| Kotak telepon ini cuma pajangan shooting di Kota Tua suatu hari. Feels so fake for me... |
take it easy, so life will be
26 April 2011
Level kehidupan
17 August 2010
catching dirgahayu
23 August 2009
Big Lost - Kehilangan Besar
Okay, selamat memasuki bulan suci Ramadhan untuk semua blogger dan pembaca blog dan netters dan semua orang.
Baru beberapa hari lalu kita merayakan ulang tahun kemerdekaan RI ke-64, dan hampir semua blogger mempostingkan mengenai semangat-semangat yang perlu dipupuk, rasa nasionalisme dan lain sebagainya bla bla bla…
Oke, itu hal yang wajar, gw juga mempostingkan mengenai perayaan tersebut di tahun 2007, yap, 2 tahun lalu. Tapi sekarang-sekarang tidak ada lagi yang gw tuliskan (well, kecuali ini tentunya), cukup satu-dua tulisan (yg udah gw tuliskan dulu), sekarang saatnya menyisipkannya ke tiap tindakan kita. Agak nggak jelas, tapi yang gw maksud di sini adalah gw bosan dengan postingan2 serupa mengenai perayaan kemerdekaan Indonesia, masalahnya topik dari tiap postingan hampir tidak jauh-jauh, gw berharap sebuah postingan dari sudut pandang yang berbeda, makanya hanya beberapa blog saja yang postingan 17 Agustusnya masih menarik minat baca gw.
Terkesan sinis dan mengecewakankah pandangan gw? Yap, bisa dibilang begitu. Tapi, masalahnya adalah, perayaan kemerdekaan tahun ini, gw malah merasakan suatu kehilangan besar – Big Lost. Entah kenapa, atmosfer perayaan kemerdekaan negeri kita di tahun ini tidak sepanas tahun-tahun yang pernah gw rasakan, 17 Agustus 2009 was just like another ordinary days, another HOLIDAY. Yap, kasar, tapi kenyataanya memang bagi gw ini hanya hari libur biasa bagi orang-orang. Hari libur, manfaatkan waktu luang, istirahat, jalan-jalan, dan lain sebagainya.
Gw bertanya-tanya: Where is THE CELEBRATION?
Nothing change, nothing different. Gw nggak inget menonton sebuah perayaan di televisi yang megah kecuali acara-acara komersial bertema kemerdekaan RI. Upacara di Istana Negara merupakan hal wajib jadi tidak masuk hitungan hal-hal yang perlu berubah. Yang cukup menarik perhatian gw adalah Upacara Bendera di Bawah Air di BUNAKEN, yang menurut asumsi gw kalau itu ditujukan untuk sekaligus memajukan nilai pariwisata Indonesia, well, masih banyak hal lain yang menurut gw jauh lebih bisa memajukan pariwisata kita, hal-hal DETIL, yang… ouch! Lebih baik daripada upacara bawah air yang jujur gw belum bisa melihat esensi penting di dalamnya.
(hm, bisa jadi gw nggak nyadar ada CELEBRATION dan ditayangkan di televisi, dan gw kelewatan. Oke, kalau ada cukup kasih tau gw dan ralatlah semua ucapan gw di sini)
Oke, gw terdengar makin sinis.
Kenapa? karena gw kecewa.
Gw mengenang tahun lalu, di mana di Gelora Bung Karno ada parade yang menampilkan GREAT PERFORMANCE dari orang-orang yang menampilkan tarian2 daerah, gambar2 di tribun penonton, dan semuanya yang menurut gw itulah CELEBRATION yang gw maksudkan. Salah satunya.
Sebenernya tidak benar juga gw menulis seperti ini, gw Cuma merasa kecewa tidak ada yang membuat 17 Agustus kemarin menjadi spesial bagi gw. Hiasan bendera merah-putih di sekitar rumah tidak semeriah dulu, acara lomba di RT juga terasa sepi, acara-acara di TV juga tidak menarik perhatian gw.
Again, sebenernya tidak benar juga gw menulis seperti ini.
Jika kita memang ingin membuat hari ini menjadi hari spesial yang berarti, maka kitalah yang harus membuatnya seperti itu.
"Be the change you want to see in this world" kata Mahatma Gandhi.
I need something new. Kalau inget di luar negeri, tiap daerah memiliki cara mereka masing-masing merayakan hari besar.
Di Indonesia juga ada, kan, ya? Tahun lalu gw pernah menonton beritanya, and believe me, it's soo fun.
Lalu tau2 sekarang udah masukbulan suci Ramadhan. Nggak sadar, udah bulan puasa aja, agak2 nggak siap, rasanya, kok, dadakan banget, ya ? terlalu mendadak. Menonton berita TV mengenai tanggal mulai puasa yang selalu menjadi perdebatan beberapa tahun terakhir ini. Rasanya seperti tanggal-tanggal tersebut dipermainkan.
Dan sekali lagi, muncullah postingan2 mengenai selamat datang bulan Ramadhan. Kali ini, facebook turut berperan. Semuanya berstatus 'mohon maaf lahin bathin memasuki bulan suci ini'. Dulu, pesan2 seperti ini akan membanjiri HP kita melalui sms-sms, sekarang posisi sms tergeser oleh internet.
