take it easy, so life will be
17 December 2010
10 December 2010
afiliasi (lanjutan)
FISIPERS student bulleting, ding dong 10 Desember 2010, MBRC Seminar Room.
Last ding dong for Bogy's leadership in the organization, we're nearly to the regeneration!
24 November 2010
Pameran Fotografi FISIPERS: Bingkai Jakarta
10 August 2010
fotografer fisipers
I just want to dedicate this post to them :)
![]() |
| behind the scene |
20 December 2009
Kalau ada istilah ‘hati yang meloncat-loncat’...
Sekarang pun, kalau gw mengingatnya, gw masih tahu bagaimana rasa senangnya saat itu.
Friend, am I really deeply into him?
Friend, did I already fell?
Friend, do I have hope?
18 November 2009
3 performers; 1 same feeling!
Acara yang bikin kita sebagai panitia ini depresi, kemudian menghadirkan 3 performers musik YANG MENGISI TENAGA KAMI SEMUA. THANKS' FOR YOU ALL.
10 April 2009
Setelah beberapa lama...
Jadi, start blogging. Start updating. Dan semoga ke depannya bisa stabil dalam posting.
Ada banyak hal yang udah terjadi, tapi walaupun itu semua udah berlalu, gw tetap ingin menuliskannya di sini.
Pemilu Pertama
Kemarin, Indonesia baru saja menyelenggarakan agenda demokrasi yang paling penting bagi kelanjutan negaranya. Mungkin kalimat tersebut udah nggak asing lagi mengingat banyaknya media, tulisan, dan berita elektronik yang mengungkapkannya seperti itu.
Pesta demokrasi. Kemarin, adalah hari di mana pertama kalinya gw mengikuti pemilihan umum di Indonesia. Gw menggunakan hak suara gw dan kutipan ‘one vote counts’ dari majalah GoGirl! rasanya udah cukup mewakili apa pandangan gw tentang pemilu legislatif tersebut.
Sebagai seseorang yang biasa bangun dan beraktivitas dari pagi (begitu pula nyokap gw dan adek gw), serta KTP gw, adek gw, dan nyokap gw yang domisili di Jakarta Timur (kami tinggal di Cibubur, close to Bekasi), jadilah hari Kamis tanggal 9 April 2009 kami bertiga berangkat bersama ke Rawamangun, tempat di mana kami akan mencontreng calon legislatif kami.
Sengaja berangkat pagi supaya nggak rame, kata nyokap gw, sih, makin siang makin rame. Sampai sana jam setengah 8 langsung ke TPS di Taman Sawo. Dengan sedikit kikuk gw dan adek gw mengikuti nyokap, tante dan nenek gw memasuki TPS, menyerahkan kertas pemilih, tunggu dipanggil namanya, masuk ke bilik, membuka kertas2 yang besar2 itu, mencontreng, melipatnya kembali, lalu memasukkannya ke dalam masing-masing kotak suara, dan mencelupkan kelingking kiri gw ke tinta tanda sudah memilih.
Proses yang bagi gw cukup lambat dan cepat sekaligus. Satu suara untuk perubahan, 5 menit untuk 5 tahun, begitu kata orang-orang (dan grup band Cokelat).
Pengalaman gw ketika memilih (ketua OSIS, ketua BEM FISIP), adalah gw benar-benar merasakan pengaruh satu suara yang gw berikan. Itu ditunjukkan dengan menangnya kandidat yang gw pilih (di mana gw nggak mengira itu sebelumnya), padahal perihal memilih itu juga bukan sesuatu yang mudah dan perasaan yang muncul adalah absurd antara yakin dan tidak.
Pengumuman SIMAK UI: cerita dengan adikku
Hal kedua yang nggak lama baru terjadi adalah pengumuman SIMAK UI. Adek gw, yang ikut ujian tersebut dan memilih D3 Broadcasting sebagai satu-satunya pilihan, tidak diterima di seleksi tersebut.
