SMA).

Rencananya berenang di Bukit Golf, favourite place to swim (pernah juga gw posting sebelumnya). Sebelum ke sana, gw sama adek gw yang nebeng mobil mommy mampir dulu ke rumah bude. Rumah bude Farid emang satu komplek, jadi nggak jauh-jauh amat. Di sana... pagi2 jam 8 ternyata keponakan kita alias HANA (anak sepupu kita di sana) sudah banguuun...! dan diajaklah ia berenang sama kita, mm... lebih tepatnya nyokap gw yang ngajak, hehe.

Jadilah!

Berenang sambil babysitting!

Awalnya, gw sama adek gw bingung juga, niatnya mau olahraga jadi kepikiran kalo kita pastinya harus mengawasi sang adik kecil (oiya, fyi, dia baru umur 3 tahun-an). Yah...intinya nggak bisa berenang bener-bener ke tempat yang dalem misalnya, terus... kita juga harus ngajak ngomong terus si Hana ini. Aih aih... what an experience.

Dan... di penghujung hari yang makin siang dan kian menggosongkan kulit kita semua, ternyata si Hana ini ngaja lomba renang! Ah, jadi di sepanjang kolam yang dalam itu emang ada salah satu sisinya yang cetek (mungkin sengaja dibuat supaya para orang tua yang mau berenang bisa sambil renang sama anak2nya di kolam yang dalam, sementara anaknya tetap ada di sampingnya di bagian yang cetek). Jadi... gw, adek gw, dan si kecil Hana lomba renang deh! si Hana jalan di bagian yang cetek, terus, gw sama adek gw di sampingnya berenang di kolam yang dalam.

Dan...! believe me! gw bener-bener berenang! sampe pegel! olahraga beneran, deh! ahaha... si Hana ini akhirnya menang lomba gitu (yaiyalah, baby, kamu kan jalan...hehe). Sementara gw juga puas karena tetap bisa kesampaian berenang sambil ngawasin sang ponakan.

:)

02 May 2009

the feeling of losing, April 30th



Ada 3 dosa yang paling dibenci oleh Allah SWT. Pertama adalah berzina, kedua adalah durhaka kepada orang tua, dan yang ketiga adalah mencuri. Ditambahkan, kenapa mencuri masuk ke dalam 3 hal tersebut, adalah karena pencuri hanya mengetahui perihal mencuri, tanpa menyadari bahwa mungkin saja dia mencuri dari anak yatim. Sementara, anak yatim sendiri, adalah seorang yang paling dilindungi oleh Allah SWT, dan dosanya amat sangat besar bagi orang-orang yang berbuat jahat kepadanya. (said my mother)

Gw baru saja kehilangan handphone. Itu adalah sebuah barang yang dibelikan saat gw kelas 3 SMU, pertengahan semester awal, oleh nyokap gw, sebagai hadiah atas prestasi. Umurnya belum lama, namun Kamis, 30 April 2009, pagi kemarin, hape tersebut hilang. Dicuri orang lebih tepatnya.

Gw berangkat ke kampus lebih pagi dari biasanya. Yang tadinya jam 6.30-7.00, Kamis kemarin gw sengaja berangkat jam 06.00 agar sempat membaca2 bahan untuk kuis SSI di perjalanan. Seperti biasa gw naik angkot 19 dari terminal kp rambutan, dan membaca2 bahan kuis SSI yang parahnya kebangetan.

Hampir menuju kampus, gw tertidur. Ini adalah salah satu kesalahan gw: LALAI. Tidur di angkot sudah menjadi kebiasaan karena perjalanan gw yang panjang ke kampus tiap paginya, dan biasanya berlalu tanpa ada masalah. Masalahnya, pagi itu gw sempat mengeluarkan hape (yang biasanya juga nggak masalah) dan tertidur. Gw ingat ada seorang mas2 yang duduk di hadapan gw, dan pas gw terbangun dari tidur singkat gw, dia tiba2 udah ada di sebelah gw. Duduk dengan amat sangat menempel.