Big lost yang gw rasakan di awal memasuki bulan Ramadhan ini adalah, a really big lost for an IMAM. Yap. Sejak bokap gw nggak ada, 3 tahun masa SMA gw masuk bulan Ramadhan, yang menjadi imam shalat tarawih adalah gw dan adek gw bergantian. Kemudian, di awal masuk kuliah which is bulan Ramadhan tahun lalu, gw sama sekali NGGAK SHALAT TARAWIH, karena ospek jurusan (tidak bermaksud mengkambinghitamkan) yang melelahkan dan mengharuskan gw pulang malem tiap hari. Menjadikan anggota keluarga gw yang lain jd nggak shalat tarawih juga, who's gonna be the imam?
Tahun ini? Terlalu mendadak, jujur semuanya terlalu mendadak. Kmarin malam itulah yg gw rasakan. Siapa yang akan menjadi imam tahun ini ? tidak tarawihnya gw tahun lalu menjadikan bacaan-bacaan tarawih gw tumpul, dan gw kehilangan keyakinan untuk bisa mengimami shalat tarawih keluarga gw.
Ditambah lagi, bulan ramadhan tahun lalu, masih ada bibi pembantu gw yang memasakkan sahur dan membangunkan kita semua. Well, sejak akhir semester 1 gw yang lalu, bibi tersebut tidak lagi bekerja di rumah gw, tidak ada kemampuan finansial lagi untuk nyokap gw menanggunnya. Perpisahan yang tidak menyenangkan.
Dan hari pertama puasa ini, gw berusaha kuat membuka mata jam setengah 4, menghangatkan nasi dan lauk yang ada, membangunkan nyokap dan adek gw. Mungkin besok-besok hari peran tersebut akan berganti2an.
Inilah, keadaan multiroles di rumah gw.
Dan big lost yang gw sangat mengharapkan akan segera bisa mengatasinya.
peace :D
23 May 2009
Big Lost - Kehilangan Besar
Baru beberapa hari lalu kita merayakan ulang tahun kemerdekaan RI ke-64, dan hampir semua blogger mempostingkan mengenai semangat-semangat yang perlu dipupuk, rasa nasionalisme dan lain sebagainya bla bla bla…
Oke, itu hal yang wajar, gw juga mempostingkan mengenai perayaan tersebut di tahun 2007, yap, 2 tahun lalu. Tapi sekarang-sekarang tidak ada lagi yang gw tuliskan (well, kecuali ini tentunya), cukup satu-dua tulisan (yg udah gw tuliskan dulu), sekarang saatnya menyisipkannya ke tiap tindakan kita. Agak nggak jelas, tapi yang gw maksud di sini adalah gw bosan dengan postingan2 serupa mengenai perayaan kemerdekaan Indonesia, masalahnya topik dari tiap postingan hampir tidak jauh-jauh, gw berharap sebuah postingan dari sudut pandang yang berbeda, makanya hanya beberapa blog saja yang postingan 17 Agustusnya masih menarik minat baca gw.
Terkesan sinis dan mengecewakankah pandangan gw? Yap, bisa dibilang begitu. Tapi, masalahnya adalah, perayaan kemerdekaan tahun ini, gw malah merasakan suatu kehilangan besar – Big Lost. Entah kenapa, atmosfer perayaan kemerdekaan negeri kita di tahun ini tidak sepanas tahun-tahun yang pernah gw rasakan, 17 Agustus 2009 was just like another ordinary days, another HOLIDAY. Yap, kasar, tapi kenyataanya memang bagi gw ini hanya hari libur biasa bagi orang-orang. Hari libur, manfaatkan waktu luang, istirahat, jalan-jalan, dan lain sebagainya.
Gw bertanya-tanya: Where is THE CELEBRATION?
Nothing change, nothing different. Gw nggak inget menonton sebuah perayaan di televisi yang megah kecuali acara-acara komersial bertema kemerdekaan RI. Upacara di Istana Negara merupakan hal wajib jadi tidak masuk hitungan hal-hal yang perlu berubah. Yang cukup menarik perhatian gw adalah Upacara Bendera di Bawah Air di BUNAKEN, yang menurut asumsi gw kalau itu ditujukan untuk sekaligus memajukan nilai pariwisata Indonesia, well, masih banyak hal lain yang menurut gw jauh lebih bisa memajukan pariwisata kita, hal-hal DETIL, yang… ouch! Lebih baik daripada upacara bawah air yang jujur gw belum bisa melihat esensi penting di dalamnya.
(hm, bisa jadi gw nggak nyadar ada CELEBRATION dan ditayangkan di televisi, dan gw kelewatan. Oke, kalau ada cukup kasih tau gw dan ralatlah semua ucapan gw di sini)
Oke, gw terdengar makin sinis.
Kenapa? karena gw kecewa.
Gw mengenang tahun lalu, di mana di Gelora Bung Karno ada parade yang menampilkan GREAT PERFORMANCE dari orang-orang yang menampilkan tarian2 daerah, gambar2 di tribun penonton, dan semuanya yang menurut gw itulah CELEBRATION yang gw maksudkan. Salah satunya.
Sebenernya tidak benar juga gw menulis seperti ini, gw Cuma merasa kecewa tidak ada yang membuat 17 Agustus kemarin menjadi spesial bagi gw. Hiasan bendera merah-putih di sekitar rumah tidak semeriah dulu, acara lomba di RT juga terasa sepi, acara-acara di TV juga tidak menarik perhatian gw.
Again, sebenernya tidak benar juga gw menulis seperti ini.
Jika kita memang ingin membuat hari ini menjadi hari spesial yang berarti, maka kitalah yang harus membuatnya seperti itu.
“Be the change you want to see in this world” kata Mahatma Gandhi.
I need something new. Kalau inget di luar negeri, tiap daerah memiliki cara mereka masing-masing merayakan hari besar.