Berita yang cukup menyayat kalau gw mendengar bagaimana adek gw menghabiskan paginya di tanggal 4 April 2009 dengan menangis sedih dan kecewa. Dia udah mengakses secara online hasilnya dari jam 4 atau 5 pagi dan mulai menangis saat mendapati dirinya belum diterima.
Setelah jam 8 pagi dan adek gw udah kembali stabil. Udah nggak nangis lagi dan udah mulai terlihat semangat lagi, gw baru berani mendiskusikan hal tersebut dengannya. Ada sebuah kalimat yang mengena di pikiran gw, yaitu ketika adek gw mengatakan:
“Kamu, kan, nggak ngerasain kayak begini”
Memang, gw masuk UI dengan jalur PPKB (atau ada yang mengenalnya PMDK). Dan itu membuat gw nggak merasakan bagaimana beratnya belajar untuk ujian, beratnya ujian itu sendiri, gambaran ujiannya, perasaan yang dirasakan oleh teman-teman gw dan adek gw yang mengikutinya, tapi bukan berarti gw nggak pernah merasakan kegagalan. Ini Cuma masalah time series (istilah yang disebut teman gw), gw merasakannya tidak di waktu yang sama seperti di mana teman-teman dan adek gw merasakannya. Dalam kondisi apapun, biarpun orang bilang segala nasihat mengenai kegagalan, tetap itu adalah suatu hal yang sangat menyakitkan ketika dirasakan, kita akan menangis, merasakan sedih dan kecewa, air mata akan mengaburkan pandangan kita untuk sesaat. Tapi setelah itu, kegagalan adalah hal di masa lalu, dan kesempatan baru sudah menanti di depan mata.
Saat ini adek gw mulai berjuang lagi untuk kesempatan berikutnya. Maaf, ya, kalau nggak terlalu banyak yang bisa gw lakukan. But I always pray for your best.
FISIPERS: I got in!
Selamat untuk gw dan teman-teman gw dan semuanya yang udah lolos seleksi pertama FISIPERS! Hehehe... alhamdulillah, gw keterima di divisi fotografer FISIPERS, badan otonom pers karya mahasiswa FISIP.
Eh, tapi kita semua di sini masih berstatus canggaru alias calon anggota baru. Tanggal 4-5 April 2009 kemarin, kita semua menginap di kampus dalam rangka PDPT (pelatihan dasar pers terpadu). Dan itu adalah dua hari yang sangat menyenangkan bagi gw!
Acara dimulai dari jam 7 malam. Sebenarnya dari sore jam setengah 5 kita udah ngumpul untuk persiapan yel-yel kelompok (jadi kita dibagi per kelompok campuran anggota baru semua divisi). Dan sepanjang malam isi acaranya adalah games, games, dan games. Games yang paling seru buat gw adalah games terakhir yaitu perang tiup lilin (itu sebutan gw aja). Jadi, setiap orang memegang lilin yang menyala dan setiap kelompok harus mempertahankan lilin2 anggotanya sekaligus meniup mati lilin2 anggota kelompok lain. Lilin yang bertahan yang menang. Intinya, sih, untuk mengetes kekompakan kelompok dengan saling menjaga lilin satu sama lain (yang saat itu diibaratkan nyawa kita :P).
Gw sendiri merasakan serunya pas lari-larian di tengah becek2an, rumput yang licin, memegang lilin yang udah redup-redup dibawa lari, tapi ternyata lilin tersebut tetap bertahan menyala. Karena gw nggak yakin dengan tinggi badan gw (biarpun gw angkat tinggi2 itu lilin tetap aja bakalan kesampean anak2 cowok), dan yang mengejar gw salah satunya adalah Disna, yang gw lakukan adalah lari, lari, dan lari, sampe sepatu gw kotor kena becekan! Terus.. .akhirnya ketemu temen sekelompok gw yang cowok tinggi supaya berdiri naik kursi batu dan ngelindungin lilin gw itu tinggi-tinggi, tapi kecolongan juga akhirnya. Hahaha... seru, seru!
