take it easy, so life will be
24 November 2010
Pameran Fotografi FISIPERS: Bingkai Jakarta
15 March 2010
damn I love Jakarta!
14 March 2010
today's first day report
12 March 2010
brand new day
11 October 2009
go home sooo late
Jum'at ini... untuk pertama kalinya gw pulang sangat malam dengan menggunakan bus dan angkutan umum.
08 February 2009
Jelajah Kota Toea: Cap Go Meh in Chinatown
Glodok atau Pecinan adalah salah satu kampung tua di Jakarta yang berada di luar kastel Batavia (Omellanden) yang dijadikan pemukiman bagi orang-orang Cina. Konon kata “Glodok” mengacu pada bunyi air mancur di sekitar pancuran yang berbunyi grojok-grojok... (Kartum Setiawan)
Hari Minggu ini, pagi jam 6 lewat 20 menit gw udah melangkahkan kaki keluar rumah dan pergi ke Jakarta. Ke mana? Ke... Kota Tua. Dalam rangka mengikuti event-nya Komunitas Jelajah Budaya (KJB) merayakan peringatan Cap Go Meh dengan menelusuri daerah pecinan alias Glodok di sekitar Kota Tua.
Mungkin beberapa orang bosan mendengar daerah Kota Tua, secara, yah... kalau ada kegiatan2 fotografi itu pasti, deh, spot paling ada dalam daftar itu... KOTA TUA. Well, you can find so many people hanging their DSLR camera or pocket digital camera, taking pictures around, bahkan... seringkali foto2 pre-wedding dan foto buku tahunan memakai setting Kota Tua.
Balik ke topik. Jadi, acara jelajah budaya kali ini bertema: Cap Go Meh in Chinatown. Kumpulnya di Museum Bank Mandiri, dan ternyata yang dateng itu banyaakkkk banget, sampai2 kita semua terbagi ke beberapa rombongan yang berjalan satu persatu dari jam setengah 8 sampai setengah 9. Dan gw masuk rombongan terakhir gara-gara gw TERLAMBAT (padahal udah berangkat jam 6 lewat) dan baru sampai sana jam setengah 9. fyuh... untung masih ada rombonganlah, dan ternyata biar rombongan terakhir tapi paling asyik soalnya tour guide-nya langsung oleh si penanggung jawab acara ini: Pak Kartum Setiawan.
Jalanlah rombongan kita yang dinamain kelompok ‘Toko Tiga’ (jadi, masing2 rombongan punya nama kelompok, kayak kelompok ‘Cheng Ho’, ‘Jin deYuan’, dll). Perjalanan dimulai dengan menelusuri Museum Bank Mandiri, dan ternyata di lantai bawahnya itu ada ruangan yang isinya sepeda2 jadul dan dekorasi ruangannya unik, yaitu dinding2nya bergambarkan daerah kota tua di masa lampau, ada gambar kereta api juga, dan ruangan tersebut dilatari suara alunan musik klasik yang pas.
Lanjuuut, keluar museum, hujan mendadak turun, jadi kita semua berteduh di kolong jalan (bypass), dan sambil menunggu ujan yang Cuma sebentar itu reda, pak Kartum menceritakan beberapa hal mengenai apa yang akan kita lihat nanti, dan beberapa sejarah mengenai daerah pecinan (Glodok) tersebut.
Rute-nya sendiri terdiri dari Museum Bank Mandiri – Pasar Pagi Lama Asemka – Kelenteng Budhi Darma, Arya Marga – Rumah Keluarga Souw – Kelenteng Toa Se Bio – Gereja katolik Maria de Fatima – Kelenteng Jin de Yuan – lalu kembali lagi berkumpul ke Museum untuk makan siang dan nonton slideshow dan Barongsai.
Di perjalanan ini, kita melewati gang2 sempit dan becek tempat rumah2 yang berdempet, di sana rumah2nya memanjang ke dalam, tapi lebarnya kecil, dan masih memiliki arsitektur yang tuaaa banget. Untuk kunjungan ke Kelenteng, kita melihat langsung bagaimana orang-orang Tionghoa berdoa sambil memegang banyak dupa, membakar uang kertas, dan Kelenteng yang paling ramai adalah kelenteng Jin de Yuan, begitu masuk ke area kelenteng, kita sudah dihadapkan dengan asap2 dari bakaran dupa dan uang kertas yang banyak sekali hingga membuat kita terbatuk-batuk dan mata pedih banget. Kelenteng yang satu ini memang selalu ramai karena merupakan kelenteng tertua di sana, dan itulah kelenteng yang selalu jadi pusat media saat perayaan imlek.
Perjalanan ini gw lalui dengan sendirian dalam rombongan gw. Haha. Sebenernya ada temen2 gw bahkan beberapa senior gw ikut, dan kayaknya ada anak kampus gw juga (tapi nggak kenal, haha), Cuma kita semua terpisah rombongan! Enak, sih, gw enjoy2 aja motret2 sendirian, menikmati perjalanan, tapi... nggak enaknya baru terasa saat lo mau memotret dirilo sendiri! Wuaa...!!! mau minta tolong orang kagak sreg rasanya. Haha.
Gw jadi nggak sabar menanti kegiatan KJB yang lainnya. Jakarta akan selalu menjadi kota favorit gw, selalu ada hal2 yang menarik yang belum gw lihat di dalamnya. Dan gw nggak akan bosen untuk explore Jakarta! Yihhhii!!!
