take it easy, so life will be
25 March 2011
Saya rindu...
05 January 2011
3 photographies
![]() |
| courtesy of www.tokyocamerastyle.com |
![]() |
| courtesy of filmus-monochromus |
![]() |
| courtesy of Jelly Playground |
24 November 2010
Pameran Fotografi FISIPERS: Bingkai Jakarta
14 March 2010
today's first day report
23 May 2009
I dream of capturing a moon

I dream of capturing a moon...
Kalau photography skill gw udah upgraded, gw mauuu banget motret bulan purnama. It's hard to capture a moon in its real size, always turned to just a tiny spot in the dark sky.
Dan malam ini, untuk kesekian kalinya gw melihat bulan purnama emas yang sangaaaat besar! Dan untuk kesekian kalinya I failed to capture it. So... I use this one from my googling.
02 May 2009
the badminton boy
Baru-baru ini di facebook, gw chatting dengan teman SMA gw. Kita kenal di kelas XI alias kelas 2 SMA. Waktu itu kita sekelas, dan we really have fun time enjoying our 11th grade. Yah... kelas XI emang waktu yang paling menyenangkan selama gw SMA, sama halnya dengan kelas 2 SMP sebagai moment to remember semasa SMP. Pokoknya middle grade is the best.
Back to topic. Di chatting, gw yang nyapa dia duluan. Nanya kabarlah, gimanalah. Lalu, dilanjutkanlah dia dengan bertanya,
“Gimana fotografilo, masih terus?”
(yah, kira2 begitulah, persisnya nggak mungkin juga gw rekam dalam ingatan)
“Iya” jawab gw. Dan gw pun menambahkan informasi mengenai foto gw yang jadi 10 terbaik lomba foto SUAF 2009 yang jurinya orang2 dari NGI alias National Geographic Indonesia.
Dan dia pun memberi selamat sambil mengatakan hebat.
“Gw juga juara 2 kemaren, dapet tv 21 inch” katanya lagi dengan bangga.
“Wow! Lomba apa?” tanya gw.
“Badminton”
Dalam sekejap gw teringat bahwa teman gw itu dulu menekuni badminton. Waktu SMA dia ikut ekskul badminton, dan gw dulu juga sempet ngobrol mengenai hobi dia yang satu itu. This person really like that sport.
Gw senang, mengingat dia masih menekuni hobinya itu. Dan berkembang menjadi sesuatu yang baik buat dia juga.
Gw juga senang, dia masih ingat hobi fotografi gw (yang juga mulai terealisasi pas SMA). Dia masih menanyakan itu di awal chatting kita. Bahkan, gw pun hampir lupa bahwa dia suka badminton, soalnya pas kelas XII (kelas 3) kita nggak sekelas jadi udah jarang ngobrol lagi.
The point is, gw merasa senang kita sama-sama sedang berjuang. Even if it’s just a hobby. Tapi kita tetap menjalaninya, dan sama-sama mau berkembang di dalamnya. Entah kenapa gw jadi merasa ada yang mengisi sesuatu yang selama ini kosong, selama ini gw mencari-mencari orang yang sama2 sedang berjuang untuk sesuatu yang khusus, ternyata orang itu adalah dia.
He is a really nice guy. Hehe. Yeah, dia cowok. Pas SMA banyak banget yang suka sama dia. Dan herannya, gw, sih, nyadar banget, how cool he is, dan gimana cakepnya dia, gimana okenya dia, tapi... too good to be true, jadi gw nggak kepikiran untuk bener-bener suka sama dia. Hahahaa...
Fyi, dia penyayang kucing, lho. Tapi sama orang usilnya minta ampun. Gw aja dulu diledek2 gendut sama dia, haha.
Fyi-2 dia in relationship sekarang ini. Haha. Yaudahlah, ya... he is a good friend and I won’t forget about him as my good friend.
Kita berkembang sama-sama untuk hobi, ya, Ren!
Hehehehehe...
Proud to have you as a friend :)

10 April 2009
Setelah beberapa lama...
Jadi, start blogging. Start updating. Dan semoga ke depannya bisa stabil dalam posting.