Acara malam itu berakhir sekitar jam 11 malam. Dilanjutkan dengan apa tebak? Pertemuan besar alias DingDong (diskusi ngomong, dong) untuk membicarakan newsletter (produk lain FISIPERS) yang akan dibuat oleh kita2 sebagai canggaru yang akan menjalankan media magang.
Gilee... meeting in the midnight bangett... asik, sih, ngumpul sesama departemen penerbitan (reporter, fotografer, artistik) terus membicarakan tema yang akan kita ambil untuk tugas newsletter kita. Hoho. Dan setelah rapat itu selesai, ternyata... divisi fotografer disuruh ngumpul lagiii!!! Ough... kak, udah ngantuk, nih. Tapi tetap menjalankan dengan semangat, kok, ngobrol2 dan ngomongin soal pelatihan untuk divisi ini. Dan akhirnya, jam 1an malem barulah kita bisa tidur (sholat isya-nya juga baru jam segitu). Zzz...
Hari berikutnya, which is adalah hari Minggu, pagi-pagi kita udah dibangunin untuk sholat subuh dan senam pagi. Jalan pagi melewati jalan Mesjid sampai FISIP lagi, lumayanlah. Lalu mandi dan sarapan, dan seharian itu adalah berisi acara seminar, gathering, sharing alumni. Sampai jam 1, lalu ada kegiatan simulasi marketing, yaitu jualan barang2 untuk mencari dana buat newsletter kita.
Berakhir jam 3 kurang, langsung cabut buat sholat Dzuhur dan balik2 ada ngumpul divisi fotografer lagi. Dari pertemuan itu kita dikasih gambaran bagaimana mekanisme pekerjaan divisi fotografer. Oh iya, fyi... canggaru divisi ini Cuma ada 6 orang dari kabarnya banyak mahasiswa yang mendaftar. 5 diantaranya adalah cewek (dari Departemen Komunikasi semua! Ada yang S1 dan ada yang D3), dan seorang cowok dari jurusan politik.
Melihat bagaimana mekanisme tugas divisi fotografer, dan bagaimana canggaru2 lainnya, gw sendiri masih heran kenapa gw bisa diterima. Aduh, agak minder juga kali... yang lain pegangannya pada DSLR dan gw...? Cuma modal pocket digital (itupun baru saja rusak, jadi sementara gw minjem dulu). Katanya, sih, seleksi FISIPERS berikutnya itu Cuma dari keputusan kita, apakah lanjut atau quit. Sementara... tugas divisi fotografer itu nggak mudah juga, dan cukup bisa meng-eliminasi kita lho. Pantesan, kata senior gw yang Pimpinan Umum FISIPERS, emang seleksi divisi foto lumayan ketat.
Agh... antara nervous dan excited. Antara tegang dan senang. Harap-harap cemas, dah, gw. Jadinya gw merasakan mules setiap kali memikirkan ini.
Aaa....wish me luck!
15 March 2009
Cerita di Hari Kamis
Jadi, itu adalah hari Kamis di mana gw, Rani, Eia, dan beberapa teman seangkatan kami hanya kuliah satu sesi, yaitu Sistem Sosial Indonesia yang selesai tiap jam 10.30. setelah itu? Sebenarnya ada kuliah Dasar-Dasar Penulisan alias DDP, tapiii... gw dan beberapa teman gw itu ngambil kelas DDP-nya Senin alias DDPS, jadi tiap kamis anak2 seangkatan lainnya pada kuliah DDP, kita Cuma nyampah menghabiskan waktu bersama. (DDPS, S: bisa ‘Senin’ bisa ‘sampah’. Hahahahaha. That’s what we mention it)
DDPS crew (last thursday)
But wait, kabar-kabarinya, jam satu kamis ini mau ada agenda kumpul angkatan jam 13.30 buat ngomongin MBJ (malam balas jasa). Padahal gw, Rani dan Eia udah lebih dulu merencanakan untuk nonton di Detos dan sekalian nyari kado buat tiga temen kita yang ultah. Ditambah, gw disuruh ngumpul sama Tammi buat ngomong sesama staff kunjungan MPR/DPR-nya OIS (baca posting ini). Dedeng... dan seharusnya gw juga ngumpul bentar sama temen2 sekelompok SSI gw (hari itu kita abis presentasi) buat ngomongin patungan dana slide beningan. Haah...