06 February 2009
Semester baru, Jakarta Biennale, dan naik Bemo
Oke. Let’s talk about new semester. Biarpun Community sudah berakhir, dan senioritas sudah tidak ada lagi, dan kita bebas memanggil “lo-gue” sama senior2 kita, dan kita sudah resmi menjadi kesatuan keluarga jurusan komunikasi (ehm...), tapiiiii.... ternyata oh ternyataaaa, masih ada TUGAS yang harus ‘kita’ alias angkatan gw kerjakan, yaituuu.... MALAM BALAS JASA alias MBJ 2009.
Ho-ho. Singkat kata, di hari kedua kuliah terbentuklah sebuah struktur kepanitiaan yang terdiri dari semua orang di angkatan gw, dan (entah kenapa) gw terpilih menjadi.... Bendahara 2.
Hmm...
Mari pindah topik.
(Gw melihat ke security yang sedang bergaya di salah satu karya lukisan grafitti. Temannya yang sesama security memegang HP dan mulai memberi aba-aba)
Security 1: (smiling J)
Security 2: “1... 2... 3...”
Jpret!
(beberapa menit kemudian, gw sedang berpikir tentang memotret diri sendiri. Kemudian muncullah sang security 1 sedang berkeliling)
(Gw pun mendapat ide)
Gw: “Mas... bisa tolong fotoin, nggak?” (sambil menunjukkan HP gw ke Security 1)
Security 1: (geleng-geleng) “Nggak” (jawaban cepat dan singkat. Kayaknya tegang banget)
Gw: (mikir: kayaknya mas ini nggak ngerti hp gw) “Tinggal pencet tombol yang tengah aja, kok”
Security 1: (berpikir kemudian mengambil HP gw tersebut)
Jpret!
Akhirnya, gw kesampaian juga difoto. Terima kasih Pak Sekuriti.
Sekarang sedang ada perhelatan seni rupa internasional yang bernama Jakarta Biennale 2009 (am i spelling it right?). Dan gw sudah mengunjungi salah satu spot-nya yang ada di Senayan City.
Di lantai dasar, dipamerkan komik2 curhat karya beberapa murid sekolah di Jakarta dan beberapa dari anak2 LAPAS (lembaga permasyarakatan). Lucu-lucu, deh. Benar-benar komik curhat dan menunjukkan banget bagaimana polosnya anak2.
Naik satu lantai, dipamerkan karya2 seni rupa yang bersifat agak kontemporer (ini menurut gw aja, lho) karya anak2 komunitas di IKJ yang bernama Jakarta 32°C. Karya2nya unik dan menarik, ada jemuran pakaian (?_?) ada peluit2 yang digantung, ada lukisan dan grafitti, ada foto-foto yang objeknya unik banget, pokoknya baguuuus deh! Dan nggak rugi gw ke sana. Cuma, ya itu, emang dasar lone traveller, gw ke sana sendirian, foto2 pake hape, dan akhirnya... minta mas2 satpam untuk motretin gw sekali (gini susahnya klo jalan2 sendirian). Rugi, deh, orang2 yang kagak sempet ke sana. Hahahahaha.
Sebelum gw ke Senayan City itu, sebenarnya gw dalam perjalanan ke Sudirman untuk menaruh CV di gedung BNI 46 di PT Sari Coffee Indonesia untuk apply menjadi part-timer di Starbucks. Yah, berhubung temen2 gw pada berhalangan ikut semua dan gw Cuma sempet hari itu (sekalian mau ke Senayan) jadilah gw dititipi CV temen2 gw.
Perjalanan ke gedung BNI 46 itu cukup berkesan buat gw. Selesai kuliah dari Depok, gw nanya via SMS ke sepupu gw yang mengerti kendaraan umum (sering jalan soalnya), dan gw diharuskan naik bus patas AC 102 dari Depok ke arah Tn Abang untuk bisa sampai ke wisma BNI tsb. Ditungguin lamaaa banget sampe setengah jam kagak lewat2, sementara hari makin siang dan akhirnya melihat bus patas 143 Depok-Grogol yang ada via Ratu Plaza-nya gw langsung naik. Berpikir untuk naik busway dari sana, gw sms sepupu gw lagi, nanya klo naek busway turun di halte apa, ya? Tapi nggak ada halte yang langsung ke BNI 46, gw harus turun di Karet dulu lalu.... naik BEMO! Wah!? Gw gw cukup juga mengetahui bahwa hari gini masih ada Bemo di Jakarta...!
Rasanya naik bemo? Ya... itu, jalannya pelan, duduknya deket sama knalpot dan udah, deh, polusi banget gw posisi duduk gw. Tapi, seru juga, lho.
Berhenti di depan London School, gw nyeberang jalan, jalan kaki beberapa menit, lalu sampailah! Masuk BNI 46, ke lantai 7, PT Sari Coffee Indonesia, naruh CV, selesai.
Perjalanan yang panjang untuk sebuah tujuan yang pendek: naruh CV.
P.S. itu naik bus patas Depok-Grogol perjalanannya sampe satu jam lebih. Tapi, asyiik! Gw jadi tahu kalau dari Depok mau ke Senayan tinggal sekali jalan!
Oke. I’m a lone traveller. I really like exploring Jakarta. I love to take some photographs. I’d like to go by public transportation. Who wants to accompany me?
All you need is just spending your time for it.
29 December 2008
ORASI Gus Dur: Catatan Akhir Tahun
Apa yang membuat gw tertarik untuk nonton acara ini?
1. Gw tertarik melihat Gus Dur berbicara secara langsung. Dan kedatangan gw membuahkan kepuasan karena selain Gus Dur, ada Effendi Ghazali dan Wimar Witoelar juga datang sebagai pembicara.