Ada banyak hal yang udah terjadi, tapi walaupun itu semua udah berlalu, gw tetap ingin menuliskannya di sini.
Pemilu Pertama
Kemarin, Indonesia baru saja menyelenggarakan agenda demokrasi yang paling penting bagi kelanjutan negaranya. Mungkin kalimat tersebut udah nggak asing lagi mengingat banyaknya media, tulisan, dan berita elektronik yang mengungkapkannya seperti itu.
Pesta demokrasi. Kemarin, adalah hari di mana pertama kalinya gw mengikuti pemilihan umum di Indonesia. Gw menggunakan hak suara gw dan kutipan ‘one vote counts’ dari majalah GoGirl! rasanya udah cukup mewakili apa pandangan gw tentang pemilu legislatif tersebut.
Sebagai seseorang yang biasa bangun dan beraktivitas dari pagi (begitu pula nyokap gw dan adek gw), serta KTP gw, adek gw, dan nyokap gw yang domisili di Jakarta Timur (kami tinggal di Cibubur, close to Bekasi), jadilah hari Kamis tanggal 9 April 2009 kami bertiga berangkat bersama ke Rawamangun, tempat di mana kami akan mencontreng calon legislatif kami.
Sengaja berangkat pagi supaya nggak rame, kata nyokap gw, sih, makin siang makin rame. Sampai sana jam setengah 8 langsung ke TPS di Taman Sawo. Dengan sedikit kikuk gw dan adek gw mengikuti nyokap, tante dan nenek gw memasuki TPS, menyerahkan kertas pemilih, tunggu dipanggil namanya, masuk ke bilik, membuka kertas2 yang besar2 itu, mencontreng, melipatnya kembali, lalu memasukkannya ke dalam masing-masing kotak suara, dan mencelupkan kelingking kiri gw ke tinta tanda sudah memilih.
Proses yang bagi gw cukup lambat dan cepat sekaligus. Satu suara untuk perubahan, 5 menit untuk 5 tahun, begitu kata orang-orang (dan grup band Cokelat).
Pengalaman gw ketika memilih (ketua OSIS, ketua BEM FISIP), adalah gw benar-benar merasakan pengaruh satu suara yang gw berikan. Itu ditunjukkan dengan menangnya kandidat yang gw pilih (di mana gw nggak mengira itu sebelumnya), padahal perihal memilih itu juga bukan sesuatu yang mudah dan perasaan yang muncul adalah absurd antara yakin dan tidak.
Pengumuman SIMAK UI: cerita dengan adikku
Hal kedua yang nggak lama baru terjadi adalah pengumuman SIMAK UI. Adek gw, yang ikut ujian tersebut dan memilih D3 Broadcasting sebagai satu-satunya pilihan, tidak diterima di seleksi tersebut.
Berita yang cukup menyayat kalau gw mendengar bagaimana adek gw menghabiskan paginya di tanggal 4 April 2009 dengan menangis sedih dan kecewa. Dia udah mengakses secara online hasilnya dari jam 4 atau 5 pagi dan mulai menangis saat mendapati dirinya belum diterima.
Setelah jam 8 pagi dan adek gw udah kembali stabil. Udah nggak nangis lagi dan udah mulai terlihat semangat lagi, gw baru berani mendiskusikan hal tersebut dengannya. Ada sebuah kalimat yang mengena di pikiran gw, yaitu ketika adek gw mengatakan:
“Kamu, kan, nggak ngerasain kayak begini”
Memang, gw masuk UI dengan jalur PPKB (atau ada yang mengenalnya PMDK). Dan itu membuat gw nggak merasakan bagaimana beratnya belajar untuk ujian, beratnya ujian itu sendiri, gambaran ujiannya, perasaan yang dirasakan oleh teman-teman gw dan adek gw yang mengikutinya, tapi bukan berarti gw nggak pernah merasakan kegagalan. Ini Cuma masalah time series (istilah yang disebut teman gw), gw merasakannya tidak di waktu yang sama seperti di mana teman-teman dan adek gw merasakannya. Dalam kondisi apapun, biarpun orang bilang segala nasihat mengenai kegagalan, tetap itu adalah suatu hal yang sangat menyakitkan ketika dirasakan, kita akan menangis, merasakan sedih dan kecewa, air mata akan mengaburkan pandangan kita untuk sesaat. Tapi setelah itu, kegagalan adalah hal di masa lalu, dan kesempatan baru sudah menanti di depan mata.