Satu pilihan mengorbankan tiga agenda lainnya, akhirnya gw, Rani dan Eia yang udah bosen nyampah di kampus nungguin jam setengah satu memutuskan untuk cabut ke Detos saat itu juga. Jam 12.15 kita langsung kabur naik bikun (yang datang di saat dibutuhkan! Nice J) menuju FKM dan pergi ke Detos lewat gang senggol di sana. Hahaha... sampe sana langsung beli tiket dan masuk ke studio 2 di mana kita udah kelewatan 7 menit pertama dari film Kambing Jantan.
Well, totally film-nya lumayan. Gw melontarkan kata ‘dodol’ berkali2 sambil ketawa2 sementara kanan-kiri atas bawah gw udah ngakak2 nggak jelas sambil melontarkan ‘bego’, ‘goblok’, ‘dogol’, ‘wakakakakak’, etc. Tapi selesai acara temen gw itu malah bilang ‘ah, film-nya kurang lucu’. Helloooo...!??! it’s a BIG QUESTION that both of you very over laugh whatching the movie, and you still say it’s not too funny?????
Yah, katanya, sih karena cerita film-nya mulai serius di tengah-tengah, jadi agak2 timpang sama ngocolnya. Yaudahlah, ya... selera orang beda2. haha.
Setelah itu? Kita keliling detos, deh! Nyari-nyari baju buat kado. Dan akhirnya kita baru menemukan satu baju.
Sebenernya kebanyakan kita jadi milih2 baju buat diri sendiri, bukan buat kado temen, haha. Gw, sih, Cuma liat2 aja secara lagi kagak ada duit buat budget belanja baju. Jadi, kedua teman gw itulah yang nyari2 baju buat mereka!
Melihat kedua teman gw itu milah-milah baju, gw jadi nangkep selera berpakaian mereka. And that’s definetely different with mine. Kalo Rani itu kayaknya cenderung suka kaos2 printed yang lucu2 dan kalo Eia itu mostly choose baju2 bahan kaos lemas yang potongannya kayak dress. Sementara gw? Gw Cuma mengatakan ‘lucu’ sama baju2 yang emang menurut gw lucu. Nggak spesifikasi what kind of style, soalnya gw tipe yang liberal dan tertarik dengan berbagai variasi style.
Rani (kiri) dan Eia
baju...baju...oh baju...
Eniwei, dua orang itu ternyata masih mau mengakhiri aktivitas hari itu dengan creambath. Gw? Well, sorry, guys, but i’m not joining it. No money nodong. Jadi, gw pun pulang duluan ke rumah. Housey, i’m going hoooome. Lagipula, badan gw udah nggak enak banget gara2 akhir2 ini begadang dan tidur selepas tengah malem.
09 March 2009
FISIPERS: photos lickin’ good
Lickin’ alias menjilat.
Oh, No! fiEkHa menjadi seorang penjilat!
Flash info. FISIP UI punya majalah bernama FISIPERS. Dari namanya aja udah ketahuan kalau itu dari FISIP, sih.
Awal2 masuk kuliah dulu, gw nggak kepikiran sama sekali untuk ikut2 organisasi2 macam BEM, FISIPERS, FSI (rohisnya FISIP), dll. Pertama, ada osjur yang menjadi prioritas gw (setelah kuliah) saat itu, kedua... memang gw nggak tertarik.
Tapi sekarang? Setelah osjur berlalu dan ternyata open recruitment FISIPERS baru sekarang2 ini, ditambaah... FISIPERS baru ganti kepengurusan dan PU alias pimpinan umumnya sekarang adalah senior 2006 gw. Haha. Terseretlah gw membeli formulir pendafaran seharga 7500. (duh, waktu itu gw nggak ada persiapan bawa duit, mendadak harus bayar 7500. ouch)
Bersamaan dengan formulir, kita mendapatkan booklet mengenai FISIPERS, struktur organisasi dan gambaran divisi2 yang ada di dalamnya. Ada reporter, fotografer, humas, sirkulasi, pemasaran, dll. Kita memiliki jatah untuk 2 pilihan, tapi gw Cuma ngambil satu pilihan: fotografer.