Di Indonesia juga ada, kan, ya? Tahun lalu gw pernah menonton beritanya, and believe me, it’s soo fun.
Lalu tau2 sekarang udah masuk bulan suci Ramadhan. Nggak sadar, udah bulan puasa aja, agak2 nggak siap, rasanya, kok, dadakan banget, ya ? terlalu mendadak. Menonton berita TV mengenai tanggal mulai puasa yang selalu menjadi perdebatan beberapa tahun terakhir ini. Rasanya seperti tanggal-tanggal tersebut dipermainkan.
Dan sekali lagi, muncullah postingan2 mengenai selamat datang bulan Ramadhan. Kali ini, facebook turut berperan. Semuanya berstatus ‘mohon maaf lahin bathin memasuki bulan suci ini’. Dulu, pesan2 seperti ini akan membanjiri HP kita melalui sms-sms, sekarang posisi sms tergeser oleh internet.
Big lost yang gw rasakan di awal memasuki bulan Ramadhan ini adalah, a really big lost for an IMAM. Yap. Sejak bokap gw nggak ada, 3 tahun masa SMA gw masuk bulan Ramadhan, yang menjadi imam shalat tarawih adalah gw dan adek gw bergantian. Kemudian, di awal masuk kuliah which is bulan Ramadhan tahun lalu, gw sama sekali NGGAK SHALAT TARAWIH, karena ospek jurusan (tidak bermaksud mengkambinghitamkan) yang melelahkan dan mengharuskan gw pulang malem tiap hari. Menjadikan anggota keluarga gw yang lain jd nggak shalat tarawih juga, who’s gonna be the imam?
Tahun ini? Terlalu mendadak, jujur semuanya terlalu mendadak. Kmarin malam itulah yg gw rasakan. Siapa yang akan menjadi imam tahun ini ? tidak tarawihnya gw tahun lalu menjadikan bacaan-bacaan tarawih gw tumpul, dan gw kehilangan keyakinan untuk bisa mengimami shalat tarawih keluarga gw.
Ditambah lagi, bulan ramadhan tahun lalu, masih ada bibi pembantu gw yang memasakkan sahur dan membangunkan kita semua. Well, sejak akhir semester 1 gw yang lalu, bibi tersebut tidak lagi bekerja di rumah gw, tidak ada kemampuan finansial lagi untuk nyokap gw menanggunnya. Perpisahan yang tidak menyenangkan.
Dan hari pertama puasa ini, gw berusaha kuat membuka mata jam setengah 4, menghangatkan nasi dan lauk yang ada, membangunkan nyokap dan adek gw. Mungkin besok-besok hari peran tersebut akan berganti2an.
Inilah, keadaan multiroles di rumah gw.
Dan big lost yang gw sangat mengharapkan akan segera bisa mengatasinya.
Big Lost - Kehilangan Besar
Okay, selamat memasuki bulan suci Ramadhan untuk semua blogger dan pembaca blog dan netters dan semua orang.
Baru beberapa hari lalu kita merayakan ulang tahun kemerdekaan RI ke-64, dan hampir semua blogger mempostingkan mengenai semangat-semangat yang perlu dipupuk, rasa nasionalisme dan lain sebagainya bla bla bla…
Oke, itu hal yang wajar, gw juga mempostingkan mengenai perayaan tersebut di tahun 2007, yap, 2 tahun lalu. Tapi sekarang-sekarang tidak ada lagi yang gw tuliskan (well, kecuali ini tentunya), cukup satu-dua tulisan (yg udah gw tuliskan dulu), sekarang saatnya menyisipkannya ke tiap tindakan kita. Agak nggak jelas, tapi yang gw maksud di sini adalah gw bosan dengan postingan2 serupa mengenai perayaan kemerdekaan Indonesia, masalahnya topik dari tiap postingan hampir tidak jauh-jauh, gw berharap sebuah postingan dari sudut pandang yang berbeda, makanya hanya beberapa blog saja yang postingan 17 Agustusnya masih menarik minat baca gw.
Terkesan sinis dan mengecewakankah pandangan gw? Yap, bisa dibilang begitu. Tapi, masalahnya adalah, perayaan kemerdekaan tahun ini, gw malah merasakan suatu kehilangan besar – Big Lost. Entah kenapa, atmosfer perayaan kemerdekaan negeri kita di tahun ini tidak sepanas tahun-tahun yang pernah gw rasakan, 17 Agustus 2009 was just like another ordinary days, another HOLIDAY. Yap, kasar, tapi kenyataanya memang bagi gw ini hanya hari libur biasa bagi orang-orang. Hari libur, manfaatkan waktu luang, istirahat, jalan-jalan, dan lain sebagainya.
Gw bertanya-tanya: Where is THE CELEBRATION?
Nothing change, nothing different. Gw nggak inget menonton sebuah perayaan di televisi yang megah kecuali acara-acara komersial bertema kemerdekaan RI. Upacara di Istana Negara merupakan hal wajib jadi tidak masuk hitungan hal-hal yang perlu berubah. Yang cukup menarik perhatian gw adalah Upacara Bendera di Bawah Air di BUNAKEN, yang menurut asumsi gw kalau itu ditujukan untuk sekaligus memajukan nilai pariwisata Indonesia, well, masih banyak hal lain yang menurut gw jauh lebih bisa memajukan pariwisata kita, hal-hal DETIL, yang… ouch! Lebih baik daripada upacara bawah air yang jujur gw belum bisa melihat esensi penting di dalamnya.
