take it easy, so life will be

Menyadari bahwa saat ini saya hanya ingin membuat hidup saya terasa lebih fun, maka sayalah yang harus membuatnya seperti itu. It's no kidding, you are what you want, you are what you say, you are what you eat, and you are what you be.
Showing posts with label child. Show all posts
Showing posts with label child. Show all posts

20 August 2009

anak angkot, anak di angkot

Sehari-harinya di kampus, ada mahasiswa yang nge-kost, ada yang pulang pergi.

Yang pulang-pergi, ada yang naik kendaraan pribadi, ada yang kendaraan umum.

Yang naik kendaraan umum, ada yang naik kereta, ada yang naik angkot.

Anker. Sebutan untuk anak kereta.

Anak ancot. Itulah gw.

Perjalanan naik angkot yang panjang dan melelahkan, udah gw alami sejak SMA. Dalam kondisi tersebut, ada banyak hal yang gw pernah lihat.

Salah satunya adalah, kalau seorang ibu/ayah, yang membawa anak di dalam angkot.

Pernah gw melihat seorang ibu dengan badan bugar, namun bayi-nya sangaaat kurus. Gw nggak tau kenapa, tapi kayaknya bayi itu sakit. Mungkin mereka habis dari dokter, pulang malam sekali. Si ibu bener-bener kelihatan sayang sama anaknya, dia mengelus2 kepalanya, mengecup2 dahinya, pokoknya berusaha membuat si bayi nyaman di dalam angkot yang sesak itu. Dan gw nggak bisa mengalihkan mata gw dari pemandangan tersebut. Karena nggak enak ngeliatin orang, jadi sesekali aja gw mencuri pandang melihat si ibu dan si bayi.

Pernah juga gw melihat seorang bapak yang membawa anak lelakinya, sekitar 3-4 tahun. Sepanjang perjalanan Bapak itu diajak ngobrol sama anaknya, angkot belum penuh, dan ketika sudah akan penuh, sang bapak mengecek saku kemejanya, sambil menggumamkan apakah ongkosnya cukup (angkot jarak jauh emang mahal2) untuk dia dan anaknya.






Karena tampaknya tidak cukup, ia kemudian memangku anaknya, dan angkot tersebut makin terisi penuh. Anaknya tampak ingin duduk sendiri, namun si Bapak dengan tenang berusaha menyampaikan ke si anak kalau "Duitnya nggak cukup, dek"

Seringkali kalau melihat ibu bawa anak di angkot, anaknya itu ngooooceeeeh melulu. Ada ibu yang bisa meladeni anaknya dengan sabar, tapi ada juga ibu yang ngomel2 bilang jangan berisik. Ada anak yang langsung diem digituin, ada yang tetep ngoceh.

Ada juga sekeluarga bapak, ibu, anak2, naik angkot. Kita sama-sama berhenti di depan Margo City. Emang itu hari Sabtu, pastinya hari keluarga dan dewasa ini mall kian menjadi pilihan praktis bagi orang tua yang ingin memanjakan anaknya sekali dalam seminggu (bahasanya iklan banget, yak?).


Kalau ngeliat itu semua, gw membayangkan, akan menjadi yang manakah gw di masa mendatang. Andaikata, gw memiliki keluarga sederhana, naik angkot kemana2, bawa anak yang ngoceh terus di jalan, sikap seperti apa yang ditunjukkan oleh seorang ibu Fika?

Apakah yang sabar meladeni..

..atau yang ngomel2 nyuruh diem?


Postingan ini hanyalah arsip dari pikiran2 yang mencuat sendirinya di sela2 keseharian gw.


Nb. Kemarin, ada ibu bawa anak kecil cowok, lucuuu banget. Trus, naik deh ibu lain bawa anak kecil cewek, imut juga. Di jalan, cewek itu ngoceh melulu, daaannn.. si cowok kecil ngeliaatiiin si cewek teruuus... lucuuuuu... kawaii ne...

Ah, gw nggak bisa menahan senyum kalau liat anak kecil lucu imut2 gitu...hihi




09 March 2009

What do you know about smile?




Minggu ini gw mendapat tugas mandiri dari mata kuliah Sistem Sosial Indonesia (terusannya Pengantar Sosiologi) terkait dengan masalah “Kompleksitas Masyarakat Indonesia”. Tiap orang diminta untuk mencari foto terkait dengan kompleksitas baik horizontal maupun vertikal yang terjadi di dalam masyarakat. Kompleksitas horizontal bisa berupa perbedaan etnis, agama, profesi, dll. Sementara kompleksitas vertikal adalah perbedaan kelas sosial, status sosial, jabatan, dll.

Yang mau gw fokuskan di sini adalah saat gw mencari foto untuk kompleksitas vertikal. Gw mencari objek yang menggambarkan (setidaknya) kesenjangan sosial yang ada di sekitar gw. Gw menemukan satu objek yaitu rumah besar bergaya ala Yunani yang dibangun di daerah rumah gw which is adalah daerah rumah kelas menengah ke bawah (it’s honest). Bahkan temen gw yang pernah main ke rumah gw pun melihat kalau rumah besar yang dimaksud itu ‘makan temen’, haha, saking mencoloknya.

FYI, di FISIP UI (nggak tau, deh, mungkin di Fakultas lain juga ada? Atau mungkin di kampuslo?) itu tiap pagi ada anak2 yang menjual koran. Beberapa adalah anak kecil kira2 seusia SD, tapi kalau gw sampai kampus pagi2, maka yang gw temukan adalah anak berseragam SMP sedang menjual koran.

Kalau ada duit, sekali2 gw beli koran sama anak2 tersebut. Akhirnya, dalam bagian dari tugas SSI ini gw dan beberapa temen mau mengambil gambar anak2 tersebut. Sebenernya, gw Cuma mau mengambil gambar ketika salah seorang teman kita membeli koran ke anak2 tersebut, tapi diteruskan dengan kita menawarkan diri untuk memotret anak penjual koran tersebut, lalu apa yang kita dapat?

Inilah senyumnya.

Gw nggak tau apa shutter digicam gw kelewat lambat atau emang begitulah senyum yang anak itu miliki saat ini.

Yeah, what exactly i know about smiles?