3. Gw ingin memperluas wawasan gw mengenai politik (?????) walaupun sebenernya gw sendiri nggak yakin bisa benar-benar mengerti politik, karena jujur itu adalah sesuatu yang nggak terlalu membuat gw tertarik (mungkin lebih tepat dibilang gw nggak ngerti), jurusan Ilmu Politik termasuk ke dalam daftar jurusan2 yang tidak ada dalam pilihan gw untuk masuk Perguruan Tinggi. But, hey...! gw adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di mana mata kuliah pengantar Politik adalah wajib diikuti. So... seenggak2nya gw menunjukkan minat terhadap politik, kan? Soalnya... disebut2 juga soal KOMUNIKASI POLITIK dalam pembicaraan tersebut, dan... nama2 UI disebut2 loh! (jangan2 gara2 insiden aksi mahasiswa kemarin??)
Oke. Gw memang nggak ngerti politik, tanya Tammi aja, deh, tuh, yang anak politik. Hehe. Tapi, menonton acara Orasi (yah... anggaplah seperti talkshow) Gus Dur hari ini, gw melihat bahwa Indonesia BENAR-BENAR terdiri dari masyarakat yang beragam. Saat dibuka sesi tanya-jawab, ada orang yang terlihat agamis, ada juga penanya dari Papua, ada juga orang2 yang mengkoar2kan tentang kepentingan rakyat, ada penanya yang juga mencalonkan diri jadi presiden 2009, dan lain2.
Somehow, topik pemilu 2009 dan keberadan golongan putih jadi terangkat dalam pembicaraan, juga isu2 demokrasi. Pada saat berbicara, KH. Abdurrahman Wahid (kayaknya buat gw lebih enak ditulis seperti ini) sering memaparkan sejarah2 Indonesia pada masa2 kerajaan seperti Sriwijaya, Majapahit, dan empu Tantular juga disebut2. Itu menunjukkan bahwa beliau benar-benar menghargai sejarah, sebagai sesuatu yang menarik untuk diperhatikan demi kita membuat masa depan yang lebih baik. Di pelajaran sejarah, Bung Karno juga sempat menyebutkan semboyan JAS MERAH: Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah. Karena ternyata ketika kita melihat sejarah kerajaan2 tersebut, menunjukkan bahwa sudah sejak dahulu kala manusia2 kita memiliki visi. (mulai dari sini gw nggak tahu harus ngomong apa)
Tapi wacana tetap penting, bertindak juga tidak boleh terlalu gegabah.
tegang di samping orang hebat...hehe.
Ragunan: Photo hunting on Mission.
Ada apa di Ragunan? Kali ini gw bener-bener mau mengeksplorasi Ragunan lebih banyak, soalnya Ragunan itu luaaaaaaaassssss, pegel2 deh jalannya. Masih ada 2 hari menunggu untuk menemani temen gw itu hunting, soalnya tema fotonya banyak banget dimulai dari night view, pemandangan, bangunan, tumbuhan, model, hewan, still life, zooming-panning, etc. Fyuh... selamat ber-hunting ria, deh. I’m coming Jakarta!!!
30 July 2008
Siang ini
Siang ini gw dikagetkan dengan sebuah telepon dari Tammi. Yang begitu gw ngomong di telepon dia langsung menyampaikan kabar kalo
“LABSCHOOL KEBAKARAN! Lo gak liat SMS dari Ridwan!?!?”. Gw yang kaget setengah-setengah, langsung ngeliat hp gw dan emang di sana ada sebuah SMS singkat dari tmen SMP kita Ridwan ‘smp kita kbkaran!!’ begitulah isinya.
Karena pesan yang terlalu singkat dan proses membaca SMS gw yang terlalu lama sehingga Tammi memutus sambungan teleponnya ke gw, gw belum bisa memberikan reaksi yang absolute tentang berita ini. Katanya, sih, udah diberitain di Metro TV dan radio.
Gw langsung nyalain TV dan nyetel siaran berita yang ada, belum ada juga yang gw cari. Dan akhirnya ketika gw dengerin radio Sonora untuk mencari tahu, muncullah berita itu: kebakaran di komplek IKIP Jakarta… beberapa kelas di SMP dan SMA Labschool juga kena… dari jam 12 siang tadi, baru jam 3 ini api mulai berkurang dan bisa dipadamkan…
Intinya beritanya begitu. Gw langsung SMS beberapa tmen SMP gw dan mereka pun kaget dengan kabar tersebut! Yaiyalah! Sekolah kami tercinta… terbakar! 3 jam! pastinya parah dong!? Udah gitu kabarnya SD ikip habis kebakar, dan masih belum tau gimana nasib murid2nya karena ruang2 kelas terbakar, buku2, dan lain2nya. Alhamdulillah-nya, hari ini tanggal merah dan sekolah libur, jadi nggak ada korban jiwa. Tapi… kerugiannya ituu…
Labschool. My beloved school. Itu adalah tempat pertama ketika gw yang anak pinggiran ini melanjutkan sekolah di tengah kota Jakarta. Sebuah dunia baru, tempat yang sangat berperan dalam pembentukkan diri gw yang sekarang, tentang cita-cita, tentang kehidupan, tentang persahabatan, tentang rasa saying yang special terhadap seseorang, tentang kehilangan, tentang kebersamaan, tentang rasa sakit, tentang kekecewaan, dan banyak hal… tempat yang penuh kenangan berharga, baik maupun buruk.
Tempat yang membuat nostalgia tiap kali gw mengunjunginya. Namun, entah apa yang akan gw lihat suatu hari nanti, mungkin sebuah perubahan besar. Karena sekarang pun ketika gw ke sana sudah banyak yang mulai berubah, menjadi sebuah tempat yang baru bagi gw. Seakan tidak ada lagi sekolah tempat gw belajar dulu, perubahannya seakan menghapus jejak-jejak kami yang pernah duduk menuntut ilmu di sana.
updated: gw baca di kompas.com kalo pemicu kebakarannya itu dari ledakan motor yang mau di-publikasikan hari itu sebagai motor dengan tanki anti-terbakar atau semacamnya.