(hm, bisa jadi gw nggak nyadar ada CELEBRATION dan ditayangkan di televisi, dan gw kelewatan. Oke, kalau ada cukup kasih tau gw dan ralatlah semua ucapan gw di sini)
Oke, gw terdengar makin sinis.
Kenapa? karena gw kecewa.
Gw mengenang tahun lalu, di mana di Gelora Bung Karno ada parade yang menampilkan GREAT PERFORMANCE dari orang-orang yang menampilkan tarian2 daerah, gambar2 di tribun penonton, dan semuanya yang menurut gw itulah CELEBRATION yang gw maksudkan. Salah satunya.
Sebenernya tidak benar juga gw menulis seperti ini, gw Cuma merasa kecewa tidak ada yang membuat 17 Agustus kemarin menjadi spesial bagi gw. Hiasan bendera merah-putih di sekitar rumah tidak semeriah dulu, acara lomba di RT juga terasa sepi, acara-acara di TV juga tidak menarik perhatian gw.
Again, sebenernya tidak benar juga gw menulis seperti ini.
Jika kita memang ingin membuat hari ini menjadi hari spesial yang berarti, maka kitalah yang harus membuatnya seperti itu.
“Be the change you want to see in this world” kata Mahatma Gandhi.
I need something new. Kalau inget di luar negeri, tiap daerah memiliki cara mereka masing-masing merayakan hari besar.
Di Indonesia juga ada, kan, ya? Tahun lalu gw pernah menonton beritanya, and believe me, it’s soo fun.
Lalu tau2 sekarang udah masuk bulan suci Ramadhan. Nggak sadar, udah bulan puasa aja, agak2 nggak siap, rasanya, kok, dadakan banget, ya ? terlalu mendadak. Menonton berita TV mengenai tanggal mulai puasa yang selalu menjadi perdebatan beberapa tahun terakhir ini. Rasanya seperti tanggal-tanggal tersebut dipermainkan.
Dan sekali lagi, muncullah postingan2 mengenai selamat datang bulan Ramadhan. Kali ini, facebook turut berperan. Semuanya berstatus ‘mohon maaf lahin bathin memasuki bulan suci ini’. Dulu, pesan2 seperti ini akan membanjiri HP kita melalui sms-sms, sekarang posisi sms tergeser oleh internet.
Big lost yang gw rasakan di awal memasuki bulan Ramadhan ini adalah, a really big lost for an IMAM. Yap. Sejak bokap gw nggak ada, 3 tahun masa SMA gw masuk bulan Ramadhan, yang menjadi imam shalat tarawih adalah gw dan adek gw bergantian. Kemudian, di awal masuk kuliah which is bulan Ramadhan tahun lalu, gw sama sekali NGGAK SHALAT TARAWIH, karena ospek jurusan (tidak bermaksud mengkambinghitamkan) yang melelahkan dan mengharuskan gw pulang malem tiap hari. Menjadikan anggota keluarga gw yang lain jd nggak shalat tarawih juga, who’s gonna be the imam?
Tahun ini? Terlalu mendadak, jujur semuanya terlalu mendadak. Kmarin malam itulah yg gw rasakan. Siapa yang akan menjadi imam tahun ini ? tidak tarawihnya gw tahun lalu menjadikan bacaan-bacaan tarawih gw tumpul, dan gw kehilangan keyakinan untuk bisa mengimami shalat tarawih keluarga gw.
Ditambah lagi, bulan ramadhan tahun lalu, masih ada bibi pembantu gw yang memasakkan sahur dan membangunkan kita semua. Well, sejak akhir semester 1 gw yang lalu, bibi tersebut tidak lagi bekerja di rumah gw, tidak ada kemampuan finansial lagi untuk nyokap gw menanggunnya. Perpisahan yang tidak menyenangkan.
Dan hari pertama puasa ini, gw berusaha kuat membuka mata jam setengah 4, menghangatkan nasi dan lauk yang ada, membangunkan nyokap dan adek gw. Mungkin besok-besok hari peran tersebut akan berganti2an.
Inilah, keadaan multiroles di rumah gw.
Dan big lost yang gw sangat mengharapkan akan segera bisa mengatasinya.
22 March 2009
Merah Putih: kolosal film Indonesia yang dinantikan
Siapa saja aktor2nya? Gw dan adek gw yang seorang pengamat film (terutama perkembangan film Indonesia) sangat surprise melihat: Lukman Sardi dan Teuku Rifnu Wikana menjadi dua orang dari beberapa tokoh utamanya. Yang lain ada Doni Alamsyah, Darius Sinathrya, Zumi Zola, Atiqah Hasiholan dan Saraswati.
Sutradaranya sendiri adalah Yadi Sugandi, yang udah memperlihatkan kinerjanya sebagai penata gambar Laskar Pelangi, Under the Tree, Tiga Hari untuk Selamanya, dan The Photograph; sederetan judul film2 besar di Indonesia.
Dan gw makin senang melihat keseriusan film bertajuk kolosal ini dengan dipanggilnya ahli2 dari luar negeri. Berikut yang gw dapet dari situs ini:
"Merah Putih dibesut dalam format seluloid 35 millimeter dengan tim internasional yang terdiri atas ahli efek khusus (special effects) dan veteran perfilman Hollywood yakni Koordinator efek khusus dari Inggris Adam Howarth (Saving Private Ryan, Blackhawk Down), Koordinator pemeran pengganti (stunt) Rocky McDonald (Mission Impossible II, The Quiet American).
“Make-up dan visual effects oleh Rob Trenton (The Dark Knight), Konsultan ahli persenjataan adalah John Bowring (Crocodile Dundee II, The Matrix, The Thin Red Line, Australia, X-Men Origins:Wolverine) dan Asisten Sutradara adalah Mark Knight (December Boys, Beautiful).”
