take it easy, so life will be

Menyadari bahwa saat ini saya hanya ingin membuat hidup saya terasa lebih fun, maka sayalah yang harus membuatnya seperti itu. It's no kidding, you are what you want, you are what you say, you are what you eat, and you are what you be.
Showing posts with label shout out. Show all posts
Showing posts with label shout out. Show all posts

25 February 2011

Raungan Hati

Ini adalah raungan hati, karena gw menuliskannya sebagai ungkapan hati yang sangat ingin gw ungkapkan, namun gw tahan sebagai bentuk penghormatan gw atas kemanusiaan, bahwa penting bagi gw sebagai seorang manusia, untuk sebisa mungkin menghindari menyakiti hati orang lain, meskipun sempat terjadi menit-menit amarah di mana gw ingin memuntahkan perasaan ini ke hadapan orang tersebut.

Gw punya akal, logika.

Kita sebagai mahasiswa punya akal, dan logika.

Rata-rata dari kami sudah berusia sekitar 20 tahun. Memang di mata kalian yang 1-2 kali lipat lebih tua usianya dari kami, kami hanyalah anak bau kencur. Namun percayalah, beberapa dari kami sudah mengenal diri kami, dan mengetahui apa yang kami inginkan untuk banyak hal.

Kenapa harus dilarang?

Pertanyaan lain, kenapa ilmu yang diberikan 2 orang itu berbeda? Bukankah seharusnya, team-teaching harus memiliki Satuan Acuan Penilaian (SAP) yang serupa, agar tidak ada perbedaan dalam penilaian. Agar terjadi keadilan, dan terjadi penyebaran ilmu dan gagasan yang merata.

Saya tidak menyalahkan materi yang beliau sampaikan, saya yakin beliau profesional pada bidangnya, dan memiliki gagasan yang brilian. Pertanyaannya, apakah SAP mata kuliah ini memang mengenai hal-hal tersebut? Gagasan-gagasan tersebut?

Kami tahu apa yang kami cari di mata kuliah ini, dan kami mendapatkan yang berlawanan dari yang kami ekspektasikan.

Bukankah kami berhak kecewa?

Setidaknya, biarkan kami merasakan keadilan, keadilan untuk menerima ilmu yang kami cari, tidak gratis untuk kuliah dan belajar di tempat seperti ini.

Saya tahu, bahwa sebagai manusia, sebagai mahasiswa, saya bukan hanya dituntut untuk belajar ilmu dan gagasan, melainkan belajar sifat-sifat kemanusiaan. Yang salah satunya adalah pengertian, dan belas kasih.

Oke, kalau begitu setidaknya biarkan saya menganggap bahwa saya bertahan bukan karena saya ingin mencari ilmu yang bermanfaat bagi saya, saya bertahan karena rasa pengertian dan belas kasih saya.

Itukah yang anda mau?

Saya tidak menyalahinya, kedua-duanya tidak salah. Mencari ilmu memang untuk kebaikan diri sendiri, namun menghormati sifat-sifat kemanusiaan juga berarti menghormati diri sendiri, karena kita adalah manusia.

Mungkin saya menganggap ini terlalu serius, tapi sekali lagi saya bilang, kami sudah bukan anak kecil lagi. Kami berpikir, punya akal, dan logika.

Saya akan bertahan, dan itu bukan demi otak saya, tapi demi hati saya. Entah mana diantara keduanya yang penting untuk diprioritaskan saat ini.



24 February 2011

Sensitif

Jarang-jarang gw mengangkat sebuah topik yang sensitif, namun sensitif atau tidaknya tulisan yang akan gw sampaikan di sini tergantung dari perspektif masing-masing orang. Dan gw harap tidak ada masalah yang ditimbulkan dari tulisan gw ini.

Hanya beberapa tiang, pilar, atau tembok, sebutlah apapun itu. Di kampus gw, lebih tepatnya di fakultas tempat gw kuliah saat ini, tiang-tiang itu berdiri menjajar sepanjang koridor paling ramai, jalan yang pasti akan dilewati semua mahasiswa, menuju kelas, maupun menuju pulang. Bisa disebut, ia adalah tiang yang berada di koridor paling strategis di kampus gw, dan menjadikannya sebagai tiang yang bisa dimanfaatkan untuk dipajangi macam-macam hal yang bertujuan menyampaikan informasi, atau semacamnya.

Dengan kata lain, poster, gambar, tempelan, apapun deh.

Dari aturan yang gw dengar, bahkan itu pun hanya selentingan atau benar-benar informasi yang valid, gw pun kurang tahu, tiang itu dilarang keras oleh humas dekanat kami untuk dipasangi benda-benda semacam itu. Poster, gambar, tempelan, dan semacamnya.

Beri tahu gw kalau gw salah, beberapa kali gw mencoba untuk memasang poster di tiang tersebut, selalu terbentur masalah ’izin’ yang berasal dari orang-orang sekitar gw. Dengan kata lain, kontrol yang berasal dari orang-orang biasa, notabene bukan dari humas langsung.