29 July 2008
Te...te...telaaattt...!!!
Tapi, telat hampir sejam?
No way.
Gw langsung pasang tampang jutek gitu pas temen2 gw dateng ke tempat janjian untuk kita bersama2 menuju kopdar ragunan. Tanya mereka, sangat jutek. Aduh... sama orang baru kenal aja gw udah ngasih tampang kayak gituh.
Emang gw-nya yg lagi sensitif. Karena... bad day gw ituh udah dimulai dari hari Sabtu sebelumnya, di mana gw udah capeeeek banget matrikulasi ditambah begadang2 buat ngejar deadline tugas-tugas. Udah sempet kepikiran “Duh... besok jgw adi gak, ya, ikut kopdar ke ragunan?” i need rest! But i want to meet bloggers!
Then, atas desakan siindah, jadilah “Iya, deh, gw ikut”.
Malem minggu itu... si Tammi nelpon. Dan setelah beberapa lama ngobrol, barulah masuk inti pembicaraan.
“Nek, besok berangkat bareng aja. Kumpul di labschool jan 9-an, deh” kata Tammi (ini udah gw singkat).
“Ohh... okeh” gw pun mengiyakan.
Esok paginya, yang adalah hari-H! (ohh! Kopdaaar!) gw bangun kesiangan! (sebenernya emang sengaja tidur lebih lama supaya cukup istirahat :p) jam 8 kurang baru bangun sementara gw harus berangkat jam stengah 9-lah untuk sampe ke tempat janjian.
Tapi gw santai... beres2 dulu... shalat Dhuha dulu... mandi... makan... gunting kuku dulu... well, Minggu pagi semenyenangkan ini sayang untuk dilewatkan. Lagian jam 9 masih kepagian kali, kan, kopdarnya ngumpul jam 11.
Yaudah, gw udah get ready jam stengah 9, gw baru inget si Tammi minta gw bawa digicam gw. Gw pun nyariin di kamar, tapi nggak ada. Gw tanyalah adek gw:
“Deeek!!! (dengan cempreng udah rada2 bete) digicam dimanaaa!?!?”
Adek gw terlihat berpikir selama sepersekian detik, kemudian:
“Eh, kutinggal di rumah nenek” jawabnya polos.
Gw diem.
Gimana, ya? kalo termometer udah paling pol kayak mau meledug?
“Paaaraaaaaaaahhhh....!!!!!!!!” teriak gw awut2an. Adek gw itu emang kadang nge-bete-in kalo udah ninggalin barang di rumah nenek (senin-jumat dia nginep di rawamangun, rumah nenek kita, lebih deket ke SMA kita). Dibawa pulang, kek! Aargh!!
Nggak nunggu lama lagi udah mau cabs, tiba2 tante gw manggil:
“Fik! Fik! Tunggu, tunggu! Mau ke depan, kan? berangkat bareng, deh” kata beliau.
Wesdah, nungguin tante gw siap2 dengan buru2, resminya gw berangkat dari rumah jam 9 kurang 10. Dan jalan ke depan tempat angkot ngetem itu udah 10 menit. Jadi jam 9 baru tancap gas dari Cibubur.
Karena nggak enak, gw SMS si Tammi:
‘Tam, gw baru berangkat, kalo lama tunggu aja, ya’
Eeh... dibales:
‘Gw tadi nelpon akar, jadinya ngumpul jam 10’
Lega dikit, deh. Beginilah orang Indonesia, janjian jam 9, tapi baru berangkat jam 9 (bukan hal yang patut dibanggakan maupun dibiasakan).
Tapi, ternyata, temen2 gw lebih orang Indonesia lagi. Janjian jam 9 tapi setengah 10 masih di rumah. Jelas aja waktu janjian diubah jadi jam 10! Mending kalo jam 10 kurang lebih udah pade nyampe! Lha, ini? gw nunggu dari jam 10 kurang sampe jam 11 kurang barulah ksemuanya pada nyampe.
Gimana gw nggak pasang tampang jutek?
Whoohohoo... but, sori mayori yaa teman-temaan... maaaaaf.... gw nggak enak for being so immature di depan loe semuah. Maaf yaaa...
Anyway, karena keterlambatan ini, kita baru nyampe ragunan jam stengah 1. Tanpa pemikiran pintar untuk menghubungi Benazio lewat ebuddy, langsung masuk Schmutzer, nyari2 orang2, keliling2, jalan2, muter2, ngiter2, poto2........ tapi nggak ada hasil. Barulah kepikiran untuk OL di ebuddy dan pas2an si Bena OL! (yah... dalam kondisi capek emang otak berjalan tidak maksimal)
Ternyata mereka2 udah pada ishoma gitu. Yaudah kita nyusulin ke arah masjid yang kanan-kirinya banyak stand makanan dan bikin perut gw makin bergejolak saking laparnya (nunggu lama+perjalanan jauh+udah jam makan siang). Dan rasa itupun akhirnya tak tertahankan lagi!
“Gw udah nggak kuat liat es kelapah...! Gw beli dulu, yah! Serebay, tuh, lumayan beut!” gw pun nyamperin salah satu penjual es kelapa. Dan indah yg juga ternyata nggak tahan, ngikut beli.
Tammi dll masih penasaran di manakah kawanan bloggers berada? Dan dengan hp gw mreka tetep chat di ebuddy sampe akhirnya gw denger mereka ngomong:
“Eh!? Kayaknya itu mereka bukan, sih?” (gak tau siapa yg ngomong, Cuma denger suaranya doang)
“Ih... iya, bukan, ya??”