We Are going to be The Nexts
OSCAR LAWALATA
Gw sedang ingin memberikan support dan applause untuk seorang Oscar Lawalata. Hari ini di Showbiz: On Location MetroTV gw melihat liputan mengenai fashion show Oscar Lawalata yang diselenggarakan di Kupang, Nusa Tenggara. Dia sedang mengangkat kain tenun ikat sebagai dasar dari fashion-nya saat itu. Kain tenun ikat sendiri adalah salah satu kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat Nusa Tenggara, Indonesia.
Setelah menonton berita tersebut, gw teringat sebuah berita di Kompas mengenai kemenangan Oscar Lawalata dalam sebuah event internasional. Dan karena gw lupa berita lengkapnya, jadilah gw langsung mencari di internet dan mendapatkan informasi mengenai Oscar Lawalata tersebut.
"Di tengah ajang dunia London Fashion Week 2009, Oscar Lawalata memukau industri mode Inggris. Oscar dinobatkan dewan juri sebagai pemenang International Young Fashion Entrepreneur of the Year (IYFE) 2009, yang diumumkan di The Chambord Bar, London.
"Kemenangan Oscar diraih melalui proyeknya berjudul 'Weaving the Future'. Proyek ambisius tersebut bertujuan melestarikan, mengembangkan dan mengangkat kain-kain tradisional Indonesia ke pasar internasional dalam sebuah kolaborasi antara Oscar sebagai perancang busana dengan para pengrajin kain tradisional dari penjuru Nusantara."
Berita selengkapnya bisa dibaca di sini.
What’s the point?
Buat gw, Indonesia adalah negeri yang hebat, dan gw merasa bersyukur dilahirkan di Indonesia, sebagai seorang Indonesia.
Gw sendiri adalah seorang yang menginginkan Indonesia menjadi negara yang hebat di mata dunia. Dan gw ingin menjadi salah satu dari pembawa nama besar Indonesia di kancah dunia tersebut.
Apa yang dilakukan oleh seorang Oscar Lawalata dalam bidangnya seharusnya menjadi contoh, bahwa kita bisa juga mengikuti jejaknya di bidang kita masing2.
Seorang pengusaha, seorang petani, seorang olahragawan, seorang sutradara, seorang novelis, seorang penyanyi, seorang mahasiswa pun bisa mengikuti jejak seperti Oscar Lawalata di atas.
Tinggal diperlukan niat, usaha, dan action.
"Sebelum Oscar, Indonesia telah menjadi jawara dunia pada bidang Music (Yoris Sebastian, juara kedua) pada tahun 2006 dan Screen (Wahyu Aditya, 2007 dan Sakti Parentean, 2008)."
So, are we going to be the next?
Well, I will...!
13 February 2009
PILEK – Baso – Tissue bau Rokok

Aargh!
Udah dua hari ini gw pilek... nggak enak banget, rasanya males kuliah, males masuk kelas, soalnya dingin AC bakalan bikin kuliah gw nggak nyaman, suerr! Pasti diisi sama gw nyedot2 ingus trus dan yang ada gw terlalu pusing untuk memperhatikan pelajaran.
To the topic, hari ini gw makan baso di kampus sampe dua kali gara2 pilek. Ehm, sebenernya nggak gara2 itu juga (emang dasar doyan makan). Tapi... kalo lagi pilek gini, diiming2in sama bakso yang berkuah... trus bersambel... mm, nyam nyam, deh. Udah begitu, jadilah...! pertama abis kuliah makan bakso di kantin psikologi, terus... sorenya makan bakso di deretan BLOC (kafe rangkap bookstore di FISIP). Sampe2 temen gw kaget dengan nafsu makan gw itu.
“Trus, Fik. Yang sekarang lo makan bakso itu... ngemil sore, maksudnya?” (begitulah kira2 ucapan tmen gw. Haha)
Sehabis makan bakso, gw udah nggak tahan untuk pulang. Melihat kondisi gw yang pilek, rasanya udah pengen banget duduk di angkot trus tidur, blek! Tapiii.... what happen and what happen??? MACET sodara2! Padahal arus gw pulang kuliah itu ngelawan arus pulang kerja, harusnya nggak macet (biasanya lancar), dan dengan macet seperti itu bikin POLUSI makin terasa dan memperparah PILEK gw. Resmilah gw bermodal SELEMBAR tissue abis2an bermeler2 di angkot.
Akhirnya, lepas dari macet yang ternyata berasal dari puteran (yang memutar ke arus berlawanan yang memang macet) dan sampai ke Jalan Baru. Langsung nyiapin duit dan turun dari angkot, berniat untuk membeli satu pak tissue, gw langsung mencegat bapak2 yang jualan rokok, permen, tissue, dll (tau’ kan? Yang biasa kau lihat di lampu2 merah atau dalam bus), dan bergegas menaiki angkot berikutnya.
Begitu dibuka dan gw pake ternyata... tissue-nya... BAU ROKOK. Hah!? Apa!? Di saat gw pilek begini gw menempelkan benda berbau ROKOK ke hidung gw!?!? Yang ada pillek gw MAKIN PARAH dan selama perjalanan pulang gw bersin beberapa kali. Kepala gw makin pusing dan rasanya udah nggak sanggup buka mata saking pileknya bikin capek. Argh! What a pain.............
Pelajaran: jangan beli tissue di abang2 kayak gitu kalau nggak mau tissue-mu adalah yang beraroma ROKOK.