Wajar sih, itu fasilitas, tidak boleh dikotori, sama saja kayak dinding-dinding jalanan yang sering kita lihat di pelataran kota Jakarta dan kota-kota lainnya.

Tapi reseh, dan sungguh membuat gw bete, ketika kemudian ada beberapa kegiatan yang... menempelkan posternya di tiang-tiang tersebut. Oke, untuk mereka yang bergerilya.... mengindahkan peraturan demi suksesnya publikasi kegiatan, saya masih tidak mempermasalahkannya. Namun, untuk mereka yang entah kenapa, di mata gw jelas-jelas memiliki posisi penting, bahkan bisa dikatakan sejajar dengan si pemilik aturan, menggunakan tiang-tiang tersebut juga untuk kepentingan mereka. Damn! I hate it.

Ini hanya dari sudut pandang gw, kecewa, sakit hati, gimana enggak? Rasanya bisa kelihatan kok siapa mereka yang bisa dengan santainya menggunakan tiang-tiang tersebut, dan dengan santainya pula mengumbar akan larangan bagi pihak-pihak lain untuk menggunakannya. ’mereka’ itu... gw tahu punya posisi, peran, dan sedikit kuasa, bahkan mungkin koneksi, dan hubungan baik, di mana hal-hal itu seharusnya merupakan hal-hal yang baik dan menguntungkan, namun di mata gw mereka tidak menggunakannya dengan adil.

Yah, adil, akhirnya kata itu muncul juga di sini. Gw merasa ini adalah ketidakadilan. Hanya hal kecil memang, tapi, HEI, hal kecil saja sudah begini bagaimana hal besar?

Gw nggak mau berlagak sok suci, seakan gw sendiri tidak melihat keuntungan dari memiliki previlege karena hubungan baik dengan pihak-pihak tertentu, itu sangat menyenangkan dan believe me, it’s very helpful, meskipun gw yakin tanpanya pun hidup bisa dibawa mudah. Yang menyebalkan ialah, hal-hal yang harusnya bisa menjadi mudah itu, terasa tidak mudah ketika muncul ketidakadilan di tengah-tengahnya.

Nb. Ini baru tiang, dan sebenarnya bukan hanya tiang


13 July 2008

Magz Project: Trafficking.

Di kelas matrikulasi, baik itu kelas bhs Inggris maupun kelas Mat&Fis, kita sama2 diberikan project work. Project work Mat&Fis udah ketahuanlah... percobaan2 gitu. Dan project work bhs Inggris adalah: Bulletin Board dan Magazine.

Topiknya sendiri diberikan dari pihak UI-nya. Dan kelas kita mendapatkan topik: Trafficking. In this case: Human Trafficking.

Apakah human trafficking itu? gw sendiri baru mendengarnya, bahwa ternyata sesuai
terjemahannya: lalu-lintas manusia, human trafficking adalah perdagangan manusia. Dalam arti yang ilegal, diintimidasi, dan menjurus ke sex-slavery dan perbudakan anak.

Awalnya, gw kaget dengan topik yang diberikan. Sangat berat dan sensitif untuk dibicarakan. Kelas kami dibagi menjadi 2 tim yaitu tim Bul-bo dan tim Magazine. Gw masuk tim magazine, dan tugas gw adalah interview, dan opini publik tentang trafficking.

Menurut, gw, perdagangan manusia adalah sesuatu yang sangat tidak manusiawi. Kita tentunya tidak akan menyangka bahwa sepatu2 sulam khas2 daerah2 di Indonesia, itu adalah buah karya tangan2 kecil anak2 yang dipekerjakan di bawah umur. Karena tangan2 kecil itulah mereka dimanfaatkan untuk mengerjakan keterampilan yang membutuhkan tangan2 tersebut.

Sementara tentang sex-salvery. Asia Tenggara sudah memiliki tingkat pekerja seks komersil yang cukup tinggi. Banyak wanita2 yang diperjualbelikan untuk dijadikan budak nafsu para lelaki yang mencari penyaluran birahinya.

Dan dari interview yang gw lakukan dengan native speaker gw, Cafer Orman, secara general, human trafficking lebih mengarah ke kasus2 pekerja seperti TKI atau TKW yang dikirim ke luar negeri, kemudian di sana mereka mendapatkan perlakuan yang sangat kasar, diintimidasi, sementara mereka dibayar rendah sekali.

Pertanyaanya: kenapa bisa terjadi trafficking?

Kalau belajar ekonomi, kita pasti mengerti bahwa dalam perdagangan: ada barang (atau jasa) yang bisa dijual, dan ada pasar untuk menjualnya.

Menyedihkan memang, bahwa kemiskinan dan masalah ekonomi adalah salah satu penyebab utama dari kasus trafficking ini. orang2 yang berusaha bertahan hidup sampai akhirnya mencari uang dengan cara yang mengenaskan seperti itu, berusaha bertahan hidup dengan mengorbankan kehidupan yang layak bagi mereka. Bagi gw itu bukanlah hidup. Kenapa mereka harus mau diinjak2 sebagai manusia (yang hidup) demi mendapatkan uang untuk hidup? Gw sedih, sedih sekali bagi mereka2 yang terpaksa bertahan hidup dengan cara tersebut.