Selidik demi selidik... ternyata... tempat makan di sebelah tempat gw beli es kelapa itulah! Kawanan bloggers terlihat!!!! Yah... yang pertama kita lihat itu sebenernya... si... patung pancoran. Lagi megang kamera motret2.
Thank, God! Yaampuuun... alhamdulillah... Kau tunjukkan jalan melalui es kelapa iniiii (hehe..).
Kalo nggak gitu cara ketemunya, bukan bloggers rasanya (apa, sih... :D)
Berlanjut dan berlanjut dan berlanjut... sebenernya agak2 males cerita, seh. Tapi intinya, kita si para pendatang terlambat ini, langsung berubah profesi jadi penyusup. Langsung nyempil diantara para blogger smentara katanya Bena sendiri, udah lewat sesi perkenalan gitu. Oooohh.......
Uhh... andaikan tidak datang seterlambat ini...
Andaikan tadi pas baru masuk ragunan langsung kepikiran untuk mengontak salah seorang blogger. Nggak langsung ngacir ke Schmutzer...
Uhh... andaikan waktu bisa diputar ulang...
Uhh...
Dan andaikan-andaikan lainnya. Karena manusia tidak pernah berhenti berandai-andai. Penyesalan selalu datang terakhir, udah nggak diundang, dateng pula!
Agak-agak kurang pol, nih! Kapan kopdar lagiiiiiiiiii...!?!?!?!?!?!
PS. Eh...eh... enaknya... gw akhirnya ketemu presy_L!!!! Senangnya hatiku... turun panas demamku... hehehe... walopun akhir2 baru kenalan,, tapi senang bisa bertemuuu.... aloooo...! hehehooeee...
Jadinya... malah jalan2 di Shmutzer ragunan. Lumayan, deh. Seumur2 ke ragunan, gw baru tau ada sentra primata kayak gini. Cool!
13 July 2008
Djakarta: Pertarungan di Djalan
Hmm... let’s see... Jakarta dan daerah sekitarnya, dikenal dengan kemacetannya yang luar biasa. Baik yang disebabkan oleh lampu lalu lintas, banyaknya mobil pribadi, banyaknya angkot, sempitnya jalan, kecelakaan di tengah jalan, maupun acara2 yang menyebabkan ditutupnya jalan. Mau pergi jarak dekat aja bisa sampe berjam2 lamanya kalo terjebak macet. Dan pertarungan di jalan juga bisa dari berbagai cerita. Gw akan bercerita sedikit yang pernah gw alami. Cibubur-pagisore traffic jam
First of all, my own home. Yap, gw tinggal di Cibubur, di sanalah tempat selama kurang lebih 15 tahun gw tumbuh. Awalnya ini adalah sebuah tempat terpencil di pinggiran Jakarta yang sepi, masih bersawah2 (serius, sekarang juga masih ada beberapa), perbukitan, dan lain2 sampai akhirnya jadilah housing2 estate seperti Kota Wisata (yang dulunya merupakan daerah yang dibatasi oleh jurang2 tebing dengan perbukitan sawah di bawahnya, gw masih inget), Raffless Hills, Legenda Wisata, Puri Sriwedari, Taman Laguna, dan lain2 banyak yang baru2 SEHINGGA, sekarang jalanan utamanya menjadi full of transportations alias MACET.
Jalan yang kalo pagi lo berangkat kesiangan dikit aja bisa macetnya ampun2an, karena semua kendaraan pergi ke JAKARTA. Mereka punya rumah di sini2, tapi tetep aja kerjanya, atau sekolahnya, di Jakarta.
Jalan yang kalau pulang juga sama macetnya, kesorean dikit bisa kemaleman sampe rumah. Alasannya sama seperti ketika di pagi hari, karena di sore hari smua orang PULANG berbondong2 dari arah JAKARTA.
Kemarin, hari Sabtu. Gw pulang sore2 dari Depok. Dan gw berpikir klo Sabtu nggak macet2 bangetlah... ternyata gw salah. Entah karena apa (katanya, sih, lagi ada penutupan acara Raimuna di Jambore) tapi begitu sampai di pertigaan McD rasanya agak2 mau nangis melihat macetnya seperti apa. Rasanya kayak mau pulang ke tempat lain, dan berharap rumah gw bukan berada setelah kemacetan itu. Jadilah, yang harusnya gw bisa sampe rumah jam 4 malah jadi jam setengah 6. Itupun dengan sebelumnya berpanik2 ria karena kehabisan angkot yang entah kenapa juga (di hari Sabtu) semuanya penuh, terima kasih untuk orang2 yang melapangkan majelis (hehe) di tempat duduk yang harusnya Cuma untuk 4 orang mau menyisihkan sedikit untuk gw.
RAWAMANGUN-traffic light
Satu tempat yang nggak gw suka dari jalanan di Rawamangun, yaitu perempatan Arion, dimana lampu merah untuk jalan dari arah terminal rawamangun itu, hanya menyala selama BEBERAPA DETIK SAJA. Hahaha... selamat sejahtera, kalo gw telat berangkat ke sekolah dari sana, bisa lama nyampenya Cuma gara2 lampu merah.
Kenapa bisa begitu? Karena sengaja dibiarkan yang lama lampu hijaunya untuk yang jalan besar Pemuda. Yang lebih sibuk jadi lebih diutamakan, dan kita2 yang dari jalan lain terpaksa Cuma maju beberapa senti sampai akhirnya ke-stop lampu merah lagi.
Tapi yang gw suka dari Rawamangun, adalah aksesnya yang mudah ke mana2. Satu, karena di sana terdapat terminal, dan juga karena sudah ada akses busway di sana. Lokasinya termasuk strategis di Jakarta, dan kabarnya rumah2 di sana dan sekitarnya sudah bertarif mahal karena alasan tersebut.