29 December 2008
Love. Love. Love

“Die is peaceful, easy. Life’s harder” – Bella Swan –
Finally, gw nonton film ini bertiga sama adek dan nyokap gw. Well, gw nggak nyangka cerita vampir masih digemari sampai saat ini dan Stephanie Meyer bener-bener bisa membawa kisah tersebut ke dalam kemasan yang lebih meremaja. Aduh... jangan komentar sama bahasa gw, yah, haha.
Sayangnya, menurut gw film ini masih memiliki banyak kekurangan dilihat dari segi film. Maksudnya? Yah... alurnya agak lambat di awal2, terus love chemistry antar tokoh utamanya nggak dibangun jadinya agak hambar aja buat gw. Gw berkesimpulan orang2 mengatakan film ini keren adalah karena konsep cerita dan karakternya. Well... people like fantasy, dan akan lebih menyenangkan kalau fantasi kita tersebut terealisasikan dalam wujud nyata, kan? Melihat sosok vampir remaja, dengan kehidupannya yang berbeda, main baseball aja harus nunggu badai baru seru, loncat2 pohon, punya kecepatan dan kekuatan yang luar biasa. Wow. I think it’s cool.
Tapi bukan berarti film ini nggak bagus untuk ditonton. There always be a second sight, right? We cannot always believe on our first sight opinion, bisa aja penilaian kita berubah saat menontonnya lagi.Fyi, gw belum baca novelnya sama sekali. Nonton film ini juga tanpa pernah lihat sneak peak maupun trailer-nya, jad surprise2 banget, deh. Hehe.


Speaking about love story movies, baru2 ini gw juga nonton film romance Indonesia, yaitu... Cinta Silver.
Whaaat? Baru nonton sekarang? Rasanya itu film lama, deh.
Iya, gw baru nonton sekarang soalnya adek gw baru aja beli DVD-nya dengan harga murah. Hehe.
Film ini baguuuuuuuuuuussss bangeeeeeeetttt...!!! it has beautiful scenes and the story is so simple but stunning. It tells us about loving. Loving is not just taking but also giving. Yeah, mungkin semua orang udah tau mengenai hal ini, tapi rasanya itu bukanlah hal mudah untuk dijalankan.

Kadang, kita sudah menemukan orang tepat, orang yang paling membuat kita merasa nyaman ketika berada bersamanya, orang yang selalu membuat kita senang, tertawa dan bahagia, dan it seems like him/her got the same feelings too. Kalau sudah seperti itu, all we need is just a little sacrifice and commitment. Yep. Karena pada kenyataannya adalah, kisah cinta tidak berakhir di pelaminan, karena masih ada jenjang lain setelahnya. Kita tidak tahu apakah bisa membagi waktu antara karir dan cinta, antara kerja dan keluarga, antara semuanya, karena itu membutuhkan sedikit pengorbanan. Kita lebih sering menginginkan orang mengerti diri kita, keadaan dan kondisi kita, hingga lupa bahwa orang lain juga berkeinginan yang sama terhadap kita.
Baru-baru ini, setelah menjalani ospek (baca: masa bimbingan) jurusan gw, ada satu hal yang gw pelajari, bahwa kita tidak perlu berpikir mengenai apa yang orang lain lakukan terhadap kita, pikirkanlah apa yang kita lakukan terhadap orang lain. Entah itu perbuatan baik maupun tidak baik.
Speaking about love... sampai hari ini gw belum menemukan someone to tell about. I hope someday he will come, and i hope that day will be come soon.

14 August 2008
Sampahmu penghasilan mereka
Susahkah untuk membuang sampah pada tempatnya?
Susah, karena memang kenyataannya keberadaan tempat sampah itu sendiri masih kurang memadai. Tapi, in my case, kalo gw nggak nemu tempat sampah, untuk buang gelas aqua misalnya, gw bakalan bawa2 itu gelas sampai gw menemukan tempat sampah, bahkan kalo emang harus nunggu pulang ke rumah dulu, bisa juga gw masukin tas, soalnya gelas2 kosong begitu, bungkus2 bekas permen, dan semacamnya masih termasuk sampah kering, jadi tas gw fine2 aja.
I don’t know why, tapi gw dan adek gw nggak bisa buang sampah sembarangan. Serius! Yang kita lakukan yah seperti yang udah gw tulis di atas itu. Mungkin karena orang tua kita berdua turut berperan dalam kebiasaan2 kita itu sejak kecil, and as you know, yang namanya kebiasaan itu susah diubah, dan untunglah yang satu ini kebiasaan baik.
Yang paling bingung kalo sampahnya itu seperti plastik bekas siomay atau semacamnya yang masih ada sisa2 bumbu kacangnya. Makanya gw berusaha menghindari beli jajanan kayak gitu kalo dirasa tidak akan menemukan tempat untuk membuangnya. Haha.
Back to topic. Tentang sampah gelas plastik yang jadi sumber pendapatannya pemulung. Yah, kita nggak tau untuk apa gelas2 plastik itu, bisa jadi dikumpulin trus dibeli sama dealer sampah daur ulang (kalau memang ada, i don’t know about this), atau mereka pake sendiri buat diisi ulang sama entah apa (hii... semoga aja enggak).
Well, agak memalukan memang ketika menyadari bahwa SAMPAH KITA SENDIRI HARUS DIBUANGIN SAMA ORANG LAIN. What!? tenang, Fik, tenang... deep breath dulu,, kebiasaan gw, nih, esmosi kalo udah menuju masalah humaniora, hh...