Andaikan saja semua orang membantu mereka. Membantu bukan dalam arti uang maupun material, membantu dalam arti memberikan ilmu bagi mereka, mendidik mereka, memberikan mereka pengertian dan mengajarkan mereka cara untuk bertahan hidup yang lebih layak bagi mereka. Agak mereka tidak dibodoh-bodohi, dan tidak perlu terjerumus ke dalam sesuatu yang tidak baik.

Dan yang paling menyedihkan, adalah bahwa pasar dalam human trafficking itu ada. Ada saja orang2 yang membeli manusia2 tersebut dan kemudian memperbudak mereka untuk menghasilkan uang. Ada saja orang2 yang menjadi pelanggan usaha2 seks komersil dan lain sebagainya. Manusia itu, memang adalah makhluk yang mengerikan. Mereka seperti binatang. Lalu, manusia yang bagaimanakah yang bukan binatang? Itu adalah manusia yang beragama. Plus, manusia yang beriman.

Gw bukan bermaksud mengatas-namakan agama di sini. Tapi, gw ingin menekankan, bahwa agama itu bukan sekedar perihal tentang kita dengan Tuhan kita (memang itu adalah yang utama), tapi agama itu juga adalah bagian dari kehidupan kita. Itu adalah sesuatu yang paling dekat dengan diri kita, dengan hati nurani kita. Bisakah kita membayangkan kehidupan tanpa agama di dunia ini?

Sebenernya gw terhitung masih hijau untuk bisa mengutarakan sesuatu tentang masalah2 yang menurut gw tergolong complicated ini. Mungkin akan ada beberapa orang yang akan mengoreksi pernyataan2 gw. Tapi gw mau belajar, dan berusaha belajar menerima keberatan.

Balik lagi ke topik trafficking (haduh... gw itu suka ngeloyor kemana2, yah). Gw berharap, penyebab dari terjadinya kasus yang tidak manusiawi ini akan segera berakhir di masa yang akan datang. Akan ditegakkan hukum yang membela hak2 asasi manusia secara tegas, akan ditindaklanjuti para pelaku2 kejahatan tersebut, tetapi tetap juga diberikan kesempatan untuk bertobat. Dan agar pendidikan, menuntut ilmu, bisa dirasakan setiap orang, pendidikan yang diberikan untuk bertahan hidup, menjadi seseorang yang berarti, bukan sekadar pendidikan demi mengejar nilai atau rasa prestisius. Gw sendiri juga ingin sekali bisa memberikan kontribusi dalam perubahan2 baik tersebut.

Dan itu bisa dimulai dari sekarang, salah satunya dengan terus menulis dan menulis!

27 May 2008

DEWASALAH...!!! INDONESIA...!!!

Dewasalah MAHASISWA INDONESIA!!!! Sekolah TINGGI-TINGGI Cuma bisa DEMO!? Kita adalah rakyat TERPELAJAR jadi gunakanlah cara yang TERPELAJAR juga! Demonstrasi itu cukuuuuplah SEKALI terjadi ketika menggulingkan pemerintahan yang otoriter dulu2 banget! Itu peristiwa sejarah yang nggak akan bisa diulang! Cara yang sama nggak akan selalu berhasil! Sekarang kita telah berdiri di atas panggung yang sama dengan dunia global dalam kebebasan yang demokratis! Berarti kita BISA BERBUAT sesuatu! Sudah ada kebebasannya! Demonstrasi itu nggak penting lagi! Lakukan sesuatu di bidang kita masing2!

“Hal yang sama tidak bisa terjadi dua kali...” – Aslan – (The Chronicles of Narnia)

Gw bertanya2 kenapa yang banyak demo justrtu mahasiswa? Siapa, sih, yang paling menjerit menderita dengan naiknya BBM!? SIAPA? Rakyat miskin, kan? yang lebih lebih lebih tidak beruntung dari kita! Kita2 YANG SEKOLAH ini di mata mereka harusnya lebih bisa bertanggung jawab atas sesuatu yang kita punya dan mereka enggak! Sebagai representasi mereka! Sebagai harapan mereka agar kita2 yang BELAJAR ini bisa membawa Indonesia lebih baik untuk mereka juga!

Dan lagi, membantu sesama di kanan-kiri kita itu nggak harus berupa uang dan material, lho. Yang juga penting adalah mendidik mereka. Membuka mata mereka. Mengarahkan dan memberitahu mereka apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi hidup yang makin berat, dan meyakinkan bahwa mereka harus percaya dengan Tuhan dengan tidak mengakhiri hidup mereka begitu saja. Di atas kemiskinan adalah KEBODOHAN yang juga menjadi masalah utama di hidup ini. Jiwa pendidik itu ada dalam diri kita semua, kok. Seperti halnya memberikan pengertian kepada adik kita agar lebih patuh dan sayang dengan orang tua.