Sudirman-Thamrin
Jalan Sudirman dan Thamrin. Jangan pergi lewat sini kalau hari Minggu. Atau setidaknya kroscek terlebih dahulu apakah jalan tersebut DITUTUP untuk suatu kegiatan atau acara, kalau tidak mau digiring ke jalan lain dan terjebak macet parah di dalamnya.
Suatu hari Minggu, yaitu Minggu lalu, gw dan keluarga gw udah berencana menghadiri pernikahan anak asuh nyokap gw yang berlokasi di Tanah Abang. Maksud hati mau lewat JaCC yang langsung tembus ke sana, ternyata... jalan yang biasanya kami lalui yaitu di lorong Jalan Blora mendadak penuh oleh kendaraan dan ujung2nya macet, stuck, alias mobil kita nggak maju2.
Dicari tahu lebih jauh, ternyata jalan besar Sudirman-Thamrin sedang ditutup karena suatu hal (ada yang bisa ngasih tau kenapa? Gw jarang baca koran soalnya), Cuma busway yang tetep jalan, dan semua kendaraan lain DIGIRING ke jalanan kecil tersebut. Digiring, bayangkan! Digiring! Hampir mencakup semua kendaraan di Jakarta, digiring ke SATU jalan yang nggak gede2 amat, then...?
Gagallah kita menghadiri acara tersebut. Maafkan kita ya, kakanda. Apa dayalah, ternyata kita kurang teliti baca korannya.
DEPOK-windy road
Depok, kota yang baru2 ini gw masuki. Belum gw kenal, tapi cepat atau lambat gw harus bisa beradaptasi di sana.
Windy road, maksud gw jalanan yang berangin adalah karena di sana hampir semua kendaraan berjalan dengan kecepatan tinggi (baca: ngebut) jadi kalo lewat udah kayak angin aja.
Di Depok itu macet juga (yaiyalah... semua orang juga tau). Karena jalanannya yang sempit, banyak kendaraan dan angkot, juga lampu2 merah di pintu kereta. Lengkap sudah alasan yang menyebabkan suatu jalan macet.
Karena itu, kalo udah ketemu jalan langgeng, lepas dari macet, ngebut2lah mereka! Bikin yang mau menyeberang jalan (termasuk gw) olahraga jantung sehingga harus nyari kelompok orang2 yang mau menyeberang. Bersama kita bisa...!
Udah gitu gw masih harus menyeberangi rel kereta pula! Aduuh... gw paling nggak kuat sama urusan seberang-menyeberang di sini, deh. Bahaya untuk kesehatan. Perut gw jadi suka perih saking tegangnya.
02 July 2008
ke Ancolll!!!
Dari sekian orang yang tadinya berencana untuk pergi bareng, akhirnya tinggal gw berdua saja dengan sobat gw, Irna.
band
Jadilah, ketemuan di halte Matraman, kita ke Ancoll. Nyampe sana jam 12 siang tepat ketika matahari ada di ubun2. Langsung, deh, naek taksi ke Pantai Carnaval Ancoll.
Hmm... ternyata, biar dikata taksi bluebird juga, kalo di Ancoll supir taksinya itu kagak2 tau-menahu, lho, sama seluk beluk Ancoll. Mungkin... debutnya mereka ditaruh di sana kali, ya. Repotnya, gw sendiri sama2 baru kali ini ke Ancoll lagi setelah sekian lama nggak tau kapan, deh, mungkin terakhir gw ke Ancoll adalah pas SD. Untunglah ada Irna walopun tetep aja kita kebawa muter2.
“Uwaaaahhh....! Laut, Na! Lauuut!” gw berteriak pelan karena takut dianggap norak gara2 baru lyat laut sedeket ini setelah sekian lama.
“Iih, norak banget, sih, lo, Fiek, kayak nggak pernah lyat laut aja” kata Irna.
“Emang, gw, kan anak daratan, hehe...” (nyengir)
“Jangan bilang lo baru kali ini ke Ancoll”
“Emm... yah, emang terakhir kali kayaknya SD atau pas gw masih keciiil banget, deh” (nyengir)
“Parahlo! Orang Jakarta juga!”
“Yee... gw, kan, orang Bekasi, orang Cibubur. Dari kampung Kranggan gw!”
Maklumlah. Memang kenyataannya begitu.
Akhirnya nyampe juga ke pantai karnaval. Turun dari taksi, gw merasakan kaki gw melangkah ke dalam dataran yang empuk.
“Na! Pasir, Na! Pasir!”
Norak banget, sih, nih, anak, napak di pasir pantai aja ampe segitunya.
Asal tau aja, siang itu PANAS BANGET (yaiyalah, ya!) dan URBANFEST-NYA masih belum mulai2 amat. Baru boots2nya gitu. Dan nggak ada tempat untuk kita menunggu di tengah2 panasnya terik matahari sementara masih dikiiit banget yang dateng.
Yaiyalah, datengnya jam segitu, yah, salah waktu. Acara kayak gitu pasti ramenya sore menjelang malem gitu...
Daripada kecewa, akhirnya kita jalan aja menyusuri sepanjang pantai Ancoll. Gw sendiri sebenernya menikmati hari gw di sana. Gw tau kalo jam segitu UrbanFest-nya emang bakalan belum ada apa2nya dan yang ada kita pasti Cuma kepanasan di terik matahari. Tapi emang pada dasarnya gw doyan jalan2, jadi ke mana aja dibawa enjoy, mau itu di luar rencana, kek, justru lebih menarik.
Laut. Pasir. Hal2 yang nggak gw temuin setiap harinya. Gw inget sama temen gw yang suka sama laut, pengeen banget ngajak dia ke sini, tapi dia masih sibuk mengejar PTN yang belum didapatnya. Hiks... next time ya, teman.