Tentunya gw curiga berat sama orang tersebut. Tapi terjadilah kesalahan kedua gw, di mana gw berpikir bahwa orang itu adalah MANIAK, tapi nggak kepikiran bahwa orang itu adalah PENCURI. Dengan segera gw turun dari angkot pas udah sampai tujuan. Dan di perjalanan menuju FISIP, gw sedang akan mengambil hape gw di tas ketika kemudian gw mendapati tas gw: retsletingnya terbuka.

Ingatan tentang orang aneh di angkot muncul dan kecurigaan gw barulah mengarah ke pencurian. Dengan panik gw membuka tas gw berharap orang tersebut gagal mencuri, tapi ternyata... gw-lah yang gagal terhindar dari musibah kelalaian. Human error.

It’s been a really tough day. I cried all morning.
Gw masih inget gimana rasanya napas gw tersengal-sengal saat kepanikan itu muncul.
Dan gw masih inget gimana rasanya sakit hati gw menghadapi situasi tersebut. Dan gw nggak bisa berhenti nangis sepanjang pagi.
Benar-benar nangis.
Gw ditemani dua sahabat yang gw temui di kampus. Kita menghabiskan pagi tersebut dengan berusaha menelepon hape gw. Usaha yang gw masih menaruh harapan di dalamnya, tapi ternyata nggak mungkin terjadi. Tercuri ya tercuri.
Kita bertiga akhirnya nggak kuliah SSI. Sebenarnya karena mereka menemani gw yang nggak mungkin bisa berpikir jernih untuk tetap mengikuti perkuliahan. Maaf, ya, kawan... but the most important thing I must say to you is Thank You.
Juga untuk semua teman-teman komunikasi 2008 yang udah menghibur dan menyemangati gw sepanjang hari. Dan tak lupa sahabat-sahabat di sekitar gw, yang tetap bisa membuat gw tertawa bahkan di saat gw sedang sesedih itu.
Hehe.
They’re the funniest friends I’ve ever had.

30 April 2009.
K770i gw hilang dicuri.
Tapi gw mendapat hal berharga mengenai orang-orang di sekitar gw.

Dan sebuah pelajaran berharga.
Ketika akhirnya gw harus memberikan kabar ini ke ibu gw. Respon pertama dari beliau adalah, “Kamu kena batunya. Karena selama ini mama lihat kamu tidak menjaga barang-barangmu dengan baik”. Tapi beberapa saat kemudian dilanjutkan dengan pernyataan beliau mengenai dosa besar seorang pencuri, terutama yang mencuri harta anak yatim.
“Yang mencuri hape kamu itu, dosanya besar banget. Bahkan biarpun kamu udah memaafkan dia, Allah belum tentu memaafkannya”. Gw tahu beliau marah terhadap pencuri tersebut. And I can feel her love to me that moment. And I feel like I can cry to know that.

Thanks’ mom.

Tetap berpegang dalam komitmen yang sudah terbentuk dulu banget. Kalau hape gw itu rusak atau hilang, maka untuk gantinya adalah gw sendiri yang harus berusaha.

Ah... gw agak trauma punya hape. Tapi dalam 3 hari pikiran itu akan berubah juga (kata temen gw :D).

Kesedihan berganti amarah. Gw nggak akan bersedia untuk membeli barang-barang yang tidak jelas asal-usulnya, terutama Handphone! Katakan tidak untuk barang panas!

Kesedihan juga berganti sebuah semangat. Ini pemicu untuk gw lebih bekerja keras lagi mencapai apa yang sudah gw rencanakan. Bekerja, mencari uang, berkarya, berprestasi. Bangkit dari keterburukan, kelakuan pencuri sinting tidak boleh berdampak buruk ke gw juga.

Good things bring good things. Bad things bring bad things.

But this bad thing, I will turn it into good things for me!

27 June 2008

manusia itu semua sama

Hmm... akhirnya, setelah sekian lama direncanakan namun belum jadi-jadi, gw kerja juga di restorannya bude gw.

Namanya 'Masakan Ibu'. Terletak di lantai 2 gedung Surveyor Gatot Subroto. Yah, isinya menu2 Indonesia gitu.