Tentang naiknya BBM ini, jujur aja, ya! Cuma orang2 yang memang MALAS yang ketahuan nggak siap dengan naiknya BBM ini. Sama aja halnya kayak kemaren tentang UN yang kontroversial. Apa reaksi gw? Biasa. Nggak ada yang harus dipanikin banget, karena gw tahu gw bisa belajar untuk itu. Yang gw takutkan adalah kesehatan gw pas ujian, dan jangan sampe ada hal2 teknis (diluar bisa/tidak mengerjakan soal) kayak jawaban nggak kebaca, dll. Dan PERBUATAN yang gw LAKUKAN saat itu adalah membantu teman2 gw yang masih ketinggalan dalam pelajarannya untuk menghadapi UN.

Apa bedanya menyikapi UN kemarin dengan naiknya BBM sekarang? Dunia makin maju, berarti energi makin dibutuhkan sementara persediaannya kian menjadi langka berarti bakalan jadi mahal kalo nggak ada penggantinya. Yang namanya masalah itu memang akan datang silih berganti dan kita harus bisa mengatasinya.

Aduuh... Harusnya ilmuwan2 itu dimodalin dan dituntut untuk bisa membuat atau mencari energi alternatif di tengah krisis energi saat ini. Bukannya Indonesia banyak orang2 pintar yang memenangkan olimpiade sains tingkat dunia? Sayangnya mereka kurang dapat apresiasi pemerintah kita dan jadilah keburu dilirik negara lain.

Tante gw sampe bilang, lucu kalo ada orang yang bekerja sampe panik BBM naik. Lha, harga barang2 naik pastinya mau nggak mau gaji karyawan juga naik, dong? jadi intinya tutup lubang juga, kan? nothing really changes.

Tapi gw juga nggak suka sama keputusan pemerintah tentang pemberian dana BLT. Apaan itu? yang ada bikin masyarakat Indonesia MAKIN MALAS! Bolehlah ada BLT tapi notabene untuk orang2 tua dan lansia yang udah nggak produktif bekerja lagi. Yang lainnya jangan dikasih ‘uang jajan’ begitu aja. Pemerintah harus memprogramkan sesuatu yang membuat rakyatnya TERPACU untuk bekerja, seperti misalnya dana yang diberikan itu dipakai untuk modal bekerja dan DIAWASI selama beberapa bulan misalnya? Susah memang mengingat Indonesia itu terpencar luas ke berbagai pulau. Tapi, selalu ada yang pertama untuk segalanya, kan?

“SELALU ADA YANG PERTAMA UNTUK SEGALANYA” – Jack Langeyl – (We Are Marshall)

Tentunya, program pemerintah juga harus didukung dengan masyarakatnya terutama kita2lah yang bersekolah ini... karena Indonesia itu luas, pulaunya banyak, jadi agak berat di bagian distribusi entah itu dana, entah itu informasi. Masyarakat harus mulai membuka mata, terhadap sekitarnya. Sebuah negara itu tidak berdiri sendiri, tidak dengan hanya pemerintahnya, tapi juga dengan rakyatnya.

Sekali lagi, sampe berkali2 mungkin, yah, gw ngemengin ini... kalo kita manusia adalah makhluk yang suda diberi akal budi oleh Tuhan, kita diberi kemampuan untuk menyikapi masalah2 yang ada. Gunakan, dan salurkan. Karena ilmu itu diraih tinggi2 untuk benar-benar dipakai di kehidupan nyata.
Bangkit itu menangis... Bangkit itu marah! Karena melihat masih banyak kemiskinan dan kebodohan di tengah-tengah kita.

23 May 2008

good place makes good sense






Coba, ya... tempat ini lebih di-manage dengan baik. Udah kurang lebih 2 tahun sejak resmi dibuka, tapi masih sepi-sepi aja. WHY?


Padahal, ya, menurut gw tempat ini kerrrren banget. Apartemen di atas, di bawah udah pusat perbelanjaan, mungkin aja ada yang juga kerja di bawah jadi dekat dengan tempat tinggal di atasnya. Ideal untuk gaya hidup yang sekarang udah condong menuju 'back to city'. Tempat kerja yang dekat dengan tempat tinggal, berada di pusat kota yang strategis. JaCC ini juga tembus ke Tanah Abang, lho!


Gw udah 2x ke sana buat nonton acara Animonster (yg udah 2x ngadain acara di sana). Dan masiiiih... sama2 aja selama 2 tahun itu. Mungkin udah nambah ada foodcourt, wisata makanan, emang semuanya berasal dari tempat makan dulu, ya. Tapi kata nyokap gw (yg punya kios di sana dan pengen cepet laku disewain), harusnya bisa lebih gencar lagi pihak manajemennya mengingat JaCC memiliki prospek yang amat bagus.


Here some of pictures from JaCC yang gw captured pas lagi nemenin nyokap gw ngeliat kiosnya di sana.
Ada yang berminat untuk menyewa kios kami di tempat ini? Kebetulan lokasinya dekat dengan tempat2 yang tercantum di foto2 di atas, yaitu dekat foodcourt, lantai 2, dan berada di tengah2 lokasi kios2 khusus ponsel.

20 May 2008

We Are...

Sekali berarti, sudah itu mati.