Tadinya mau ke Gelanggang Samudera nonton 4D, tapi karena kocek pas2an dan krn udah masuk musim liburan jadi tiket masuk agak melunjak, batallah niat kita untuk menikmati wahana2 Ancoll. Habis... baru nerima duit bulanan, sih. Sayang klo langsung diabisin.
Ya, udah. Nggak ada yang spesial selain menikmati laut di hari gw dan Irna ke Ancoll itu. Hehe... makan siang di tengah2 angin laut yang sedang berhembus kencang2nya. Foto2 di jembatan. Trus, pulang, deh. Masih sepi buswaynya jadi enak pulangnya. Irna pulang ke arah Pulogadung, dan gw pulang ke arah Cibubur.
maen bola pantai
CAPEEEK... tapi seneeeng.
27 June 2008
manusia itu semua sama
Namanya 'Masakan Ibu'. Terletak di lantai 2 gedung Surveyor Gatot Subroto. Yah, isinya menu2 Indonesia gitu.
Gw dan adek gw di sana kerja sebagai... waitress. Karena tempatnya kecil (cuma ada 12 meja) jadi kita semua yang ada di sana kerja semuanya (kecuali masak dan kasir), dengan kata lain: keroyokan.
Bikin minuman dan nganter pesenan. Bersihin meja yang tamunya udah selesai makan dan pergi. Pokoknya apapun yang dilihat dirasa harus dikerjakan ya, dikerjakan. Nggak boleh keliatan nggak ngapa-ngapain sama customers.
Menjadi waitress alias PELAYAN itu bener-bener, deh. MUKA TEMBOK KUDU MUSTI. Mental gw en adek gw dibanting banget. Karena ketauan kita anak masih baru alias cuma magang kecil2an, jadilah awal mulanya:
"cewek... cewek..." ucap salah seorang pelanggan dari beberapa bapak2 kantoran pelanggan pertama kita.
Yah, nyadar, sih, dipanggil, tapi nggak respon karena gw en adek gw lagi sibuk guntingin nomor meja. Akhirnya:
"mbak... mbak..." dan karena adek gw yang duduk menghadap tuh orang2, jadilah ia yang bangkit menjamu mereka.
Next:
Seorang bapak2 datang dari mejanya dan ngomong "Mbak, jus stroberi saya belum dateng. Sayanya udah selesai makan" kepada Mba Mila, sepupu gw yang ngurusin kasir dan segalanya.
Kebetulan gw lagi berdiri di dekatnya dan melihat adegan tersebut.
Setelah sekian lama, dan Bapak tadi udah konfirmasi untuk kedua kalinya, akhirnya jus stroberi jadi juga.
"jus stroberi pesenan siapa?"
"itu... bapak2 yang pake kacamata dan berbaju kuning. Kumisan"
Karena gw tau yang mana orangnya, jadilah gw menawarkan diri untuk mengantarnya.
"Silahkan, Pak, jus stroberinya"
"Jus stroberi siapa? Emang tadi saya mesen jus stroberi ya?"
*............................... (isi sendiri respon-lo)
*what will you do if you were in my position?
"Ah... tadi bukannya Bapak, kan? yang mesen jus stroberi?"
*gugup...gugup...calm...calm...
"Ohh... iya, ya? Bla... bla... bla... dan seterusnya gw nggak inget saking MALU PLUS SHOCK-nya... mikirr...
Gw tau Bapak itu udah nunggu lamaaaaa banget jus stroberi-nya. Jelaslah semua.
"Iya, Pak, maaf, ya, terlambat..." dengan berusaha tetap tersenyum kemudian gw beranjak pergi.
It's a PUBLIC HUMILIATION for me. Oh, ya, fyi, di sana dia duduk2 bersama kawan2 kawula mudanya, yang juga merasa kurang nyaman dengan pelayanan agak lambat di jam-makan-siang-yang emang-penuh-banget-orang-datang-tanpa-habis-sampai-jam-2.
Next:
Gw lagi jaga di counter prasmanan (jadi restorannya ada menu prasmanan ada menu pesenan). Datanglah seorang lelaki...
"Mbak... nggak ada ayam dada, ya?"
Gw melihat ke tempat makanan berisi ayam crispy-di-mana-nggak-keliatan-yang-mana-dada-ayam. Gw cuma melihat paha dan paha atas (ini masih tentang ayam crispy).
(akhirnya gw memutuskan untuk bertanya ke senior... daripada salah) "Mbak, dada ayamnya nggak ada, ya?"
"Ohh... iya... nggak ada, abis kayaknya" jawab mbaknya sambil melihat ke tempat ayam tsb (legalah gw... karena nggak terlihat bodoh lantaran nggak tau yang mana dada ayam).
Lelaki: "Jadi... ini..."
"Iya... adanya paha... atas sama bawah" jawab gw.
Lelaki: "Ohh... pahanya... kiri atau kanan?"
"............"
"Hahahahahaa..." dan tertawalah kita semua. Yah, setidaknya di depan customer.
End of story.
Begitulah... capeknya... malunya... tapi melatih mental dan jiwa dan fisik dan otak dan lain-lain dan lain-lain...
Emang... pelayanan kita lama. Terutama dikarenakan menunggu masakan pesanan yang selesainya lama (kitanya, sih, harus stand by selalu).
Berarti... kita harus selalu meng-evaluasi kesalahan kita. Dan berusaha agar berikutnya bisa siap dengan lebih baik.
Pelajaran berharga.
Bahwa menjadi seorang pelayan bukan berarti dia orang yang serendah pelayan.
Gw.
Semuanya.
It's a JOB.