Saat ini adek gw mulai berjuang lagi untuk kesempatan berikutnya. Maaf, ya, kalau nggak terlalu banyak yang bisa gw lakukan. But I always pray for your best.
FISIPERS: I got in!
Selamat untuk gw dan teman-teman gw dan semuanya yang udah lolos seleksi pertama FISIPERS! Hehehe... alhamdulillah, gw keterima di divisi fotografer FISIPERS, badan otonom pers karya mahasiswa FISIP.
Eh, tapi kita semua di sini masih berstatus canggaru alias calon anggota baru. Tanggal 4-5 April 2009 kemarin, kita semua menginap di kampus dalam rangka PDPT (pelatihan dasar pers terpadu). Dan itu adalah dua hari yang sangat menyenangkan bagi gw!
Acara dimulai dari jam 7 malam. Sebenarnya dari sore jam setengah 5 kita udah ngumpul untuk persiapan yel-yel kelompok (jadi kita dibagi per kelompok campuran anggota baru semua divisi). Dan sepanjang malam isi acaranya adalah games, games, dan games. Games yang paling seru buat gw adalah games terakhir yaitu perang tiup lilin (itu sebutan gw aja). Jadi, setiap orang memegang lilin yang menyala dan setiap kelompok harus mempertahankan lilin2 anggotanya sekaligus meniup mati lilin2 anggota kelompok lain. Lilin yang bertahan yang menang. Intinya, sih, untuk mengetes kekompakan kelompok dengan saling menjaga lilin satu sama lain (yang saat itu diibaratkan nyawa kita :P).
Gw sendiri merasakan serunya pas lari-larian di tengah becek2an, rumput yang licin, memegang lilin yang udah redup-redup dibawa lari, tapi ternyata lilin tersebut tetap bertahan menyala. Karena gw nggak yakin dengan tinggi badan gw (biarpun gw angkat tinggi2 itu lilin tetap aja bakalan kesampean anak2 cowok), dan yang mengejar gw salah satunya adalah Disna, yang gw lakukan adalah lari, lari, dan lari, sampe sepatu gw kotor kena becekan! Terus.. .akhirnya ketemu temen sekelompok gw yang cowok tinggi supaya berdiri naik kursi batu dan ngelindungin lilin gw itu tinggi-tinggi, tapi kecolongan juga akhirnya. Hahaha... seru, seru!
Acara malam itu berakhir sekitar jam 11 malam. Dilanjutkan dengan apa tebak? Pertemuan besar alias DingDong (diskusi ngomong, dong) untuk membicarakan newsletter (produk lain FISIPERS) yang akan dibuat oleh kita2 sebagai canggaru yang akan menjalankan media magang.
Gilee... meeting in the midnight bangett... asik, sih, ngumpul sesama departemen penerbitan (reporter, fotografer, artistik) terus membicarakan tema yang akan kita ambil untuk tugas newsletter kita. Hoho. Dan setelah rapat itu selesai, ternyata... divisi fotografer disuruh ngumpul lagiii!!! Ough... kak, udah ngantuk, nih. Tapi tetap menjalankan dengan semangat, kok, ngobrol2 dan ngomongin soal pelatihan untuk divisi ini. Dan akhirnya, jam 1an malem barulah kita bisa tidur (sholat isya-nya juga baru jam segitu). Zzz...
Hari berikutnya, which is adalah hari Minggu, pagi-pagi kita udah dibangunin untuk sholat subuh dan senam pagi. Jalan pagi melewati jalan Mesjid sampai FISIP lagi, lumayanlah. Lalu mandi dan sarapan, dan seharian itu adalah berisi acara seminar, gathering, sharing alumni. Sampai jam 1, lalu ada kegiatan simulasi marketing, yaitu jualan barang2 untuk mencari dana buat newsletter kita.