Seabad sudah, berlalu sejak hari yang disebut-sebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional, yaitu tanggal 20 Mei 1908, di mana untuk pertama kalinya sebuah organisasi Indonesia didirikan oleh bung Soetomo, yaitu organisasi Boedi Oetomo.

Satu dekade sejak memasuki Era Reformasi. Jadi inget, di soal UAS sejarah kemarin ada soal yang bertanya ‘apa saja agenda reformasi?’. Dan jujur aja, gw gak tau (naas sekali pelajaran sejarah gw, padahal itu pelajaran kesukaan gw. huks...). Barulah gw tahu salah satu diantaranya setelah nonton TV setelah sekian lama jaraaaaang banget nonton TV terutama berita.

Sudahlah. Sekian saja pelajaran sejarah singkatnya.

Saat ini kita berdiri di tengah sebuah jalan. Tampak di depan kita sebuah peradaban yang lebih maju, impian, dan cita-cita, dan segala hal yang kita inginkan, yang ingin kita capai. Sementara di belakang kita, tampak gambaran keterbelakangan, kemiskinan, masalah-masalah yang belum terselesaikan. Dan di tempat kita berdiri ini, kita sedang menarik gerobak besar berisikan beban tanggung jawab dan harapan.

Kita. Sebenarnya ini semua tentang kita. Manusia.
Hidup kita bukanlah hanya bergantung kepada keputusan pemerintah belaka, hidup kita adalah kita sendiri yang menyesuaikannya dengan situasi dan keadaan. Kita tidak bisa menutup mata bahwa Indonesia ini LUAS dan terbagi ke banyak wilayah yang terpencar-pencar. Kemiskinan tampak di kanan-kiri kita dan yang kita lakukan hanya menuntut pemerintah. Seharusnya kita sendiri BISA melakukan sesuatu terhadap kemiskinan.

Mengatasi kemiskinan, dilakukan tidak hanya dengan menatap dan terceletuk di hati ‘kasihan’, melainkan yang terceletuk di hari haruslah sebuah introspeksi terhadap diri sendiri, apakah kita sudah bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan sekarang? Sebagai pelajar, sebagai rakyat, sebagai manusia? Seorang pelajar yang melaksanakan kewajibannya dengan baik berarti ia menghargai apa yang ia miliki karena ia tahu ada banyak orang yang menginginkannya, yang lebih tidak beruntung darinya. Lalu barulah kita menyisihkan sedikit sedekah, berharap agar amal baik tersebut menjadi mempermulus perjuangan kita dalam menjalankan tanggung jawab, sebagai reminder singkat untuk melanjutkan segalanya lebih baik lagi.

Bukan berarti gw sendiri tahan dengan keadaan yang ada. Berat memang, tapi gw percaya akan adanya keadaan yang lebih baik menanti di depan sana. Dan untuk itu kita semualah yang harus memulainya. Banyak orang menyalahkan orang lain tanpa melihat apakah diri sendiri sudah melakukan yang benar? Tapi banyak juga orang-orang yang mau berpikiran lebih terbuka, dan orang-orang itu juga tersebar di seluruh penjuru nusantara ini.

Kita sudah ada, untuk melakukan perubahan.

We are hope, we are desire, we are dream. And we are here, now...

Selamat 100th Hari Kebangkitan Nasional. May Indonesia be better in our hand.

07 April 2008

Between Tea, Coffee, and Smoke


Semua orang memiliki caranya masing2 untuk mengkondisikan dirinya ke relaksasi dan refreshing. Di posting kali ini, gw hanya menyebutkan 3 diantaranya, yaitu ngeteh, ngopi, dan ngerokok. Di mana ngeteh (baca: minum teh;red) merupakan salah satu cara yang bisa bikin gw rileks dan refreshing.

Sebenernya ngeteh, ngopi, dan ngerokok itu sama aja. Terserah siapa yang melakukannya, yang pasti itu berarti adalah cara bagaimana mereka membuat dirinya merasa rileks. Gw merasa sekeliling gw lebih berbeda, tenang dan nyaman ketika gw ngeteh, apalagi kalau diselingi kue kering. Beberapa orang merasakan hal yang sama ketika ngopi. Makanya kenapa sebuah cafe bisa sebegitu penting bagi kita2 yang merasakan kondisi nyaman di dalamnya.

Bagaimana dengan ngerokok? Karena itu juga merupakan kondisi relaksasi bagi mereka yang merokok, maka kita juga nggak bisa melarang mereka untuk tidak merokok bukan? TAPI, ada tapinya, neh. Yang membedakan ngerokok dengan ngeteh dan ngopi adalah, keberadaan perokok itu mengganggu orang2 yang ada di sekitar dan sekelilingnya. Siapa, sih? Yang merasa terganggu kalo ada orang lagi ngeteh atau ngopi di sebelah kita? Tapi kalo ngerokok? Hmmh!

Pastinya kita semua udah tau fakta ‘efek rokok terhadap perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif’. Perokok pasif itu kan orang yang menghirup asap rokok yang ditimbulkan oleh perokok aktif (yaitu orang yang merokok), perokok pasif itu kita2 yang merasa terganggu oleh orang yang merokok di sebelah kita. Berarti... kita yang dirugikan, dong? Kita dihadiahkan penyakit dari orang yang merokok di sebelah kita.

