take it easy, so life will be

Menyadari bahwa saat ini saya hanya ingin membuat hidup saya terasa lebih fun, maka sayalah yang harus membuatnya seperti itu. It's no kidding, you are what you want, you are what you say, you are what you eat, and you are what you be.
Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

22 March 2009

Merah Putih: kolosal film Indonesia yang dinantikan

Masih dari hasil menonton Showbiz: On Location di hari yang sama, Indonesia mendapat kabar mengenai sebuah film baru yang akan dirilis pada 17 Agustus 2009 mendatang, film tersebut judulnya Merah Putih.

Siapa saja aktor2nya? Gw dan adek gw yang seorang pengamat film (terutama perkembangan film Indonesia) sangat surprise melihat: Lukman Sardi dan Teuku Rifnu Wikana menjadi dua orang dari beberapa tokoh utamanya. Yang lain ada Doni Alamsyah, Darius Sinathrya, Zumi Zola, Atiqah Hasiholan dan Saraswati.

Sutradaranya sendiri adalah Yadi Sugandi, yang udah memperlihatkan kinerjanya sebagai penata gambar Laskar Pelangi, Under the Tree, Tiga Hari untuk Selamanya, dan The Photograph; sederetan judul film2 besar di Indonesia.

Dan gw makin senang melihat keseriusan film bertajuk kolosal ini dengan dipanggilnya ahli2 dari luar negeri. Berikut yang gw dapet dari situs ini:
"Merah Putih dibesut dalam format seluloid 35 millimeter dengan tim internasional yang terdiri atas ahli efek khusus (special effects) dan veteran perfilman Hollywood yakni Koordinator efek khusus dari Inggris Adam Howarth (Saving Private Ryan, Blackhawk Down), Koordinator pemeran pengganti (stunt) Rocky McDonald (Mission Impossible II, The Quiet American).
“Make-up dan visual effects oleh Rob Trenton (The Dark Knight), Konsultan ahli persenjataan adalah John Bowring (Crocodile Dundee II, The Matrix, The Thin Red Line, Australia, X-Men Origins:Wolverine) dan Asisten Sutradara adalah Mark Knight (December Boys, Beautiful).”

Gw nggak sabar dengan jadinya film ini. Dan gw sangat berekspektasi bagus dengan film ini. Harus sabar menunggu premiere-nya yang rencanya pas 17-an Agustus 2009 nanti.
Go film Indonesia!

29 December 2008

Love. Love. Love


“Die is peaceful, easy. Life’s harder” – Bella Swan –
It’s such a good line. But somehow gw agak ngeri dengan kalimat tersebut, seakan memberikan pilihan, seakan kematian adalah pilihan, padahal itu adalah takdir yang sudah ditentukan and it’s definetely not decided by us. Lebih berat berjuang dalam kehidupan kita, banyak hal yang harus kita jalani dan hadapi kalau kita hidup, banyak hal yang harus diperjuangkan, termasuk hidup itu sendiri, that’s why life is precious to have. Memang hidup lebih berat dijalankan, namun itulah yang membuatnya berharga untuk dimiliki.

Finally, gw nonton film ini bertiga sama adek dan nyokap gw. Well, gw nggak nyangka cerita vampir masih digemari sampai saat ini dan Stephanie Meyer bener-bener bisa membawa kisah tersebut ke dalam kemasan yang lebih meremaja. Aduh... jangan komentar sama bahasa gw, yah, haha.

Sayangnya, menurut gw film ini masih memiliki banyak kekurangan dilihat dari segi film. Maksudnya? Yah... alurnya agak lambat di awal2, terus love chemistry antar tokoh utamanya nggak dibangun jadinya agak hambar aja buat gw. Gw berkesimpulan orang2 mengatakan film ini keren adalah karena konsep cerita dan karakternya. Well... people like fantasy, dan akan lebih menyenangkan kalau fantasi kita tersebut terealisasikan dalam wujud nyata, kan? Melihat sosok vampir remaja, dengan kehidupannya yang berbeda, main baseball aja harus nunggu badai baru seru, loncat2 pohon, punya kecepatan dan kekuatan yang luar biasa. Wow. I think it’s cool.
Tapi bukan berarti film ini nggak bagus untuk ditonton. There always be a second sight, right? We cannot always believe on our first sight opinion, bisa aja penilaian kita berubah saat menontonnya lagi.