And every job must taken professionally, even a job like this.
Karena pelayanan adalah segalanya. Sebagai pelanggan kita tentunya menginginkan pelayanan yang baik, kan? Apalagi ini restoran di kantoran, yang orang2nya sibuk bukan main dan makan pun di-waktu-in.
Dan setelah merasakan jadi pelayan, gw akan berusaha untuk menjadi PELANGGAN YANG BAIK.
hahaha...
pulangnya: CAPEK.
nb. Pas nganterin pesenan teh botol sama es campur, pesenan tersebut NYARIS KEPELESET dari nampan di tangan gw!!!! Uaaagh! Inget itu jadi suka panik gw! Ngebayangin kalo tuh, teh atau es campur beneran kejadian jatuh... tumpah ke tamu... dan...
gyaaaaaaa...!
20 June 2008
Hujan sedia payung, panas sedia payung
Tapi ternyata... sepanjang perjalanan, kalo udah jam segini emang nggak Cuma gw yang pake payung. Ehehe... justru rancu klo liat orang jalan di bawah panas terik begini tanpa payung, sama rancunya lyat orang jalan di bawah ujan tanpa payung. Nggak enak, nggak nyaman.
Kayak kemaren, gw ke alfamart bentar dan Masya Allah, panasnya itu, lho. Dan bodohnya gw nggak bawa patung...eh, payung. Jadilah gw lari-larian balapan sama bayangan buru-buru pulang saking nggak maunya muka terbakar, sementara tiap orang yang gw papas di jalanan pada pake payung semua... malunya gw... ehehe...
Djakarta: a place to go most of my time
One day... dan itu pastinya udah cukup lama. Ng... kira2 waktu gw masih masuk skul kmaren2, yaitu seminggu (senin-jumat) sebelum UAS. Yah... di kelas yang dateng dikit2 silih berganti... trus karena pulangnya siang2 gtu, jadinya gw dan 3 kawan sekelas gw berencana untuk jalan, sekalian dalam rangka gw mencari CD album asli The Changcuters.
Maka diaturlah pertemuan di halte busway Pasar Genjing. Well, yeah, it turns out to me who waiting from 1 o’clock (the time we arranged to meet) to 2.15. Hah! Gw sih untungnya pas lagi sabar2 aja, Cuma nggak nahan sama panasnya siang hari dan kayaknya mas2 loketnya curiga gitu ngelyat gw kok bisa2nya kagak naik2 waktu beberapa busway udah datang dan pergi. Haha.
Tujuan pertama kita adalah PI alias Plaza Indonesia. Sebelumnya kita terpisah secara unplanned terbagi menjadi berdua2. And luckily, gw dan Happy (tmen gw) dapet bus yang kosoooong terus selama perjalanan sementara Dian dan Basma (2 yang lain) naik bus yang penuuh selama perjalanan. Hehe..
Sesampainya di PI, agak2 canggung gtu, duileee... yah, begitulah, menyusuri tempat2 yang diperkirakan bisa menemukan CD yang gw cari dan beberapa buku yang gw cari (satu ini betapa bodohnya gw mengingat kebanyakan buku2 yang dijual in such places itu buku2 impor! Klo buku indonesia pun Cuma sekadar novel2 dan bukan buku yang gw cari).
Sekian toko kaset kita datengin... dan walhasiiiil gw nggak menemukan apa yang gw cariii! Sementara perut udah kruyukan mengingat kita kesini belum makan siang dan berhubung kocek pas2an gak bisa bikin kita makan in such place, jadilah kita ke menuju tempat tujuan kedua: perpusdiknas.
Yah, menu andalan gw (maksudnya, belum berani nyoba yang lain, takut nggak kenyang :D) biasanya Spaghetti carbonara yang bisa dibeli dngan harga 15-16 ribuan. Tapi kali itu gw mencoba berbeda (akhirnyaaa) mesen nasi bakso (kata temen gw udah kayak anak kecil makan bakso pake nasi).
Well, ternyataaa... makanan seporsi masing2 yang kita kira nggak bakalan ngenyangin itu (diliat dimata rasanya masih kurang, apalagi perut lapar) begitu mendekati habis kenyangnyaaaa... ough! Perut gw...! udah nggak sanggup berdiri! Mana mesen minumnya milkshake (tapi ini wajib dipesaaan! Enaknya mantab!) makin gila kenyangnya, daaan... masih ada satu panganan lagi yang belum sampe meja dan alhamdulillah, bersyukur banget kita pas akhirnya mas2nya bilang kalo ternyata stok chicken wingsnya lagi abis. Terhindar dari kekenyangan tingkat akut.
Akhir2 ini ngebeeet banget pengen ke Ancol! Sekalian nonton UrbanFest di sana, dan emang di Ancol lg lumayan narik perhatian hari2 ini. Juga pengen ke PRJ (gw belom pernah sama sekali kesana, tapi katanya biasa aja, ya?).
Yah... masih mendekam di dalam rumah di Cibubur. Sabtu besok ke sekolah buat cap 3 jari, dan anak2 IPS 3 rencana mo nonton bareng, semoga banyak yang bisa ikut. Sebenernya gw pengen banget menghabiskan liburan gw ini dengan having fun sama tmen2 gw tapi mengingat masih banyak dari mereka yang belum tenang alias menanti pengumuman UMB2 dan bersiap menuju SNMPTN, jadi gw bisa mengerti.
Hiks... masalahnya justru memasuki bulan Juli, di saat mungkin mereka2 sudah bisa tenang, gw sudah mengakhiri masa liburan gw karena tanggal 7 Juli gw harus ikut program matrikulasi UI untuk para PMDK-ers. Yah... yah... begitulah...
Let’s go to Ancolllll...!!!!