Walopun gtu kita juga ngerti banget klo merokok penting bagi beberapa orang untuk kondisi rileksnya, jadi kita nggak bisa ngelarang juga. Maka dari itu pemerintah tetap mengizinkan keberadaan perokok dengan catatan: merokoklah di tempat yang disediakan memang untuk merokok.

Di sekitar kita udah ada aturan yang berlaku. Dan itu ada untuk melindungi masing2 pihak. Jadi, buat apa kita melanggar peraturan yang dibuat untuk kepentingan diri kita sendiri? Klo sampe luar negeri kita masih membawa kebiasaan merokok di tempat yang ada tanda ‘no smoking’nya, udah pasti besar banget denda yang bakalan kita terima. Karena di luar sana kenyamanan dan ketenangan seseorang sudah dinjunjung tinggi oleh hukum.


So, start to care...

01 April 2008

Accident on Tuesday


Selasa, 18 Maret 2007 yang lalu, sebuah kejadian yang nggak terduga terjadi pada gw.

Kecelakaan motor.

Yes. Accident. Sebagai pengendara atau penumpang?

Sebagai penumpang.

Oke. Setelah beberapa hari berlalu dari kejadian di hari itu, baru sekarang mungkin gw bisa kuat untuk membicarakannya. Itu pun sekarang gw bingun harus cerita kayak gimana.

Hmm... dimulai dari hari Selasa seperti biasanya di mana barang2 bawaan gw paling berat dalam Seminggu. Soalnya selain sehabis pulang sekolah gw masih harus bimbel jadinya harus bawa baju ganti (plus buku bimbel yang tebel juga), gw juga bawa baju olahraga yang pelajarannya ada di hari yang sama. Dan sialnya, di hari Selasa yang satu ini gw juga harus bawa raket badminton untuk pelajaran bulu tangkis.

Oke. Dengan tiga tentengan gw bawa: tas punggung berisi baju OR dan raket, tas cantol berisi buku2 pelajaran memberati bahu gw, dan buku2 besar di tangan, suddenly... seorang kawan sedang terdesak menanyakan di mana warnet terdekat dan yang aksesnya juga cepat. Gw jawab gw tahu, dan dia minta gw nganterin dia. Kawan yang satu ini cewek, dan mengendarai motor pulang-pergi sekolah, namanya Ami. Gw oke aja, dan karena kebetulan warnetnya searah sama arah pulang gw, jadilah dia juga mau sekalian nganterin gw pulang.

Ini bukan yang pertama kalinya gw dibonceng dia. Gw tahu juga dia udah pernah kecelakaan motor 2 kali. Dan gw nggak nyangka kalau yang ketiga kalinya ini akan turut membawa gw menjadi korban.

Tepatnya setelah lampu merah menuju Rawamangun (buat warga sini mungkin tahu. Atau malah mungkin melihat?) setelah wisma arion dan sebelum RS. Darma Nugraha, temen gw ngambil kanan dan tancap gas sementara banyak puteran yang berarti kendaraan yang mau muter balik bakalan ngambil kanan dengan kecepatan rendah.

Tepat di depan mata gw, gw ngelihat ada bajaj yang berhenti di puteran terakhir. Itu karena ada motor yang juga berhenti di depannya. Dan dalam kondisi masih terus tancap gas, gw memperingati “Awas, Mi!” dengan pikiran masih sempet menghindar dan palingan juga Cuma oleng. Tapi yang terjadi ternyata di luar dugaan dan kita semua tahu bagaimana selanjutnya.

Things are going fast at that time. Yang gw inget adalah nabrak dengan kencang dan terdengar suara brak! Brak! Brak! motor jatuh dalam keadaan masih jalan dan dengan segera gw dan temen gw juga jatuh terseret atau terpental atau gw nggak tahu bilangnya gimana.

Fyi, saat itu gw nggak pake helm. Cuma temen gw yang pake. Ketika sadar gw udah terbaring miring di atas jalan gw langsung bangun dan ngecek temen gw yang numpuk (entah di atas atau di bawah) sama gw.

Sesaat yang gw pikir adalah: gw masih ngelihat dunia.

Dan selanjutnya, seperti drama jalanan biasanya tiap terjadi tabrakan adalah, terjadi perdebatan atas siapa yang bertanggung jawab. Satu motor kap mesinnya copot, satu mobil (entah bagaimana bisa) kena lecet, dan 2 orang menderita luka-luka.

Dari pandangan gw, temen gw turut bertanggung jawab atas kesalahannya juga. Tapi di kondisi seperti itu gw Cuma mikir mau pulang, pulang dan pulang. Nggak peduli, deh, siapa yang salah, yang pasti gw Cuma KORBAN di sini. Dan gw mau pulang. Titik.

So... setelah sebelumnya dilarang pulang, akhirnya karena kebaikan orang2 sekitar (thank you people) bolehlah kita pulang duluan.