Fyi, gw belum baca novelnya sama sekali. Nonton film ini juga tanpa pernah lihat sneak peak maupun trailer-nya, jad surprise2 banget, deh. Hehe.

Speaking about love story movies, baru2 ini gw juga nonton film romance Indonesia, yaitu... Cinta Silver.

Whaaat? Baru nonton sekarang? Rasanya itu film lama, deh.

Iya, gw baru nonton sekarang soalnya adek gw baru aja beli DVD-nya dengan harga murah. Hehe.

Film ini baguuuuuuuuuuussss bangeeeeeeetttt...!!! it has beautiful scenes and the story is so simple but stunning. It tells us about loving. Loving is not just taking but also giving. Yeah, mungkin semua orang udah tau mengenai hal ini, tapi rasanya itu bukanlah hal mudah untuk dijalankan.

Kadang, kita sudah menemukan orang tepat, orang yang paling membuat kita merasa nyaman ketika berada bersamanya, orang yang selalu membuat kita senang, tertawa dan bahagia, dan it seems like him/her got the same feelings too. Kalau sudah seperti itu, all we need is just a little sacrifice and commitment. Yep. Karena pada kenyataannya adalah, kisah cinta tidak berakhir di pelaminan, karena masih ada jenjang lain setelahnya. Kita tidak tahu apakah bisa membagi waktu antara karir dan cinta, antara kerja dan keluarga, antara semuanya, karena itu membutuhkan sedikit pengorbanan. Kita lebih sering menginginkan orang mengerti diri kita, keadaan dan kondisi kita, hingga lupa bahwa orang lain juga berkeinginan yang sama terhadap kita.

Baru-baru ini, setelah menjalani ospek (baca: masa bimbingan) jurusan gw, ada satu hal yang gw pelajari, bahwa kita tidak perlu berpikir mengenai apa yang orang lain lakukan terhadap kita, pikirkanlah apa yang kita lakukan terhadap orang lain. Entah itu perbuatan baik maupun tidak baik.

Speaking about love... sampai hari ini gw belum menemukan someone to tell about. I hope someday he will come, and i hope that day will be come soon.

02 July 2008

The Last King of Scotland


Akhirnya nonton juga film ini.

Bercerita tentang Idi Amin, seorang yang pernah menjabat menjadi presiden Uganda.

Seorang yang pernah membantai lebih dari 300.000 rakyatnya sendiri.

Tokoh utamanya sendiri, Nicholas Carrigan, seorang dokter berijazah yang sedang praktek kerja di Uganda, diperanin oleh si ganteng James McAvoy!!! (kyaa!)

Sayangnya, tokoh yang diperaninnya itu nyebelin, agak stupideous, pokoknya kerasa bodohnya, deh! (berarti akting si ganteng oke, bisa menghidupkan karakter kayak gitu :D)

Yah, seorang dokter asal Scotland yang milih kerja di Uganda dg alasan sok mencari petualangan dan hidup yang berbeda. Padahal dia sendiri yang berasal dari keluarga berada nggak betahan di kampung kayak gitu, akhirnya pas ditawarin Idi Amin (karena suatu hal) menjadi dokter pribadinya, yang berarti hidup (sedikit) lebih mewah (bahkan di Uganda sekalipun ada kemewahan pejabat, yaiyalah...), dia oke2 aja nerima tawaran tersebut.

Tanpa tahu bahwa ia berurusan dengan orang yang salah. Hii...


si ganteng sebagai stupideous yang naif


Hahaha! Nikmatin aja sanalo! Ntar tau rasa, deh! Bodohnyaa... (waw! Segitunya si ganteng bisa menghidupkan karakter kayak gitu)

Idi Amin itu... orang yang naik turun emosinya, SANGAT naik turun. Dan itu... berbahaya.

Gw sendiri agak2 nggak berani ngomong macem2 di sini tentang dia, soalnya dia baru meninggal tahun 2003, lho! Tepatnya tanggal 16 Agustus di pengasingan di Arab Saudi.

Dia adalah seorang presiden yang berniat membawa pembaharuan bagi rakyatnya, yang sebelumnya dipresidenin oleh Obote yang disebutkan sebagai koruptor.