Jadi, hal-hal kecil seperti itu pun punya pengaruh terhadap kehidupan orang lain. Kita nggak boleh bangga menyadari banyak orang tak mampu di sekitar kita bergantung sama sampah kita dan sampah orang lain untuk mencari uang makan! (ehm, tidak termasuk petugas dinas kebersihan, ya).
Uh-oh, trus gimana dong? Ntar kalo kita mulai membiasakan buang sampah pada tempatnya, membiasakan membagi sampah organik, anorganik, dan pecah-belah, kita menghilangkan mata pencaharian mereka, dong?
Well, setidaknya secara tidak langsung, perubahan pola hidup kita itu bisa mendidik mereka bahwa pilihan jalan hidup mereka tidaklah harus menjadi pemulung yang mengais2 sampah! Semua manusia (kaya maupun miskin) dituntut untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang akan terus berubah, kita sebagai mahasiswa bisa membantu mereka beradaptasi dengan perubahan tersebut, (hey! Kita punya ilmu yang bisa diberikan ke orang lain).
Mendidik adalah hal yang penting. Ilmu (dalam artian luas, bukan sekedar yang didapat di sekolah) adalah sesuatu yang kita gunakan untuk bisa bertahan hidup. Tanpa ilmu apa yang bisa kita gunakan untuk mencapai tujuan2 kita? Bahkan Tuhan pun tidak akan menerima doa seorang manusia kalau manusia itu sendiri juga tidak berusaha.
Mendidik itu bukan memanjakan. Itulah kenapa gw berpendapat kalau program BLT itu masih belum sempurna. Gimana, toh? Masyarakat Cuma dikasih2 begitu aja, dididik agar uang tersebut jadi modal mereka untuk usaha, dong!
Uang itu Cuma alat, ingat?
27 May 2008
DEWASALAH...!!! INDONESIA...!!!
“Hal yang sama tidak bisa terjadi dua kali...” – Aslan – (The Chronicles of Narnia)
Gw bertanya2 kenapa yang banyak demo justrtu mahasiswa? Siapa, sih, yang paling menjerit menderita dengan naiknya BBM!? SIAPA? Rakyat miskin, kan? yang lebih lebih lebih tidak beruntung dari kita! Kita2 YANG SEKOLAH ini di mata mereka harusnya lebih bisa bertanggung jawab atas sesuatu yang kita punya dan mereka enggak! Sebagai representasi mereka! Sebagai harapan mereka agar kita2 yang BELAJAR ini bisa membawa Indonesia lebih baik untuk mereka juga!
Dan lagi, membantu sesama di kanan-kiri kita itu nggak harus berupa uang dan material, lho. Yang juga penting adalah mendidik mereka. Membuka mata mereka. Mengarahkan dan memberitahu mereka apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi hidup yang makin berat, dan meyakinkan bahwa mereka harus percaya dengan Tuhan dengan tidak mengakhiri hidup mereka begitu saja. Di atas kemiskinan adalah KEBODOHAN yang juga menjadi masalah utama di hidup ini. Jiwa pendidik itu ada dalam diri kita semua, kok. Seperti halnya memberikan pengertian kepada adik kita agar lebih patuh dan sayang dengan orang tua.
Tentang naiknya BBM ini, jujur aja, ya! Cuma orang2 yang memang MALAS yang ketahuan nggak siap dengan naiknya BBM ini. Sama aja halnya kayak kemaren tentang UN yang kontroversial. Apa reaksi gw? Biasa. Nggak ada yang harus dipanikin banget, karena gw tahu gw bisa belajar untuk itu. Yang gw takutkan adalah kesehatan gw pas ujian, dan jangan sampe ada hal2 teknis (diluar bisa/tidak mengerjakan soal) kayak jawaban nggak kebaca, dll. Dan PERBUATAN yang gw LAKUKAN saat itu adalah membantu teman2 gw yang masih ketinggalan dalam pelajarannya untuk menghadapi UN.
Apa bedanya menyikapi UN kemarin dengan naiknya BBM sekarang? Dunia makin maju, berarti energi makin dibutuhkan sementara persediaannya kian menjadi langka berarti bakalan jadi mahal kalo nggak ada penggantinya. Yang namanya masalah itu memang akan datang silih berganti dan kita harus bisa mengatasinya.
Aduuh... Harusnya ilmuwan2 itu dimodalin dan dituntut untuk bisa membuat atau mencari energi alternatif di tengah krisis energi saat ini. Bukannya Indonesia banyak orang2 pintar yang memenangkan olimpiade sains tingkat dunia? Sayangnya mereka kurang dapat apresiasi pemerintah kita dan jadilah keburu dilirik negara lain.
Tante gw sampe bilang, lucu kalo ada orang yang bekerja sampe panik BBM naik. Lha, harga barang2 naik pastinya mau nggak mau gaji karyawan juga naik, dong? jadi intinya tutup lubang juga, kan? nothing really changes.
Tapi gw juga nggak suka sama keputusan pemerintah tentang pemberian dana BLT. Apaan itu? yang ada bikin masyarakat Indonesia MAKIN MALAS! Bolehlah ada BLT tapi notabene untuk orang2 tua dan lansia yang udah nggak produktif bekerja lagi. Yang lainnya jangan dikasih ‘uang jajan’ begitu aja. Pemerintah harus memprogramkan sesuatu yang membuat rakyatnya TERPACU untuk bekerja, seperti misalnya dana yang diberikan itu dipakai untuk modal bekerja dan DIAWASI selama beberapa bulan misalnya? Susah memang mengingat Indonesia itu terpencar luas ke berbagai pulau. Tapi, selalu ada yang pertama untuk segalanya, kan?