Duh, sial... dosa apa gw sampe bisa kena musibah kayak gini? Klo disuruh mikir... hmm... banyak hal yang gw pikirin mulai dari galaknya gw sama temen2 gw akhir2 ini, ngeselinnya gw akhir2 ini, juga hari itu di mana gw dibilang ‘ngerebut hak orang’ sama temen (karib) gw gara2 gw nebeng motor sama Ami. Katanya seharusnya dia yang nebeng motor (udah rutin). Dan entah kenapa gw merasakan aura marah banget dari dia. Well?

Yah... mungkin gw apes aja. Udah syukur alhamdulillah gw masih selamat. Satu itu yang bikin gw shock. Nggak pake helm dan jatuhnya bener2 tapi nggak ada luka parah kecuali lecet di lengan dan jari. Alhamdulillah. Alhamdulillah juga gw nggak trauma.

Besoknya: (barulah) badan gw terasa sakit semua.

08 March 2008

One Day yg sudah lama terjadi

Hari ini, seharusnya gw dan nyokap gw pergi jalan ke Jakarta denga tujuan:
1. Nonton UrbAnimation di Taman Ismail Marzuki (TIM)
2. Pergi melihat pameran Ekonomi Syari’ah (perbankan syari’ah) di JCC untuk referensi nyokap gw
Tapi apa yang terjadi? Nggak ada satu pun tujuan kita tersebut yang tercapai. Berangkat pagi2 jam 8 dengan harapan nggak macet dan nggak terlalu siang, kita menuju TIM terlebih dahulu. Dan yang ada hanyalah... TIM yang masih sepi, hanya ada acara menari anak2 yang belum mulai, dan acara UrbAnimation yang setelah gw konfirmasi ke panitianya (yang masih pake baju bebas) ternyata baru mulai jam 12 siang! Udah gtu hari ini acaranya Cuma animal cosplay doang. Jadilah batal nonton UrbAnimation.

Selanjutnya, niatan mau langsung ke JCC tapi melihat jam masih jam 9 pagi, kira2 nyampe JCC setengah jam itu udah kecepetan. Akhirnya pas keluar dari TIM menuju jalanan (di mana kebanyakan jalannya satu arah semua) kita nyasar. Ehm, maksudnya bukan nyasar, tapi muter2 nyari jalan ke arah JCC.

Sampai tiba2 setelah beberapa menit muter, kita merasakan jalannya mobil yang kian ‘gludek-gludek’ dan nyokap nyuruh gw lyatin ban mobil yang ada di sebelah kiri gw. awalnya gw lyat ban belakang nggak kempes, tapi pas gw tengok ban depan... dengan kaget gw mendapati kalau ban mobil tersebut udah kempes dengan amat sangat.

Paniklah gw! nggak panik2 amat, Cuma berseru kaget ke nyokap gw kalo ban depannya kempes banget. Nyokap gw langsung jalan pelan-pelan cari parkiran di samping hotel Marcopolo yang lagi ada di depan mata. Keluar dari mobil, gw dan nyokap gw langsung melihat ke ban yang dimaksud, dan mendapati sebuah paku sebesar sekrup yang menancap di ban atau ranjau. Well? Lo bisa nebak apa yang sebenarnya terjadi di sini, kan?

Yap! Kita salah satu korban ranjau ban. Dan berdasarkan pengalaman tsb dan tindakan2 yang diambil nyokap gw, gw mau memberikan beberapa pelajaran yang bisa diambil dari sini. Terutama buat para cewek2 yang sering bawa mobil sendiri, dan single mom atau buat semuanya yang butuh, deh!

Yang perlu kalian lakukan ketika mendapati ban mobil kalian kempes terkena ranjau (ataupun tidak) di tengah perjalanan:
1. Jangan langsung berhenti dan keluar dari mobil, karena dikhawatirkan akan ada yang ‘datang’ alias sang pemasang ranjau.
2. Setelah mendapati ban mobil kalian kempes, bukan berarti roda mobil kalian tidak bisa berjalan. Bisa, namun amat perlahan dan sebenter. Manfaatkan itu untuk mencari tempat yang aman untuk menepi.
3. Usahakan cari tempat menepi dekat hotel atau rumah sakit atau gedung2 yang pastinya memiliki satpam. Jadi, kalau terjadi sesuatu kita bisa berteriak minta tolong.
4. Segera hubungi petugas asuransi siaga (kalau ada) atau kemudian langsung mencari bengkel terdekat (carilah yang terpercaya dan berlisensi karena di sini service adalah segalanya).
5. Jangan lupa keamanan mobilmu. Kunci pintu ketika mobil ditinggalkan.
6. Terakhir, tetap tenang dan boleh berlega hati karena kalian telah berhasil melalui saat2 sulit.

Dan juga thank’s to Garda-Oto, yang dengan siaga 24 jam-nya langsung tanggap akan masalah di tengah perjalanan ini.

Terakhir, balik ke cerita gw. Jadilah hari ini kita ke Jakarta tanpa hasil apa-apa kecuali pengalaman tersebut. Setelah itu gw dan nyokap gw belanja di Indomaret utan kayu (yang dalemnya udah kayak supermarket) untuk keperluan gw bikin kroket. Hehe...