Berakhir jam 3 kurang, langsung cabut buat sholat Dzuhur dan balik2 ada ngumpul divisi fotografer lagi. Dari pertemuan itu kita dikasih gambaran bagaimana mekanisme pekerjaan divisi fotografer. Oh iya, fyi... canggaru divisi ini Cuma ada 6 orang dari kabarnya banyak mahasiswa yang mendaftar. 5 diantaranya adalah cewek (dari Departemen Komunikasi semua! Ada yang S1 dan ada yang D3), dan seorang cowok dari jurusan politik.
Melihat bagaimana mekanisme tugas divisi fotografer, dan bagaimana canggaru2 lainnya, gw sendiri masih heran kenapa gw bisa diterima. Aduh, agak minder juga kali... yang lain pegangannya pada DSLR dan gw...? Cuma modal pocket digital (itupun baru saja rusak, jadi sementara gw minjem dulu). Katanya, sih, seleksi FISIPERS berikutnya itu Cuma dari keputusan kita, apakah lanjut atau quit. Sementara... tugas divisi fotografer itu nggak mudah juga, dan cukup bisa meng-eliminasi kita lho. Pantesan, kata senior gw yang Pimpinan Umum FISIPERS, emang seleksi divisi foto lumayan ketat.
Agh... antara nervous dan excited. Antara tegang dan senang. Harap-harap cemas, dah, gw. Jadinya gw merasakan mules setiap kali memikirkan ini.
Aaa....wish me luck!
09 March 2009
FISIPERS: photos lickin’ good
Lickin’ alias menjilat.
Oh, No! fiEkHa menjadi seorang penjilat!
Flash info. FISIP UI punya majalah bernama FISIPERS. Dari namanya aja udah ketahuan kalau itu dari FISIP, sih.
Awal2 masuk kuliah dulu, gw nggak kepikiran sama sekali untuk ikut2 organisasi2 macam BEM, FISIPERS, FSI (rohisnya FISIP), dll. Pertama, ada osjur yang menjadi prioritas gw (setelah kuliah) saat itu, kedua... memang gw nggak tertarik.
Tapi sekarang? Setelah osjur berlalu dan ternyata open recruitment FISIPERS baru sekarang2 ini, ditambaah... FISIPERS baru ganti kepengurusan dan PU alias pimpinan umumnya sekarang adalah senior 2006 gw. Haha. Terseretlah gw membeli formulir pendafaran seharga 7500. (duh, waktu itu gw nggak ada persiapan bawa duit, mendadak harus bayar 7500. ouch)
Bersamaan dengan formulir, kita mendapatkan booklet mengenai FISIPERS, struktur organisasi dan gambaran divisi2 yang ada di dalamnya. Ada reporter, fotografer, humas, sirkulasi, pemasaran, dll. Kita memiliki jatah untuk 2 pilihan, tapi gw Cuma ngambil satu pilihan: fotografer.
Beberapa temen gw menanyakan kenapa gw nggak ngambil reporter? Secara, ya, untuk penjurusan program studi (jurusan komunikasi itu nantinya kebagi ke dalam 4 prodi alias program studi) nanti gw sudah pasti akan mengambil jurnalistik cetak, kenapa malah milih fotografer di FISIPERS?
Satu, gw suka fotografi. That’s the simpliest thing for answering why i choose the photographer division. Kedua, gw berpikir kalau menjadi reporter itu emang seru, tapi... repot! Wah! Yang namanya bikin liputan itu nggak sembarangan! Perlu observasi, riset, dan tetek bengek lainnya yang akan membuat liputanlo menjadi oke kalau lo emang mau serius di bidang itu. Dan gw termasuk orang yang harus serius menjalankan sesuatu yang gw suka, jadi gw nyadar banget kalo gw masuk div.reporter, keseriusan gw akan menguras tenaga gw sendiri, sementara untuk saat ini gw melihat bahwa TUGAS2 KULIAH ENTAH KENAPA TERASA AMAT SANGAT MENUMPUK ditambah KEGIATAN2 PRIBADI GW YANG NGGAK KELAR2. Jadi... gw milih divisi di mana gw bisa serius tapi tidak menguras tenaga gw. Sekaligus mendekat ke minat gw. Fotografer.