“SELALU ADA YANG PERTAMA UNTUK SEGALANYA” – Jack Langeyl – (We Are Marshall)
Tentunya, program pemerintah juga harus didukung dengan masyarakatnya terutama kita2lah yang bersekolah ini... karena Indonesia itu luas, pulaunya banyak, jadi agak berat di bagian distribusi entah itu dana, entah itu informasi. Masyarakat harus mulai membuka mata, terhadap sekitarnya. Sebuah negara itu tidak berdiri sendiri, tidak dengan hanya pemerintahnya, tapi juga dengan rakyatnya.
Sekali lagi, sampe berkali2 mungkin, yah, gw ngemengin ini... kalo kita manusia adalah makhluk yang suda diberi akal budi oleh Tuhan, kita diberi kemampuan untuk menyikapi masalah2 yang ada. Gunakan, dan salurkan. Karena ilmu itu diraih tinggi2 untuk benar-benar dipakai di kehidupan nyata.
23 May 2008
good place makes good sense
20 May 2008
We Are...
Sekali berarti, sudah itu mati.
Seabad sudah, berlalu sejak hari yang disebut-sebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional, yaitu tanggal 20 Mei 1908, di mana untuk pertama kalinya sebuah organisasi Indonesia didirikan oleh bung Soetomo, yaitu organisasi Boedi Oetomo.
Satu dekade sejak memasuki Era Reformasi. Jadi inget, di soal UAS sejarah kemarin ada soal yang bertanya ‘apa saja agenda reformasi?’. Dan jujur aja, gw gak tau (naas sekali pelajaran sejarah gw, padahal itu pelajaran kesukaan gw. huks...). Barulah gw tahu salah satu diantaranya setelah nonton TV setelah sekian lama jaraaaaang banget nonton TV terutama berita.
Sudahlah. Sekian saja pelajaran sejarah singkatnya.
Saat ini kita berdiri di tengah sebuah jalan. Tampak di depan kita sebuah peradaban yang lebih maju, impian, dan cita-cita, dan segala hal yang kita inginkan, yang ingin kita capai. Sementara di belakang kita, tampak gambaran keterbelakangan, kemiskinan, masalah-masalah yang belum terselesaikan. Dan di tempat kita berdiri ini, kita sedang menarik gerobak besar berisikan beban tanggung jawab dan harapan.
Kita. Sebenarnya ini semua tentang kita. Manusia.
Hidup kita bukanlah hanya bergantung kepada keputusan pemerintah belaka, hidup kita adalah kita sendiri yang menyesuaikannya dengan situasi dan keadaan. Kita tidak bisa menutup mata bahwa Indonesia ini LUAS dan terbagi ke banyak wilayah yang terpencar-pencar. Kemiskinan tampak di kanan-kiri kita dan yang kita lakukan hanya menuntut pemerintah. Seharusnya kita sendiri BISA melakukan sesuatu terhadap kemiskinan.
Mengatasi kemiskinan, dilakukan tidak hanya dengan menatap dan terceletuk di hati ‘kasihan’, melainkan yang terceletuk di hari haruslah sebuah introspeksi terhadap diri sendiri, apakah kita sudah bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan sekarang? Sebagai pelajar, sebagai rakyat, sebagai manusia? Seorang pelajar yang melaksanakan kewajibannya dengan baik berarti ia menghargai apa yang ia miliki karena ia tahu ada banyak orang yang menginginkannya, yang lebih tidak beruntung darinya. Lalu barulah kita menyisihkan sedikit sedekah, berharap agar amal baik tersebut menjadi mempermulus perjuangan kita dalam menjalankan tanggung jawab, sebagai reminder singkat untuk melanjutkan segalanya lebih baik lagi.
Bukan berarti gw sendiri tahan dengan keadaan yang ada. Berat memang, tapi gw percaya akan adanya keadaan yang lebih baik menanti di depan sana. Dan untuk itu kita semualah yang harus memulainya. Banyak orang menyalahkan orang lain tanpa melihat apakah diri sendiri sudah melakukan yang benar? Tapi banyak juga orang-orang yang mau berpikiran lebih terbuka, dan orang-orang itu juga tersebar di seluruh penjuru nusantara ini.
Kita sudah ada, untuk melakukan perubahan.
We are hope, we are desire, we are dream. And we are here, now...
Selamat 100th Hari Kebangkitan Nasional. May Indonesia be better in our hand.
02 May 2008
Selamat Hari Pendidikan Nasional!
"be the change you want to see in the world" -Mahatma Gandhi-
Hari ini di sekolah gw ngadain upacara peringatan Hardiknas. Banyak adegan seru dan spontan aja gw langsung siap sedia kamera hape tuk mengabadikannya langsung ke blog! hehehe...
Moga-moga pendidikan di Indonesia segera menjadi lebih baik dan baik lagi dari yang sudah2. Dan kita2 adalah salah satu dari orang2 yang menjadikannya better than it ever was.
pengambilan foto guru-guru untuk Buku Tahunan
hormaat... grak! yeah, we still respect of this day
bunga pemberian anak2 seangkatan, nih!
Betapa serunya! tiba2 pas di tengah2 menyanyikan lagu wajib nasional (upacara), anak2 IPS pada ngasih bunga ke semua guru dan karyawan...
My school teachers, you'll always be my hero. Without all of you, I won't be like what I am now. I'll miss you all, guys. I'll remember you all.
---- Sent using a Sony Ericsson mobile phone