27 January 2008

Untuk Oom Fauzi Bowo


Hmm... ada masukan, nih... yang lebih tepatnya berasal dari Mamih sayah (huehehehh...).


Kata beliau, ide Oom Fauzi untuk menggusur tempat2 yang seharusnya menjadi lahan hijau itu udah bagus, tapii... sedih juga kalau mengingat pedagang bunga barito jadi harus digusur ke tempat yang jauuh... begitu pula nasib sama yang dialami pedagang keramik di Rawasari.


Berani berkritik berarti wajib memberi saran. Dan usul dari kami adalah, bagaimana kalau pedagang2 bunga barito dan pedagang2 keramik Rawasari tsb disuruh pindah berdagang ke pusat kota karena sebenernya masih banyak juga mall2 baru yang masih kosong. Contohnya, nih (boleh, dong, promosi sedikit?) kios2 murah di JaCC (Jakarta City Center) daerah waduk melati.


Bisa, kok, kerjasama dengan pihak pemilik kios, asalkan ada Oom Fauzi yang mau mengkoordinirnya (kan, gubernur Jakarte). Jadii, enak juga buat semuanya. Pemilik kios senang karena ada yang menyewa kiosnya, pedagang2 senang karena dialihkan ke pusat kota yang sebenernya jauh lebih menarik banyak pendatang yang sedang menerapkan gaya hidup back to city. Daan... konsumen atau pelanggan juga senang bisa menemukan langganannya nggak jauh2 dari pusat kota.


Gimana? yah, ini cuma usul dari kita, sih. Mungkin Oom Fauzi punya ide lain yang sedang dipikirkan juga? Asal bisa menyenangkan banyak pihak, sih, nggak masalah. All for one and one for all! Right?!

30 November 2007

Untuk Universitas Indonesia

Untuk pihak Universitas Indonesia, yang kemarin Minggu, 18 Nop. 07 mengadakan Try Out SPMB di Kampus UI Depok.

Komplain! Sebagai salah satu peserta yang berumah di Cibubur, seharusnya tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke Kampus UI di Depok, tapi karena papan penunjuk jalan ke arah Depok yang tertutup pohon lebat (ini wantian untuk warga sekitar) dan tidak terorganisirnya jalan menuju Kampus UI mengetahui pihak UI mengundang kurang lebih 10.000 (kabarnya 100 sekolah dapat jatah 100 tiket) peserta untuk mengikuti Try Out ini, menjadikan banyak siswa yang terjebak macet dan amat sangat terlambat sampai ke lokasi Try Out.

Pihak UI membuat sebuah acara besar, namun tergolong santai dalam mengelolanya. Padahal kalau jalanan ditutup khusus karena ada acara Try Out tsb tidak masalah karena bertepatan dengan hari Minggu. Lha, ini? Yang ada selain siswa2 berkendaraan mobil yang terjebak macet, pengguna jalan sekitar juga menjadi terkena imbas macetnya tanpa mengetahui ada apa, atau mengapa itu bisa terjadi.

Jalan memotong menuju UI pun ditutup oleh polisi karena khawatir macet yang lebih kacau. Ini menunjukkan tidak ada kerjasama atau pemberitahuan kepada pihak2 berwajib seperti polantas, dsb. Tidak terlihat armada2 jaket kuning yang turun tangan, melainkan hanya berada di dalam wilayah kampus, menyeberangkan jalan siswa2 yang sebenarnya nggak perlu (karena mobil berjalan lambat lantaran macet).

Intinya, pengelolaan acara yang tergolong besar itu masih belum mencukupi. Dan dengan kritik yang diberikan, ini diharapkan ke depannya (atau kalau bisa di hari ke-2 TO SPMB besok) sudah ada pengelolaan yang baik.

17 August 2007

About the XII class...

Awalnya, gw rasanya mau pindah kelas aja begitu merasakan ketidaknyamanan di kelas XII IPS 3. Tapi setelah beberapa hari dilalui, ternyata keputusan gw untuk nggak pindah kelas dan memilih untuk menetap di IPS 3, adalah tidak salah, dan tepat.
Prasangka2 jelek gw ttg gimana jadinya kelas ini dan gimana nantinya berefek ke keadaan gw ternyata nggak bener. Dan yang ada sekarang adalah... gw udah berasa pewe banget di kelas gw.

Dan gw bner2 pngen menghabiskan sisa waktu SMA ini dengan sebaik2nya. Bersama2 teman2 gw semua. Target kita sekarang tinggal 2: lulus UN dan SPMB. Udah gitu kita juga menanti2 kepanitiaan Buku Tahunan dan acara Prom Nite. Walopun itu berarti udah perpisahan alias farewell dan pelepasan, hiks... we don’t have much time... and suddenly I feel lonely wondering the time we separated, ketika kita mulai melangkah di jalan masing2...

Gw mau waktu berjalan sedikit lebih lambat di selama kurang lebih 8 bulan yang tersisa untuk kita semua. God, please let the time run slower than usual... just for this time...