Gw dan adek gw di sana kerja sebagai... waitress. Karena tempatnya kecil (cuma ada 12 meja) jadi kita semua yang ada di sana kerja semuanya (kecuali masak dan kasir), dengan kata lain: keroyokan.

Bikin minuman dan nganter pesenan. Bersihin meja yang tamunya udah selesai makan dan pergi. Pokoknya apapun yang dilihat dirasa harus dikerjakan ya, dikerjakan. Nggak boleh keliatan nggak ngapa-ngapain sama customers.

Menjadi waitress alias PELAYAN itu bener-bener, deh. MUKA TEMBOK KUDU MUSTI. Mental gw en adek gw dibanting banget. Karena ketauan kita anak masih baru alias cuma magang kecil2an, jadilah awal mulanya:

"cewek... cewek..." ucap salah seorang pelanggan dari beberapa bapak2 kantoran pelanggan pertama kita.

Yah, nyadar, sih, dipanggil, tapi nggak respon karena gw en adek gw lagi sibuk guntingin nomor meja. Akhirnya:

"mbak... mbak..." dan karena adek gw yang duduk menghadap tuh orang2, jadilah ia yang bangkit menjamu mereka.

Next:

Seorang bapak2 datang dari mejanya dan ngomong "Mbak, jus stroberi saya belum dateng. Sayanya udah selesai makan" kepada Mba Mila, sepupu gw yang ngurusin kasir dan segalanya.

Kebetulan gw lagi berdiri di dekatnya dan melihat adegan tersebut.

Setelah sekian lama, dan Bapak tadi udah konfirmasi untuk kedua kalinya, akhirnya jus stroberi jadi juga.

"jus stroberi pesenan siapa?"

"itu... bapak2 yang pake kacamata dan berbaju kuning. Kumisan"

Karena gw tau yang mana orangnya, jadilah gw menawarkan diri untuk mengantarnya.

"Silahkan, Pak, jus stroberinya"

"Jus stroberi siapa? Emang tadi saya mesen jus stroberi ya?"

*............................... (isi sendiri respon-lo)

*what will you do if you were in my position?

"Ah... tadi bukannya Bapak, kan? yang mesen jus stroberi?"

*gugup...gugup...calm...calm...

"Ohh... iya, ya? Bla... bla... bla... dan seterusnya gw nggak inget saking MALU PLUS SHOCK-nya... mikirr...

Gw tau Bapak itu udah nunggu lamaaaaa banget jus stroberi-nya. Jelaslah semua.

"Iya, Pak, maaf, ya, terlambat..." dengan berusaha tetap tersenyum kemudian gw beranjak pergi.

It's a PUBLIC HUMILIATION for me. Oh, ya, fyi, di sana dia duduk2 bersama kawan2 kawula mudanya, yang juga merasa kurang nyaman dengan pelayanan agak lambat di jam-makan-siang-yang emang-penuh-banget-orang-datang-tanpa-habis-sampai-jam-2.

Next:

Gw lagi jaga di counter prasmanan (jadi restorannya ada menu prasmanan ada menu pesenan). Datanglah seorang lelaki...

"Mbak... nggak ada ayam dada, ya?"

Gw melihat ke tempat makanan berisi ayam crispy-di-mana-nggak-keliatan-yang-mana-dada-ayam. Gw cuma melihat paha dan paha atas (ini masih tentang ayam crispy).

(akhirnya gw memutuskan untuk bertanya ke senior... daripada salah) "Mbak, dada ayamnya nggak ada, ya?"

"Ohh... iya... nggak ada, abis kayaknya" jawab mbaknya sambil melihat ke tempat ayam tsb (legalah gw... karena nggak terlihat bodoh lantaran nggak tau yang mana dada ayam).

Lelaki: "Jadi... ini..."

"Iya... adanya paha... atas sama bawah" jawab gw.

Lelaki: "Ohh... pahanya... kiri atau kanan?"

"............"

"Hahahahahaa..." dan tertawalah kita semua. Yah, setidaknya di depan customer.


End of story.

Begitulah... capeknya... malunya... tapi melatih mental dan jiwa dan fisik dan otak dan lain-lain dan lain-lain...

Emang... pelayanan kita lama. Terutama dikarenakan menunggu masakan pesanan yang selesainya lama (kitanya, sih, harus stand by selalu).