Idi Amin adalah seorang anak miskin yang (kayaknya) nggak punya ilmu apa2. Dan kemudian dia diangkat rakyatnya menjadi presiden (yah, memang karena dia membela rakyatnya, sih). Tapi... lo tau sendiri ada yang namanya istilah OKB alias Orang Kaya Baru. Istilah tersebut berlaku bagi Idi Amin yang menjabat presiden. Dia paranoid dengan orang2 yang akan menjatuhkannya (terutama dari rezim yang masih setia dengan Obote), dengan orang2 yang akan mengkhianatinya, dan yang akan menusuknya dari belakang. Siang dan malam bener2 kayak orang paranoid. Gitu, deh... kalo orang ngga berilmu jadi presiden (dari anak miskin, sih, fine2 aja, tapi... nggak berilmu?). Gitu, deh... kalo orang primitif jadi presiden (ups*tengok2 kanan-kiri*sereem gw...). otaknya nggak bekerja lebih dari tangan besinya. Walopun itu berarti dia lebih cepat bertindak daripada berpikir. Soalnya rakyat kecil itu kan taunya presiden bakalan ngasih kesejahteraan buat mereka, menghidupi mereka, ngasih makan, ngasih fasilitas, pokoknya menjauhkan mereka dari kemiskinan. Jadi... wajar aja kalo Idi Amin diangkat sebagai presiden oleh mereka sendiri. Orang yang berasal dari rakyat, yang mengerti tentang rakyat. Tapi sayang, nggak ngerti tentang pemerintahan, kepresidenan, atau bagaimana memakai pikirannya.

Presiden bertangan besi. Yang memerintah daerah di mana kekerasan dilawan dengan kekerasan (baca: masih primitif). Yaampun... itulah kenapa pendidikan adalah utama sekali untuk digalakkan di dunia ini.

Idi Amin sendiri adalah pribadi yang menarik. Forest Whitaker sebagai aktornya juga sukses banget bawain peran Idi Amin. Maka dari itu film ini sendiri patut ditonton, wajib diketahui, sekaligus menjawab pertanyaan, kenapa pemimpin2 dunia yang pernah ada dan dikenal hebat serta (beberapa) membawa pembaharuan bagi rakyatnya, juga adalah pemimpin berdarah dingin yang bisa membantai bangsanya sendiri?

Yah... namanya juga manusia biasa, nggak luput2 dari kekurangan2 yang manusiawi.

Antara pemimpin yang koruptor.

Atau pemimpin yang (bisa) membantai rakyatnya sendiri (kalau dirasa melawan pemerintahannya).

Mana yang lebih baik dipilih?

Aduh... nggak dua2nya, deh. Masa, nggak ada, sih, manusia yang baik di dunia ini?

The Letters of Iwojima, surat yang berharga


“MATI”


Itulah sebuah kata yang selalu mereka tanamkan di pikiran sebagai prajurit Jepang yang sedang mempertahankan pulau Iwojima dari pasukan Amerika.


Film ini menjelaskan mengapa Jepang bisa kalah saat perang Asia Timur Raya alias Perang Pasifik antara Jepang dengan Amerika. Ya, jelas aja kalah, orang yang ditanamkan di pikiran mereka itu ialah ‘mati’ bukannya ‘menang’.


Memalukan memang. Merasa bahwa kalau ikut perang untuk mempertahankan aset negara ini berarti mereka harus mati dulu baru bisa dibilang pahlawan perang, baru bisa dibilang terhormat. Akhirnya sebagian besar dari mereka memilih ‘mati’ bunuh diri sebelum berperang, karena dianggap itu adalah hal yang terhormat sebagai prajurit. Mati. Bukannya berjuang sampai mati. Bukannya berjuang untuk kemenangan sampai mati. Bukannya untuk menang.


Parah... parah... Itu yang tersirat di pikiran gw selama menonton film ini. Pokoknya film ini keren banget, deh, wajib nonton. Film yang keseluruhan berdialog bahasa Jepang ini disutradarai sama orang Amrik, Clint Eastwood, yang juga menyutradarai versi Amerika dari film ini berjudul Flag of Our Fathers, yang pastinya lebih dilihat dari sudut pandang tentara Amerika dan gaya filmnya Amerika juga. Film ini juga ditayangin di channel tempat gw nonton iwojima ini, tapi belum sempet nonton aja. Ntar, deh, kalo ada jadwal tayangnya lagi.