Beberapa temen gw menanyakan kenapa gw nggak ngambil reporter? Secara, ya, untuk penjurusan program studi (jurusan komunikasi itu nantinya kebagi ke dalam 4 prodi alias program studi) nanti gw sudah pasti akan mengambil jurnalistik cetak, kenapa malah milih fotografer di FISIPERS?
Satu, gw suka fotografi. That’s the simpliest thing for answering why i choose the photographer division. Kedua, gw berpikir kalau menjadi reporter itu emang seru, tapi... repot! Wah! Yang namanya bikin liputan itu nggak sembarangan! Perlu observasi, riset, dan tetek bengek lainnya yang akan membuat liputanlo menjadi oke kalau lo emang mau serius di bidang itu. Dan gw termasuk orang yang harus serius menjalankan sesuatu yang gw suka, jadi gw nyadar banget kalo gw masuk div.reporter, keseriusan gw akan menguras tenaga gw sendiri, sementara untuk saat ini gw melihat bahwa TUGAS2 KULIAH ENTAH KENAPA TERASA AMAT SANGAT MENUMPUK ditambah KEGIATAN2 PRIBADI GW YANG NGGAK KELAR2. Jadi... gw milih divisi di mana gw bisa serius tapi tidak menguras tenaga gw. Sekaligus mendekat ke minat gw. Fotografer.
Dan benar aja, setelah mengembalikan formulir, seminggu kemudian ada tes tertulis dan kita langsung dikasih tugas per divisi. Dan untuk mengerjakan tugas gw aja gw udah kalang-kabut karena bentrok sama kegiatan lain. Akhirnya tugas gw itu selesai di hari di mana gw harus mengumpulkan tugasnya. Haha.
Inilah tugasnya: Buat 5 foto karyamu sendiri (bisa foto tunggal atau foto essay) yang menurutmu menarik dan mempunyai nilai berita)
Hari pengumpulan tugas FISIPERS bersamaan dengan sesi wawancaranya. Dan tebak apa? Ternyata objek dari salah dua foto gw adalah... kadiv fotografi FISIPERS alias yang mewawancarai gw bernama M. Iqbal anak Sosiologi 2006. (foto yang megang piala)
Yap, dialah yang ada di foto pemenang juara umum LIMAS UI tersebut. Dia juga salah satu juara lomba fotografi di LIMAS UI tersebut. Jadi... mau tau responnya apa?
Dia: “Kamu menjilat Saya, ya?” (sambil nyengir2 dan ujung2nya ketaw lalu menunjukkan foto tersebut ke teman Kadiv lainnya yang juga berespon sama)
Lainnya: “Wuah! Nyogok, nih!? Nyogok!?”
Hahaha... (pasrah)
Dia: (di akhir wawancara) “Yaudah, tunggu aja kabar dari kita, yah. Semoga aja diterima”
Gw: “Semoga, deh, Kak. Kan, udah ada foto sogokan Saya”
Huakhakhakhakhak (pasrah)
Intermezzo: Tadinya gw udah mulai semangat untuk masuk FISIPERS. Soalnya ada seseorang yang menarik perhatian gw dan dia masuk divisi fotografer kayak gw! Wuaa! Pas wawancara kita sempet ketemuan, lho! Hehehe. Tapi kayaknya sekarang gw pasrah aja sama hasilnya, deh. Nggak keterima juga whatever. Capek, euy...
Besok paginya, gw mendapat SMS dari si kadiv fotografi yang bilang “Fika, fotolo yang SIMAK boleh diminta untuk dimuat di FISIPERS bulan ini gak? Ntar ada namalo tercantum di sana. Gmn? Trims”
So? Gw masih belum bisa berpikir kalau gw bakalan diterima, lho. Anything can happen.