Berarti... kita harus selalu meng-evaluasi kesalahan kita. Dan berusaha agar berikutnya bisa siap dengan lebih baik.

Pelajaran berharga.

Bahwa menjadi seorang pelayan bukan berarti dia orang yang serendah pelayan.

Gw.

Semuanya.

It's a JOB.

And every job must taken professionally, even a job like this.

Karena pelayanan adalah segalanya. Sebagai pelanggan kita tentunya menginginkan pelayanan yang baik, kan? Apalagi ini restoran di kantoran, yang orang2nya sibuk bukan main dan makan pun di-waktu-in.

Dan setelah merasakan jadi pelayan, gw akan berusaha untuk menjadi PELANGGAN YANG BAIK.

hahaha...

pulangnya: CAPEK.

nb. Pas nganterin pesenan teh botol sama es campur, pesenan tersebut NYARIS KEPELESET dari nampan di tangan gw!!!! Uaaagh! Inget itu jadi suka panik gw! Ngebayangin kalo tuh, teh atau es campur beneran kejadian jatuh... tumpah ke tamu... dan...


gyaaaaaaa...!

20 June 2008

Bandoeng: story from Bale Endah

Jadi inget, sebenernya liburan ini sempet gw habiskan dengan pergi ke Bandung. Yah, undangan mendadak, sih, dari bude-pakde gw yg kebetulan lagi di Jakarta dan langsung ngajak kita ikut mereka ke Bandung di hari kepulangan mereka.
Langsunglah gw, adek gw en nyokap gw berbenah2 sampai akhirnya jemputan datang dan kami sekeluarga bersama pakde-bude gw itu berangkat ke Bandung.


Perjalanan panjang gw habiskan dengan membaca buku The Proposing Tree yang gw pinjem dari Tammi dan nggak sempet gw baca. Gw bawa ke Bandung sengaja karena gw inget pada hari yang sama beberapa kawan gw termasuk Tammi juga pergi ke Bandung, tapinya dalam rangka mengikuti USM atau enggak SMUP. Sementara gw? Liburaaaan! Hehehe...

Yah, karena perjalanan panjang yang nggak jauh dari godaan pergi ke negara Bossen, jadilah gw siasati dengan membaca buku tsb yg walhasil langsung memikat gw! (wahahah! Padahal klo di rumah kagak gw buka2 tuh, buku! Emang tempat juga menentukan kali, yee...)

Sampai di Bandung, kali ini kita nggak ke rumah pakde-bude yg ada di Sukagalih, melainkan rumah baru mereka di Bale Endah, tempat tempat nun jauuuuh di pinggiran Bandung (yg kalo di peta Bandung udah kagak masuk Bandung lagi), yang untuk ke sana dari Bandung butuh waktu 1 jam dengan mobil pribadi dan 2 jam dengan angkot, yang sengaja di bangun di sana karena bude gw punya pengajian dan taman bacaan di sana jadinya di lantai dua tempat tersebut dijadikan rumah mereka juga. Namanya “Nun Learning Centre – Taman Pendidikan Qur’an dan Taman Bacaan”.

Bisa dibayangkan, sebuah tempat terpencil, masih desaaaa banget, yang kalo jam 7 malem di sana sepinya udah kayak jam 10 malem, yang pada pagi hari ada suara bebek bersoang-soang (lho?), siang ada suara mbek-mbeknya kambing dan malam ada suara jangkrik yang nyaring banget. Hehehe...



Kami sampai jam 8 malem setelah 2 jam sebelumnya transit terlebih dahulu di Sukagalih untuk shalat. What an amazing place! Sayangnya karena udah malem jadi pemandangan yang terlihat Cuma gelap-gelap gitu aja.

One special thing for me that night is: the balcony. The house has balconies! Balkon! Oh! Oh! Oh... balkon! *ehm*lebay mode on*. Yeah! Ada 2 balkon, satu menghadap ke depan rumah satu lagi menghadap ke belakang rumah alias halaman luas berkolam ikan 2 dan ada kebon seladanya (uwaaa! Uwaaa! Uwaaa!!!!!).