Dan benar aja, setelah mengembalikan formulir, seminggu kemudian ada tes tertulis dan kita langsung dikasih tugas per divisi. Dan untuk mengerjakan tugas gw aja gw udah kalang-kabut karena bentrok sama kegiatan lain. Akhirnya tugas gw itu selesai di hari di mana gw harus mengumpulkan tugasnya. Haha.
Inilah tugasnya: Buat 5 foto karyamu sendiri (bisa foto tunggal atau foto essay) yang menurutmu menarik dan mempunyai nilai berita)
Hari pengumpulan tugas FISIPERS bersamaan dengan sesi wawancaranya. Dan tebak apa? Ternyata objek dari salah dua foto gw adalah... kadiv fotografi FISIPERS alias yang mewawancarai gw bernama M. Iqbal anak Sosiologi 2006. (foto yang megang piala)
Yap, dialah yang ada di foto pemenang juara umum LIMAS UI tersebut. Dia juga salah satu juara lomba fotografi di LIMAS UI tersebut. Jadi... mau tau responnya apa?
Dia: “Kamu menjilat Saya, ya?” (sambil nyengir2 dan ujung2nya ketaw lalu menunjukkan foto tersebut ke teman Kadiv lainnya yang juga berespon sama)
Lainnya: “Wuah! Nyogok, nih!? Nyogok!?”
Hahaha... (pasrah)
Dia: (di akhir wawancara) “Yaudah, tunggu aja kabar dari kita, yah. Semoga aja diterima”
Gw: “Semoga, deh, Kak. Kan, udah ada foto sogokan Saya”
Huakhakhakhakhak (pasrah)
Intermezzo: Tadinya gw udah mulai semangat untuk masuk FISIPERS. Soalnya ada seseorang yang menarik perhatian gw dan dia masuk divisi fotografer kayak gw! Wuaa! Pas wawancara kita sempet ketemuan, lho! Hehehe. Tapi kayaknya sekarang gw pasrah aja sama hasilnya, deh. Nggak keterima juga whatever. Capek, euy...
Besok paginya, gw mendapat SMS dari si kadiv fotografi yang bilang “Fika, fotolo yang SIMAK boleh diminta untuk dimuat di FISIPERS bulan ini gak? Ntar ada namalo tercantum di sana. Gmn? Trims”
So? Gw masih belum bisa berpikir kalau gw bakalan diterima, lho. Anything can happen.
08 February 2009
Jelajah Kota Toea: Cap Go Meh in Chinatown
Glodok atau Pecinan adalah salah satu kampung tua di Jakarta yang berada di luar kastel Batavia (Omellanden) yang dijadikan pemukiman bagi orang-orang Cina. Konon kata “Glodok” mengacu pada bunyi air mancur di sekitar pancuran yang berbunyi grojok-grojok... (Kartum Setiawan)
Hari Minggu ini, pagi jam 6 lewat 20 menit gw udah melangkahkan kaki keluar rumah dan pergi ke Jakarta. Ke mana? Ke... Kota Tua. Dalam rangka mengikuti event-nya Komunitas Jelajah Budaya (KJB) merayakan peringatan Cap Go Meh dengan menelusuri daerah pecinan alias Glodok di sekitar Kota Tua.
Mungkin beberapa orang bosan mendengar daerah Kota Tua, secara, yah... kalau ada kegiatan2 fotografi itu pasti, deh, spot paling ada dalam daftar itu... KOTA TUA. Well, you can find so many people hanging their DSLR camera or pocket digital camera, taking pictures around, bahkan... seringkali foto2 pre-wedding dan foto buku tahunan memakai setting Kota Tua.