Kata-kata itu memiliki kekuatan, lho...


“Menang atau mati...!”


“Mati atau tidak menang...!”


Serupa tapi tak sama, kan? (sebenernya emang nggak sama, sih)


Yah, perang yang pernah terjadi di bumi tempat kita berpijak sekarang ini, pastilah telah banyak memakan korban jiwa, nggak ada yang lain yang diberikan perang kecuali penderitaan, penderitaan, dan penderitaan. Jiwa maupun fisik. Sampai sekarang, juga mungkin para saksi perang tersebut masih mengetahui bagaimana rasanya itu.

ATONEMENT: An unhappy ending story





“Come back, come back to me” – Cecilia Tallis –



Itulah kutipan dialog yang diucapkan Cecilia (Keira Knightley) ke Robert (James McAvoy) saat kedua orang yang saling mencintai itu terpaksa harus berpisah.


Romantis? Terdengar seperti film romantis? Yah, memang ini sebuah film romance. Tapi, buat orang2 yang suka melihat a Happy Ending Love Story, jangan harap bisa menemukannya di film ini. Karena di film ini there’s no such a happy ending love story. It’s all totally turned to a bad ending.

Robbie Turner and Cecilia Tallis

Tapi biar begitu, bukan berarti film ini nggak menarik untuk ditonton, karen film ini termasuk pemenang piala Oscar di Academy Award dalam beberapa kategori.

Gw udah tertarik sejak pertama nonton trailer film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Ian McEwan ini. Ceritanya sendiri adalah tentang perpisahan 2 orang yang saling mencintai, di mana perpisahan yang amat sangat tidak menyenangkan itu adalah karena kesalahpahaman dari adik kecil mereka yang suka berimajinasi.

Briony Tallis adalah anak gadis yang memiliki imajinasi tersendiri akan hal2 yang dilihatnya. Pikiran dan imajinasinya berkembang jauh dari kenyataan yang dilihatnya (alias ia terlalu kebawa suasana cerita2 picisan tanpa tau kenyataan). Dan karena hal itulah, ia menciptakan sebuah kesalahpahaman yang mengakibatkan kakak perempuannya, Cecilia, harus berpisah dengan Robbie Turner (James McAvoy), pria yang dicintai dan mencintainya. Sebuah kesalahan BESAR yang baru disadarinya ketika ia dewasa dan saat itu sudah terlambat baginya untuk menebus kesalahannya. SANGAT TERLAMBAT.


Uoooh! Pokoknya ceritanya complicated. Sedih, deh! Bukan sedih yang bakalan bikin lo nangis2 (nggak, film ini nggak secengeng itu), tapi sedih me-nye-dih-kan. Sangat. Like what I said at first, ini adalah sebuah cerita dengan unhappy ending.

Tapi, secara keseluruhan film, memang film ini layak mendapat penghargaan. Mengingat bahwa ceritanya sendiri bukanlah cerita yang memiliki klimaks, namun dapat disampaikan dengan baik secara total. Sutradaranya siapa dulu, dong! Joe Wright! Orang yang sama dengan yang menyutradarai film Pride and Prejudice (salah satu film bagus lainnya yang juga fenomenal).

Nggak kayak film August Rush (ups!). Jujur aja, film itu sebenernya udah punya ide cerita yang bagus dan bakalan keren di bagian klimaks. Gw udah tertarik banget begitu nonton trailernya. Tapi entah karena salah bunda mengandung (?) atau emang sutradaranya nggak pas bikinnya, jadi film ini terasa amat buruk waktu gw menontonnya. Nggak ada feel-nya (maksud gw ‘feel’ sebagai film). Alurnya nggak kerasa, klimaks-nya nggak kerasa, tapi emang dari segi musik udah bagus walopun jadi nggak terasa spesial karena kualitas alur film yang jelek banget. Gw sendiri heran kenapa masih ada yang bilang alur film ini bagus. Adek gw yang doyan nonton aja sependapat sama gw. Yah... they don’t see what we see, atau mungkin sebaliknya. Tapi gw tetep nge-fans sama Freddie Highmore! Ouh! He such a talented young guy!

Balik lagi ke Atonement, di sini... ada si ganteng James McAvoy! Uwaah...! i adored him very much!!!

si ganteng