You can see the stars from that balcony. Malam berbintang terlihat lebih indah di tengah hunian desa seperti ini, dan untuk lebih mantapnya gw mematikan lampu balkon sehingga tidak ada lagi cahaya lampu yang menghalangi gw melihat bintang2 dg lebih jelas. Hahh... im dreaming of a house with balcony. Balcony... it’s one special thing you can find from a house, especially a house like this. Haah... gw suka banget sama yang namanya balkon. Yang namanya balkon itu... memberikan romansa tersendiri yang bikin hati tenaang banget, best place, special place


Yah, malamnya serangan dingin mulai menyerang dan badan gw mendadak perih2 dan gatel2 dan terdapat bintik2 merah kecil2 yang bikin gw heran setengah mati, kenapa ya? apa ada serangga2 kecil kasat mata yang nemplok pas tadi gw gelap2an di balkon? Sumpah! Nyerinyaa!

Paginya, barulah gw bisa melihat pemandangan sesungguhnya yang terlihat dari balkon belakang tersebut. Gw bisa lihat kolam ikannya, kebon seladanya, kebon sawinya, pohon2 yang baru ditanam (masih pendek2 gitu), teruuuuus... gunungnya... ijo! Sumpah! Gunungnya itu deket banget sampe gw bisa ngeliat warna pohon2nya yang ijo! Dan gw bisa ngeliat ada pintu gua gede banget di sana (uwaah! Bikin penasaran pengen ke sana, deeh!). Eh! Dan gw juga ngeliat kumbang badak di lapangan parkir (yg adalah lapangan badminton) di rumah di Bale Endah itu! uwaa....!


Pokoknya, jauh dari kebisingan kota, jauh dari hiruk pikuk kota, jauh dari Alfamart (hehe), saking jauhnya rasanya kalo ada di tuh tempat emang bukan untuk kemana2 melainkan di daerah situ2 aja (soalnya kemana2 jauh jadi bawaannya udah males banget). Emang tempat untuk mengasingkan diri banget, pas banget buat pakde gw yang penulis, dan gw yang juga doyan nulis. What a dream place!!!!

26 August 2007

Seorang kakak...

Gw anak sulung, jadi nggak mungkin punya kakak. Tapi... gw punya seorang yang gw anggap sebagai kakak sendiri. Cewek, anak tunggal. Sekarang umurnya duah 23-an. Dan bentar lagi dia bakalan menikah.


Sebenernya dia itu kakak sepupu gw. Dan sekarang menjadi anak asuh ortu gw, karena suatu sebab di masa lalunya. Intinya, dia udah bagaikan kakak untuk gw en adek gw. Dan gw juga berharap ketika gw nggak bisa lagi menanggung sesuatu yg harusnya gw lakukan sebagai seorang kakak bagi adek gw, dia bisa membantu gw.


Dia punya keadaan yang sulit, dan ortu gw-lah yang dengan tulus membantu dia sampai sebesar ini. Dan sekarang ia punya hidupnya sendiri, tapi tetap menyayangi kita semua sebagai keluarganya. Sebenernya sifatnya keras juga, kayak gw. Tapi kalo udah urusan ‘menjadi kakak’ bagi kita, dia bener2 baik dan lembut. Gw senang itu.


Yah, gw mendoakan agar dia hidup bahagia setelah menikah, dan impiannya tercapai. Kemudian gw mau mengucapkan makasih sama dia karena mau menjadi kakak bagi kita, dan makasih juga untuk perhatiannya, semoga balasannya menjadi berkah baginya. Amieen...!


Hix... gw jadi mau nangis. Habis... mengingat masa2 berat yang udah dia lalui... dan kini ketika keluarga gw sedang melalui masa2 berat giliran untuk dia berbuat sesuatu.


Yang namanya hidup pasti ada masa2 berat yang amat sangat, dan yang namanya manusia pasti mengalaminya. Dan untuk itulah ada orang2 terdekat di sekeliling kita. Sesungguhnya manusia nggak bisa hidup sendirian.

Tapi gw tetep harus ingat, kalau

“Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang lebih dari apa yang bisa kita lakukan”