Balik ke topik. Jadi, acara jelajah budaya kali ini bertema: Cap Go Meh in Chinatown. Kumpulnya di Museum Bank Mandiri, dan ternyata yang dateng itu banyaakkkk banget, sampai2 kita semua terbagi ke beberapa rombongan yang berjalan satu persatu dari jam setengah 8 sampai setengah 9. Dan gw masuk rombongan terakhir gara-gara gw TERLAMBAT (padahal udah berangkat jam 6 lewat) dan baru sampai sana jam setengah 9. fyuh... untung masih ada rombonganlah, dan ternyata biar rombongan terakhir tapi paling asyik soalnya tour guide-nya langsung oleh si penanggung jawab acara ini: Pak Kartum Setiawan.
Jalanlah rombongan kita yang dinamain kelompok ‘Toko Tiga’ (jadi, masing2 rombongan punya nama kelompok, kayak kelompok ‘Cheng Ho’, ‘Jin deYuan’, dll). Perjalanan dimulai dengan menelusuri Museum Bank Mandiri, dan ternyata di lantai bawahnya itu ada ruangan yang isinya sepeda2 jadul dan dekorasi ruangannya unik, yaitu dinding2nya bergambarkan daerah kota tua di masa lampau, ada gambar kereta api juga, dan ruangan tersebut dilatari suara alunan musik klasik yang pas.
Lanjuuut, keluar museum, hujan mendadak turun, jadi kita semua berteduh di kolong jalan (bypass), dan sambil menunggu ujan yang Cuma sebentar itu reda, pak Kartum menceritakan beberapa hal mengenai apa yang akan kita lihat nanti, dan beberapa sejarah mengenai daerah pecinan (Glodok) tersebut.
Rute-nya sendiri terdiri dari Museum Bank Mandiri – Pasar Pagi Lama Asemka – Kelenteng Budhi Darma, Arya Marga – Rumah Keluarga Souw – Kelenteng Toa Se Bio – Gereja katolik Maria de Fatima – Kelenteng Jin de Yuan – lalu kembali lagi berkumpul ke Museum untuk makan siang dan nonton slideshow dan Barongsai.
Di perjalanan ini, kita melewati gang2 sempit dan becek tempat rumah2 yang berdempet, di sana rumah2nya memanjang ke dalam, tapi lebarnya kecil, dan masih memiliki arsitektur yang tuaaa banget. Untuk kunjungan ke Kelenteng, kita melihat langsung bagaimana orang-orang Tionghoa berdoa sambil memegang banyak dupa, membakar uang kertas, dan Kelenteng yang paling ramai adalah kelenteng Jin de Yuan, begitu masuk ke area kelenteng, kita sudah dihadapkan dengan asap2 dari bakaran dupa dan uang kertas yang banyak sekali hingga membuat kita terbatuk-batuk dan mata pedih banget. Kelenteng yang satu ini memang selalu ramai karena merupakan kelenteng tertua di sana, dan itulah kelenteng yang selalu jadi pusat media saat perayaan imlek.
Perjalanan ini gw lalui dengan sendirian dalam rombongan gw. Haha. Sebenernya ada temen2 gw bahkan beberapa senior gw ikut, dan kayaknya ada anak kampus gw juga (tapi nggak kenal, haha), Cuma kita semua terpisah rombongan! Enak, sih, gw enjoy2 aja motret2 sendirian, menikmati perjalanan, tapi... nggak enaknya baru terasa saat lo mau memotret dirilo sendiri! Wuaa...!!! mau minta tolong orang kagak sreg rasanya. Haha.
Gw jadi nggak sabar menanti kegiatan KJB yang lainnya. Jakarta akan selalu menjadi kota favorit gw, selalu ada hal2 yang menarik yang belum gw lihat di dalamnya. Dan gw nggak akan bosen untuk explore Jakarta! Yihhhii!!!
29 December 2008
Ragunan: Photo hunting on Mission.
Ada apa di Ragunan? Kali ini gw bener-bener mau mengeksplorasi Ragunan lebih banyak, soalnya Ragunan itu luaaaaaaaassssss, pegel2 deh jalannya. Masih ada 2 hari menunggu untuk menemani temen gw itu hunting, soalnya tema fotonya banyak banget dimulai dari night view, pemandangan, bangunan, tumbuhan, model, hewan, still life, zooming-panning, etc. Fyuh... selamat ber-hunting ria, deh. I’m coming Jakarta!!!




